Minggu, 22 April 2012

Tantangan dan Hambatan HS Kami

Tak terasa sudah satu tahun anak-anak kami tak sekolah di sekolah formal. Selama kurun waktu tersebut terkadang kami begitu bersemangat, dalam menjalani proses home education  kami,  namun ada kalanya kami merasa ragu-ragu dan tidak bersemangat . Sejak awal kami memutuskan untuk mengHSkan anak-anak kami hingga sekarang ada beberapa hal yang pernah membuat kami ( khususnya  aku, sebagai ibunya ) merasa begitu down dan kurang bersemangat dan boleh dikatakan inilah tantangan dan hambatan dalam proses Home Education kami :


1. Menghadapi reaksi orang-orang disekitar kami.
Mungkin inilah hal pertama membuat kami merasa tidak nyaman..Saat kami harus mendengarkan komentar-komentar miring tentang HS. Tidak sebatas komentar, namun juga perubahan sikap dari orang orang terdekat . Hampir sebagian besar tak mendukung keputusan kami. kalau difikir-fikir hanya suamikulah yang benar-benar mendukung. Kami juga sempat menjadi bahan pergunjingan di lingkungan sekolah, diacara kumpul-kumpul hajatan, sampai sekedar perbincangan ringan di warung. Anak kami juga sering ditanya-tanya sama tetangga. Pada saat itu aku sendiri benar-benar merasa down dan stress juga memikirkannya. Kami dianggap tidak menghargai pihak sekolah, kami , ada yang bilang juga kalau kami ikut aliran tertentu atau aliran sesatlah.  Sedangkan suamiku terkesan lebih cuek. Kalau dilingkungan teman-teman kerja Alhamdulillah biasa-biasa saja, Paling sekedar bertanya dan aku jawab saja seperlunya. Saat bertemu teman kadang ada yang menayakan anakmu kelas berapa, rangking berapa  Untuk menghindari pertanyaan yang berkepanjangan lah, kadang aku jawab sekenanya saja. Yang kami rasa agak berat adalah menghadapi reaksi dari beberapa keluarga dekat kami yang menurutku terlalu berlebihan. Hanya karena HS, silaturahmi merenggang. Tapi suamiku selalu memberi semangat, bahwa yang terpenting bukan kita yang menjauh dari mereka.  Seiring berjalannya waktu kami berusaha untuk tetap semangat, meskipun harus menghadapi berbagai macam reaksi tersebut. Karena kalau hidup ini sibuk mendengarkan omongan orang lain, bagaimana kami akan maju, bagaimana kami akan melangkah yang ada justru kebingungan dan keragua-raguan .
2. Terbatasnya waktu kebersamaan kami dengan anak
Idealnya memang ada salah satu dari kami yang selalu memdampingi dan mengawasi proses home education pada anak-anak kami. Namun karena kami sama-sama bekerja waktu yang seharusnya kami miliki untuk mendampingi anak-anak menjadi terbatas. Setiap hari kecuali hari libur, aku harus ngantor dari jam tujuh pagi hingga jam dua, begitu juga dengan suamiku, meskipun waktu bekerja suamiku lebih fleksibel karena bukan pegawai kantoran, namun tak jarang ada saat-saat dimana kami sama-sama harus meninggalkan rumah untuk bekerja. Mau tak mau anak-anak hanya didampingi oleh Nenek, dan asisten rumah tangga kami. Sebelum kami meninggalkan rumah kami coba memberikan sedikit pesan, arahan kadang-kadang juga tugas pada anak-anak kami. Untuk anak kami yang paling besar, kami beri tanggung jawab lebih untuk membimbing adik-adiknya. Dalam hal ini tugas yang kami berikan tidaklah sama dengan memberikan PR layaknya guru pada muridnya, kecuali memang anak menginginkan . Sebelum kami berangkat kerja kami hanya katakan." Bunda mau berangkat ne, hari ini pada kepingin belajar ngapain?"  Kalau si sulung, 11 tahun kadang-kadang cuma pengin belajar edit photo, belajar ngeblog, ataupun belajar online di IXL Math, sedangkan yang nomor dua lebih senang menggambar, nulis-nulis cerita. Kalau yang nomer tiga lebih meniru kakak perempuannya, suka edit-edit foto dan kadang IXL math juga. Yang nggak pernah ketinggalan selingan game-gamean online nya. Tapi ada kalanya juga minta mengerjakan worksheet,mempraktekkan  percobaan percobaan percobaan kecil dari buku, kadang -kadang juga cuma baca-baca buku.
Karena terbatasnya waktu, maka waktu kebersaaman yang terbatas ini harus benar-benar kami manfaatkan agar benar-benar berkwalitas.
3. Tidak ada yang mengawasi saat anak-anak berseluncur di dunia maya.
Yang ini erat kaitanya dengan yang hambatan nomer dua di atas. Karena kadang-kadang kami harus meninggalkan rumah dalam waktu bersamaan, sementara anak-anak ingin belajar melalui internet, terpaksa anak anak harus lakukan itu tanpa pengawasan orang tua. Meskipun anak mungkin tidak sengaja membuka situs situs dewasa, namun seringkali mesin pencari mengarah pada situs situs untuk orang  dewasa. Untuk yang satu ini kami berusaha tetap memantau baik pada saat itu juga dengan menanyakan melalui handphone, maupun mengecek kembali situs apa saja yang disinggahi.

