Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2012

Melatih Kemandirian Anak

Bongkar Lemari baju
Terkadang kami merasa prihatin dengan remaja-remaja sekarang yang   cukup pintar di sekolah, tetapi tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari. Kelihatannya memang sepele dan tidak penting. Tapi nyatanya banyak anak usia SMP bahkan mungkin SMA jaman sekarang hanya sekedar mencuci baju atau memasak makanan sederhana saja ternyata tidak bisa. Hal ini bisa saja terjadi karena sejak kecil mereka tidak dilatih untuk melakukan sesuatu tanggung jawab pekerjaan
. Terkadang orang tua terlalu memanjakan karena, segala sesuatu dilakukan oleh pembantu rumah tangga. Anak hanya ditugaskan untuk belajar-dan belajar demi untuk mendapatkan nilai yang sebagus-bagusnya di sekolah , dan melupakan pelajaran yang tak kalah penting ,yaitu keterampilan hidup.
Dulu sewaktu kami kecil, kelas lima SD saja sudah diberitanggungjawab untuk mencuci , menyetrika baju sendiri. Memang sih aku masih ingat betul pada saat itu aku juga ogah-ogahan dan sering jawab, nanti..nanti,,jika disuruh melakukan sesuatu hal, tapi lambat laun kami merasa terbiasa dan justru belum tenang kalau belum melakukan tugas yang menjadi tanggung jawab kami.
Kami pun berusaha mengajarkan hal yang sama pada anak-anak kami. Tentu saja sesuai dengan usia mereka. Untuk itu kami berusaha me libatkan anak-anak dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, hal ini juga kami lakukan untuk melatih kemandirian anak. entah itu memasak, mencuci piring, menyapu lantai dan lain-lain. Melihat anak – anak mencuci piring bareng –bareng jadi teringat saat anakku sekolah di PAUD dulu. Di PAUD itu pun ada kegiatan cuci-cuci tapi pakai piring plastik. Dan untuk itu kami harus bayar biaya bulanan, Alhamdulillah tanpa biaya sedikitpun sekarang kami juga bisa lakukan itu di rumah, bahkan langsung praktek pakai piring dan gelas betulan.
Kalau sedang mood nya bagus ya mereka melakukan dengan penuh semangat, meskipun tak kami suruh. Tapi jika lagi nggak mood ya paling hanya iya..iya..nanti..nanti..tanpa dikerjakan. Memang sih, keluarga kami mempunyai asisten rumah tangga, tapi kami berusaha untuk tidak mengandalkan sepenuhnya semua pekerjaan rumah tangga kami. Kami berusaha kerjakan apa yang kami sempat bersama anak-anak.

Selasa, 01 Mei 2012

Berbagai Gaya Orang Tua Dalam Pengasuhan Anak

Artikel Copas, tulisan ini sudah beberapa kali saya baca, di catatan Fesbuk teman, di blog teman, dan rasanya nggak ada bosan bosannya aku baca karena setelah baca tulisan ini jadi lebih bisa instropeksi diri, termasuk gaya yang manakah dalam pengasuhan anak-anak kita selama ini ? 
Dicuplik dari tulisan Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan "mis-education" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind(1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:
Gourmet Parents-- (ORTU B0RJU) Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak.Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka "superkids" merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknya baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua "gourmet " atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.
College Degree Parents --- (ORTU INTELEK ) 
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka "Superkids ", apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.
Gold Medal Parents --(ORTU SELEBRITIS ) 
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan merijadi "seorang Bintang Sejati ". Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik ketika anak-anak mereka masih berusia TK. Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta. Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar.Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik" Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka! Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik "Joshua" yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang "superkid" --seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film....
Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya "Superkids" --earlier is better". Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompokpenyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.
Outward Bound Parents--- (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep "Superkids". Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya "Karate, Yudo, pencak Silat" sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi "steril"
dengan lingkungannya.
Prodigy Parents --(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, narnun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya. Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka
sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang "Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca"karangan Glenn Doman , atau "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika" karangan Siegfried, "Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang" karangan Therese Engelmann, dan "Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca DalamWaktu 9 Hari" karangan Sidney Ledson.
Encounter Group Parents--( ORTU NGERUMPI )
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-­anak dengan berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak.Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai "Superkids" juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yangdiharapkan.
Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Kelompok ini tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan "miseducation" dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh  perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan
musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik! Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak.Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan
terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita" (destoyevsky' s brothers karamoz)

Sabtu, 19 November 2011

Tak Ada Kedewasaan Instan

Jasmine
Sesungguhnya, taraf kemampuan kognitif anak bertingkat-tingkat secara hierarkis. Dan pendidikan berkewajiban mengantarkan setiap anak agar mampu mencapai taraf kognitif yang setinggi-tingginya. Taraf paling rendah adalah pengetahuan. Ini merupakan kemampaun untuk mengetahui, mengenal dan mengingat apa-apa yang sudah ia pelajari. Ia bisa mengulang kembali dan menyampaikan kepada orang lain. Di negeri ini, pelajaran di kelas dan ujian di sekolah kerapkali hanya menakar kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan.


Berbagai teknik atau trik yang banyak diperkenalkan (lebih jelasnya: dijual) kepada masyarakat umumnya sebatas membantu anak mencapai kemampuan kognitif terendah. Bukan mengembangkan kemampuan berpikir. Lebih-lebih cara berpikir, umumnya hampir tak tersentuh. Tetapi inilah yang paling mudah kita lihat: atraksi kebolehan dan demonstrasi yang menunjukkan perubahan cepat luar biasa. Karena terpukau, kita kemudian kehilangan daya berpikir kritis tatkala para trainer itu mengatakan bahwa trik-trik tersebut membangun karakter anak! Padahal yang dimaksud bukan karakter. Yang dimaksud hanyalah sebatas kemampuan kognitif.

Karakter lebih banyak berkait dengan kualitas personal pada diri seseorang. Karakter bermula dari kesadaran terhadap nilai-nilai (bukan sekadar tahu atau bahkan paham), partisipasi atau kesediaan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan barulah kemudian sampai pada tingkat karakterisasi diri.

Yang dimaksud dengan penghayatan nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya. Sedangkan pengorganisasian nilai merupakan kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya. Sampai pada tingkat ini, karakter masih belum terbentuk. Karakterisasi baru terjadi apabila seseorang telah mampu memilih nilai sebagai gaya hidup (life style) dimana sistem nilai yang terbentuk mampu mengawasi tingkah lakunya.

Jadi, ada proses panjang sebelum terbentuk dalam diri seseorang. Ia bukan sekedar keterampilan. Ia merupakan perwujudan nilai-nilai yang mempengaruhi pikiran, cara pandang, penghayatan dan gaya hidup kita. Ia menjadi penakar dalam menentukan sebuah tindakan terkait dengan patut atau tidak, mulia atau hina. Ia berangkat dari kesadaran. Bukan pengetahuan. Kesadaran merupakan tingkat terendah dari kemampuan afektif. Sedangkan tingkat terendah kemampuan kognitif adalah pengetahuan (knowledge). Ini berarti, sekadar pintar tak berpengaruh pada karakter.

Setingkat di atas pengetahuan adalah pemahaman (understanding). Pada tingkat ini –tingkat terendah kedua dalam kemampuan kognitif—anak mengerti dengan baik apa yang dipelajari. Kemampuan ini bukan semata karena anak belajar, tetapi karena pendidik memang memahamkan. Bukan sekadar menyampaikan sejelas-jelasnya sehingga anak mengingat dengan baik dan mampu menyampaikan kembali secara gamblang. Pendidik perlu secara serius merangsang kemampuan berpikir anak sehingga mereka memahami dengan baik apa yang diterangkan.

Yang perlu kita catat, pemahaman tidak berpengaruh terhadap perilaku. Pemahaman baru akan bermanfaat menuntun dan mengarahkan perilaku anak-anak kita, jika mereka telah menghayati nilai-nilai agama ini dengan baik. Sangat berbeda, menghayati dengan memahami.

Itu pula yang menerangkan mengapa anak yang telah memahami baik-buruknya sesuatu, tidak berubah perilakunya. Kecerdasan mempengaruhi kemampuan mengingat, mencerna dan memahami sesuatu. Sedangkan keyakinan mendorong orang untuk menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya, meskipun bertentangan dengan pemahamannya.

Kembali pada jenjang-jenjang kemampuan kognitif. Setingkat di atas pemahaman adalah penerapan (aplikasi), yakni kemampuan menggunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata. Ini bukan berurusan dengan keyakinan. Ini erat kaitannya dengan kecakapan untuk menerapkan apa yang telah ia ketahui. Shalat misalnya. Anak bisa melakukan shalat dengan sangat baik bukan karena yakin dan suka, tetapi karena ia memahami betul tata-cara shalat yang baik.

Jenjang kemampuan berikutnya adalah analisis. Berbekal pemahaman yang baik dan mendalam atas berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan sekaligus (pernah) ia praktikkan, seseorang bisa mencapai kemampuan analisis. Ia mampu menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Jika kemampuan ini berkembang lebih lanjut, ia akan sampai pada taraf kognitif yang lebih tinggi, yakni sintesis. Ini merupakan kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti. Ia mampu menemukan benang merah berbagai pengetahuan yang berserak menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.

Tingkat tertinggi kemampuan kognitif adalah penilaian. Bukan menilai orang dari apa yang tampak, melainkan kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan yang ditetapkan terlebih dahulu, baik bersifat internal maupun eksternal. Di tingkat inilah seseorang mencapai tingkat pemahaman yang mendalam. Kemampuan ini barangkali lebih dekat dengan makna faqih. Bukan sekadar faham. Dan amat sedikit orang yang mencapai kemampuan ini.