Sabtu, 21 April 2012

Nabila, Antara Ngeblogg, Chery Bellle dan Realita Musik Anak Indonesia


Seperti sudah diketahui bahwa salah satu dari jenis kecerdasan menurut teori Multiple Intellegensia adalah kecerdasan bahasa ( linguistik ) yaitu  kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekpresikan gagasan. Salah satu stimulus agar anak memiliki kecedasan Bahasa adalah dengan meminta anak untuk menceritakan pengalamannya baik secara langsung maupun mengungkapkan dalam bentuk tulisan misalnya buku harian.
Salah satu bentuk buku harian modern saat ini adalah blog, berhubung anakku Nabila ( 11 tahun ) agak kurang telaten menulis di kertas biasa, maka untuk mendorong dan menstimulasi kecedasan bahasanya, saya sarankan untuk belajar membuat blog. Dan anakpun kelihatan tertarik, meskipun tadinya bingung mau nulis apa. Untuk langkah-langkah membuat blog, anakku tidak mengalami kesulitan hanya tinggal mengikuti langkah-langkahnya saja. Alhasil lahirlah blog anakku yaitu  Aku Punya Blog'ss. Blog ini murni bikinan anakku, memang sih bentuknya masih sederhana  banget. Untuk mempercantikpun anakku mengotak atik sendiri dan mencari scrip scrip sendiri . Hanya sayang untuk isi blognya sendiri masih ambil dari buku-buku yang ada di rumah maupun dari blog-blog lain. Isinya pun hanya resep resep sederhana, lirik-lirik lagu Cherry Belle, karena kebetulan ngefans berat sama girlband yang sedang in yaitu Cherry Belle. Sebenarnya sebagai orang tua merasa prihatin juga, kenapa harus Cherrry Belle yang notabene adalah girlband remaja yang jadi idolanya, dimana sebagian lagu-lagunya bertemakan cinta dan  orang dewasa sedangkan usia anakku saat ini belum menginjak remaja. Bukan hanya Nabila saja yang suka benget dengan grup ini, bahkan kedua adiknya , jauza ( 5 th ) dan Fatih ( 8 th ) juga ikut-ikutan ngefans .Hal ini karena adanya tayangan di TV yang begitu gencar menyiarkan dan memutar lagu-lagu dewasa, khususnya lagu-lagu Chery Belle ini. 
Kepengin banget mengalihkan kesukaan mereka ke musik atau lagu -lagu lain yang sesuai dengan usia mereka, seperti lagu-lagu di PELANGI NADA, namun sepertinya tidak mudah karena mereka sudah terlanjur menyukai lagu-lagu dewasa. Andai aku mempunyai waktu yang lebih untuk mengawasi mereka dalam menonton tayangan-tayangan di TV ?..



Minggu, 15 April 2012

Merubah Kebiasaan Buruk Sedikit demi Sedikit

Sebenarnya di awal tahun 2012 banyak sekali  rencana yang sudah tersusun dalam benakku.Banyak hal yang ingin aku lakukan untuk menjadi lebih baik. Karena selama ini aku merasa belum maksimal dalam menjalankan tugas tugasku sebagai kepala ibu rumah tangga maupun manusia pada umumnya. Banyak sekali kebiasaan-kebiasan buruk yang masih sulit aku tinggalkan. Kebiasaan buruk serta akibat yang ditimbulkan itu antara lain:


1. Senang begadang, susah bangun pagi, akibatnya tidak bisa menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dengan tepat waktu, tidak bisa makan bersama anak-anak,nggak sempat sarapan di rumah dan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli sarapan, tidak sempat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring mencuci baju sendiri membereskan rumah,sehingga terpaksa harus mempunyai asisten rumah tangga untuk menyelesaikannya, tidak sempat berolahraga ,  tidak maksimal dalam memberikan ASI pada si kecil karena terburu buru , berangkat kerja kesiangan,mengantuk di tempat kerja , anak-anak jadi ikut -ikutan bangun kesiangan dan lain sebagainya yang jika dirunut akibatnya  akan cukup panjang.
2. Sering menunda-nunda pekerjaan. Pekerjaan yang harusnya bisa dilaksanakan seringkali di tunda tunda karena merasa belum begitu mendesak, akibatnya bila pada saat seharusnya waktu bisa dimanfatkan untuk mendampingi anak-anak belajar, justru digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tersebut, apalagi jika tiba - tiba harus menyelasaikan suatu pekerjaan yang harus deselesaikan saat itu juga makin menumpuklah beban pekerjaan yang harus diselesaikan.
3. Sering menyia-nyiakan waktu, dengan kegiatan kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti game-game an terlalu lama, OL fesbukan terlalu lama,menonton tayangan televisi yang tidak penting, ngerumpi, nggosip dan lain-lain  padahal satu detikpun waktu yang sudah lewat tak akan kembali. Terkadang saat malam tiba baru terasa dan muncul pertanyaan dalam diriku, " Hari ini aku sudah berbuat apa ?" Apa yang sudah aku lakukan untuk keluargaku, anak-anakku. suamiku?"
Ingin sekali merubah kebiasaan -kebiasan buruk tersebut, sedikit demi sedikit . Dan di awal tahun 2012 ini akupun sudah mencatat hal-hal yang ingin aku lakukan, dari hal-hal yang mungkin kecil. Untuk langkah awal mungkin cukup satu hal dulu yang ingin aku kerjakan, yaitu " Sarapan pagi di rumah". Aku memilih hal ini dengan pertimbangan bahwa kalau aku ingin sarapan pagi di rumah, otomatis aku harus bangun lebih pagi karena harus memasak dulu sebelum berangkat kerja, bisa saja sih aku bangun agak siangan dan berangkat kerjanya yang menjadi telat, tapi tak mungkin aku lakukan tiap hari, karena lama-lama pastilah nggak enak sama teman-teman kerja. So, targetnya nggak muluk muluk..cukup di coba satu minggu dulu...






Kamis, 29 Maret 2012

Satu Tahun Home Education Kami

Captureki

Setelah itu membuat anak-anak kami benar-benar nyaman dan senang menjalani proses pebelajaran di rumah.( keluarga ) . Dan alhamdulillah anak-anak kami sangat menikmati proses pendidikan berbasis keluarga ini. Karena tahun pertama adalah tahap peralihan dari sekolah formal ke nonformal homeschooling  jadi untuk tahun ini kami juga tidak membuat jadwal kegiatan yang terstruktur untuk anak kami.
Untuk kegiatan yang sudah  rutin kami lakukan adalah renang, setiap hari Sabtu, berkumpul dengan keluarga homeschooling di Purbalingga setiap hari Senin dan Rabu. Kegiatan kumpul-kumpulpun masih belum terstruktur, terkadang belajar ketrampilan memasak, kadang beladiri,pergi ke perpustkaan  kadang hanya sekedar main-main dan bertemu teman . Tapi anak anak kelihatan menikmati dan senang, terbukti apabila nggak bisa berangakat karena suatu hal anak-anak terlihat cemberut dan BT. Untuk kegiatan di rumahpun masih sesuka hati. Untuk Nabila, anakku yang paling besar lebih menyukai belajar edit-edit foto, belajar ngeblog, tentu saja selalu diselingi dengan main game. Sedangkan Fatih lebih senang dengan menggambar dan baca-baca komik.Untuk Jauza hampir seperti kakak perempuannya, lebih suka editing photo, game-game perempuan, disamping itu IXL Math dan Starfall juga situs faforit Jauza. Apalagi kemarin dapat kesempatan berlangganan  IXL Math dengan biaya sangat murah, cuma seratus ribu satahun melalui Ibu  Septi Peni Wulandani. Padahal biasanya bisa sampai dua ratusan ribu sebulan. Lumayan bisa kerjakan soal-soal matematika sampai puas, meskipun cuma daftar satu akun untuk bertiga.
Sudah hampir satu tahun kami menjalankan proses Homeschooling pada anak-anak kami. Kalau mau mengukur apakah kami bisa dikatakan sukses ataukah gagal, mungkin terlalu awal. Karena ukuran kesuksesan sendiri berbeda-beda, tergantung masing masing orang. Untuk tahun inipun kami tidak mentargetkan anak kami harus bisa ini atau bisa itu. Yang terpenting bagi kami adalah memantapkan hati kami dulu agar tak setengah-setengah dalam menjalankan Homeschooling pada anak-anak kami.


Rabu, 28 Desember 2011

Jawaban Tentang HS Kami ( 2 )



Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya, Jawaban Tentang HS Kami ( 1 ).
6. Bagaimana sosialisasinya, bagaimana pergaulannya ?
Anak Homeschooling belajar dari siapa saja, tak ada batasan dalam pergaulannya. Bisa dengan orang dewasa sebaya maupun dibawahnya. Alhamdulillah sampai sekarang anak-anakku masih suka disamperin sama teman-temannya baik sebaya maupun dibawahnya. mengenai pergaulan justru kami agak prihatin dan khawatir melihat berita-berita tentang  pergaulan anak-anak sekolah jaman sekarang.
7. Bagaimana Ijazahnya nanti..bagaimana masa depannya,
Saat ini memang ijazah dianggap harga mati untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Ijazah selalu dihubungkan dengan pekerjaan dan Kesuksesan,dan Kesuksesan sendiri masih banyak diidentikkan dengan banyaknya  kekayaan materi, jabatan dan sejenisnya. Namun tiap keluarga mempunyai penillaian yang berbeda dalam memandang sebuah kesuksesan. Namun demikian bukan berarti kami menganggap bahwa ijazah tidak penting bagi kami, namun ada hal yang mungkin lebih penting yaitu skill. Mungkin bagi yang bercita-cita ingin menjadi PNS ijazah mutlak diperlukan. Untuk anak Homeschooling ijazah  bisa didapatkan melalui ujian kesetaraan paket.  Dan saat ini memang peraturan pemerintah masih belum berpihak kepada praktisi Homeschooling yang menginginkan ijazah bagi anak-anaknya. Saai ini kami sedang mencari informasi sebanyak-banyaknya dan mempertimbangkan untuk mencari alternatif lain selain mengikuti ujian paket., semisal dengan mengikuti ujian Cambrige. Hmm..Kelihatannya memang keinginan yang muluk, melihat bahwa kami hanyalah lulusan SMA yang Bahasa Inggrisnya juga minim. Namun kami berusaha optimis dan senantiasa belajar dan terus belajar. Inilah enaknya Homeschooling, orang tua dituntut untuk ikut belajar bersama anak-anak.
Smile

Kamis, 15 Desember 2011

Jawaban Tentang HS Kami ( 1 )

?Hampir setiap keluarga HSbaru akan menghadapi beragam reaksi dari lingkungan sekitar, entah itu keluarga, teman kerja, tetangga maupun sekolah ( bagi keluarga HS yang tadinya menyekolahkan anaknya di sekolah formal ).Begitu juga yang dialami keluarga kami.  Saat kami memutuskan banyak pertanyaan-pertanyaan ditujukan kepada kami. Dan berikut adalah pertanyaan maupun pernyataan yang sering kami terima :

1. Homeschooling di mana ?
Pertanyaan ini timbul karena pengertian Homeschooling di masyarakat sendiri masih rancu. Sebagian besar masih mengangggap bahwa Homeschooling adalah sebuah lembaga. Sedangkan menurut informasi yang kami dapat dari praktisi Homeschooling, Homschooling bukanlah sebuah lembaga. Homeschooling ( Home Education ) adalah ketika keluarga memilih untuk bertanggung jawab dan menyelenggarakan sendiri pendidikan anaknya dan tidak mengirimkan anaknya ke sekolah. Di Indonesia sendiri memang banyak lembaga yang mengatasnamakan Homeschooling, yang sebenarnya lebih tepat dinamakan Bimbel, Kursus dan lain-lain.
3. Siapakah gurunya, trus anaknya ngapain aja di rumah..
Ada yang beranggapan bahwa Homeschooling adalah hanya memindahkan proses belajar mengajar ke rumah ( school at home ) sehingga dalam bayangannya orang tua mendatangkan guru prifat ke rumah. Dalam Homeschooling keluargalah yang menjadi pusat atau fokus. Orang tua mungkin bukan ahli segala-galanya. Namun peran orang tua disini adalah memfasilitasi mengarahkan hingga anak-anak bisa betul-betul bisa jadi pembelajar yang mandiri..Bisa saja orang tua memanggil guru atau yang ahli dalam bidang tertentu apabila diketahui anak memang sangat berminat pada suatu bidang dan orang tua memang tidak menguasainya. Apa yang dilakukan anak anak di rumah ? Tentu saja banyak hal yang bisa dilakukan. Anak Homeschooling bisa belajar kapan saja dimana saja. Setiap momen adalah pembelajaran, hal-hal  kecil yang  mungkin dianggap sepelepun bisa dijadikan proses belajar Dari melihat matahari sampai melihat seekor cicakpun bisa dijadikan obyek pembelajaran. Belajarpun bisa dengan apa saja, bisa bermain game, membantu masak di dapur, mencuci piring, bermain airpun adalah belajar, bisa belajar matematika, IPA, Agama, PPKN, secara langsung pula. ( Jadi ingat dulu pas anakku masih di PAUD, ada juga kegiatan main air, cuci piring, piring plastik, Alhamdulillah kalau sekarang sih cuci piring beneran juga dah bisa )
4. Oh..yang kayak artis itu ya..berarti orang kaya dong bisa ikut Homeschooling..Gajinya berapa ya.?..
Ada yang beranggapan bahwa Homeschooling adalah untuk orang kalangan tertentu, semisal  artis. Bagi kami sendiri tak terlintas untuk mengHSkan anak-anak karena ikut-ikutan kayak artis. Terlalu berat kalau sekedar ikut-ikutan. Sebenanya biaya Homeschooling sangatlah fleksibel tergantung kondisi masing-masing keluarga. Karena dalam Homeschooling tak ada ketentuan dalam menentukan sarana belajar. Bisa menggunakan buku bekas, internet maupun belajar dari keseharian. Disinilah perbedaanya dengan sekolah. Mungkin di sekolah kita diwajibkan membayar uang Gedung dan sejenisnya, yang nantinya akan digunakan untuk membangun sarana olahraga, membeli  alat drumb Band ataupun alat musik. Jika anak kita memang berminat pada bidang-bbidang tersebut, mungkin akan berasa manfaatnya. Namun jika anak kita ternyata mempunya minat yang berbeda hal itu tentu kurang bermanfaat bagi anak kita. Sedangkan di Homeschooling, biaya yang  dikeluarkan bisa langsung digunakan untuk keprluan anak sesuai denagn minat dan bakatnya.
5. Kalau saya mending dijalani dua-duanya, ya Sekolah ya Homeschooling.
Kami pernah mendengar hal itu dari seorang teman . Mungkin maksudnya adalah anak tetap bersekolah ( sekolah formal) sesudah pulang anak belajar di rumah. Menurut artikel yang pernah kami baca, ( artikel lengkap bisa klik disini ) salah satu substansi Homeschooling adalah bahwa Homeschooling adalah pendidikan alternatif ( bukan sekolah ) . Jadi ketika anak-anak masih menjalani sekolah formal, meskipun sesudah di rumah ia belajar dengan metode-metode ala Homeschooling tidaklah bisa dikatakan Homeschooling. Orang tua yang menyekolahkan anaknya berarti bukan Homeschooling, Homeschooling adalah Homeschooling, sekolah adalah Sekolah.( bersambung )

Minggu, 20 November 2011

Belajar Menulis Cerita

 Pada awalnya, anakku Fatih hanya melihat dan membaca cerita yang aku peroleh dari Indonesia  Bercerita, Mendidik Melalui Cerita. Kemudian ia tertarik untuk menulis cerita sendiri dan katanya sih ingin mengirim cerita juga. Dan inilah cerita yang dibuat oleh Fatih. Tulisan ini aku tulis, tanpa aku sunting, untuk menghargai karyanya sendiri walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan . Ceritanya berjudul “ Nenek Baik Hati “
“NENEK BAIK HATI “
Pada suatu ketika ada seorang nenek. Nenek itu bekerja di hutan.Nenek itu setiap harinya mencari kayu bakar untuk dipasarkan. Kebetulan nenek sedang membawa buah-buahan. Nenek itu melihat ada seorang anak tengan menangis keras.” Hu..hu..Hiks “ Nenek itu berkata “Kenapa kamu na, kenapa kamu sendirian ? “Saya tidak tahu orangtua saya siapa dan dimana Hu..hu..” anak itu tetap menangis” Sudah-sudah jangan menagis” nenek itu berkata,”Yuk ke rumah nenek nanti nenek kasih makan kamu, ya na” Terimaksih” “ Iya” Nenek dan seorang anak itupun berjalan hingga sudah dekat.. “Nanti kita mau makan apa “ Kata nenek itu. “nasi saja Nek, “Iya” Nenek itupun tiba dihalaman rumah nenek. “itu rumah nenek” “iya” Walaupun rumah nenek kecil tapi kamu jangan kuatir ya, nenek sudah menyiapkan makan siang . Nenek sudah memberi nama anak itu yaitu Adi. Adi yang dari tadi lapar langsung makan lahap-lahap. Nenek teyartawa melihat perilaku Adi, Ha..ha..ha. Pada suatu hari nenek memasarkan kayu yang kemarin nenek cari. Sebelum nenek itu berangkat, nenek tidak lupa memberi pesan “Di, nanti kamu baik-baik di rumah Ya. “ Ya nek “ Adi menjawabnya. Nenek berangkat ke pasar, diperjalanan nenek melihat kesamping ternyata ada pengemis. Pengemis itu berkata, “Tolong saya, saya belum makan tiga hari . Mengasihani nenek itu nenek memberi 5  pisang kepada pengemis. “ Nih” Ketika sampai nenek menjual kepada seorang pedagang” Itu kayunya berapa harga semua ? Rp. 100 ribu” boleh dikurangi harganya ? “ Boleh Rp. 50 ribu ? “Ya”Nenek pulang membawa oleh-oleh untuk Adi. Ketika nenek sampai nenek memberikan oleh-oleh itu kepada Adi. Adi senang sekali, nenekpun ikut senang, Sampai adi sudah menikah dengan perempuan cantik dan sampai Adi mempunya anak Adi tetap mengingat nenek dan Adi meniru perbuatan nenek dulu.
Begitulah cerita nenek dan Adi. Nenek baik hati, Adi menceritakan hal ini kepada istri . Pada suatu hari adi akan ke kantor, mau kerja Adi pamit pada istrinya Sinta. saat Adi mengemudi mobil Adi sangat lapar. Adi mampir restoran Adi bukannya beli Hodog, Hamburger malah Adi beli nasi uduk dan air putih karena Adi mengingat nenek dulu membawakan nasi uduk dan segelas air putih. Setelah Adi makan Adi kenyang, “ Ah kenyang..Adi melanjutkan perjalananya . Adi selalu ingat nenek. Nenek Adi bernama Surni. dan Adi juga selalu menjenguk makam nenek Surni Almarhum. Adi sudah sampai, ada Satpam yang sedang memarahi nenek-nenek Adi menghampiri Satpam itu. Maaf pa, ini neneknya jangan dimarahain, kasian dong, emangnya ada salah apa, “ Ia bertanya. Ini tadi dia bilang, dia bilang ia nenek bos. “ Kata satpam itu. “ Oke, siapa nama nenek ? “ Sarti “ Kemudian Adi mengajak nenek itu ke kantornya . " Ayo makan dulu, kata Adi. " Terima kasih na" " Sama-sama nek, Adi juga senang bisa membantu"