Cerdas & Terampil Belum Mencukupi
Apakah anak-anak sudah cukup berharga jika mereka mencapai kemampuan kognitif yang tinggi? Cerdas saja tidak cukup. Alangkah banyak anak-anak yang cerdas tetapi miskin keterampilan. Lalu, apakah cerdas dan terampil telah cukup untuk membekali mereka meraih sukses? Jangankan untuk akhirat. Sukses dunia pun tak cukup hanya berbekal cerdas dan terampil. Bahkan kejeniusan pun tak menolong mereka.

Mari kita ingat sejenak salah satu jenius besar yang pernah lahir di muka bumi. Namanya William James Sidis. Bapaknya –seorang profesor—adalah pengagum besar William James, tokoh psikologis behaviorisme yang yakin betul bahwa pembiasaan merupakan kunci terpenting pendidikan.

Sejak usia 6 bulan, ayahnya telah mengajarkan kepadanya huruf-¬huruf sesuai urutan abjad. Sesudah itu, ayahnya mengajarkan ilmu bumi, ilmu ukur, ilmu tubuh manusia, dan bahasa Yunani berdasarkan buku ajar yang dipakai di sekolah. Hasilnya, usia lima tahun William James Sidis telah mampu menyusun karya ilmiah tentang anatomi. Kejeniusannya berkembang sehingga pada usia 11 tahun ia telah menjadi mahasiswa di Harvard University dan usia 14 tahun telah mampu memberi kuliah.

Tetapi kecerdasan tanpa kemampuan mengelola diri, tak cukup untuk membuatnya bahagia. Ia kemudian melarikan diri dari lingkungan yang mengelu-elukannya. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran karena kecerdasan tak bisa membuatnya bahagia.

Sesungguhnya ada tiga potensi manusia yang berbeda-beda tingkat kemudahannya membentuk. Yang paling sulit adalah karakter, sesudah itu motivasi dan yang paling mudah adalah kemampuan kognitif serta keterampilan. Jika seseorang memiliki karakter yang kuat, mudah baginya untuk memperoleh kemampuan kognitif maupun keterampilan yang tinggi. Dan inilah yang harus kita perhatikan saat mereka belia. Inilah yang menjadi perhatian di berbagai belahan bumi yang menghargai betul arti sumber daya insani.
Bagaimana dengan Anda? 

Sumber : SUARA HIDAYATULLAH, JUNI 2010

 

Sabtu, 17 September 2011

Rasa Ingin Tahu Anak

Manusia mempunyai sifat serba  ingin tahu sejak awal kehidupannya. Rasa ingin tahulah yang membuat anak bertambah pengetahuannya. Papatah mengatakan awal dari limu pengetahuan adalah pertanyaan. Tak hanya pengetahuan yang bertambah, dengan bertanya juga mengantarkan manusia sampai kepada kebenaran. Nabi Ibrahim bertanya siapakah Sang Pencipta, apakah bintang, bulan ataukah matahari ? Pencarian jawaban tersebut mengantarkannya pada kebenaran sejati.

Para ahlibpendidikan mengatakan , salah satu ciri anak cerdas adalah memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Anak yang cerdas akan bertanya bertanya banyak hal, kerena dia memang ingin tahu jawabannya. Biasanya jika anak tersebut bertanya , dia nakan mengejar jawaban orangtuanya dengan pertanyaan lanjutan , sampai kadang orang tua merasa kewalahan dalam menjawabnya.

Anak 2-3 tahun sering bertanya apa ini dan apa itu.Pada usia tersebut anak masih menambah perbendaharaan kata akan nama-nama benda. Semakin orang tua menjawab, maka  anak semakin  mengenal benda . Menginjak usia antara 3-4 tahun , anak mulai bertanya mengapa bigini dan mengapa begitu. Anak mulai belajar sebab akibat. Dengan memberi penjelasan yang akurat, kemampuan anak akan terbangun. Saat anak bertnya dia sedang membuka pintu otaknyaagar dapat memasukkan pengetahuan ke dalamnya.

Pada awalnya anak memuaskan rasa ingin tahunya dengan bertannya pada orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Jika orang tua menjawab dengan benar sertas bersemangat

dan menyenagkan saat menjawab maka ia akan menjadikan  orsng tua sebagai rujukan utamanya. Sebaliknya jika orang tua tidak menanggapi , atau bahkan mentertawakan pertanyaan anak , maka lama-lama anak tidak berminat untuk bertanya pada orangtuanya.

Jika hal itu terjadi maka akan sangat berbahaya . Belakangan ini tehnologi informasi berkembang sangat pesat. Mau bertanya apa saja tersedia mesin opencari informasi semacam  "Google "yang siap menjawab apa saja , menampakkan gambar apapun, atau menayangkan berbagai cuplikan video , tanpa pandang bulu anak berapa tahun  yang bertanya.

Banyak kasus  meski anak tidak berniat mencari nformasi yang negatif , namutn yang keluar adalah tayangan informasi yang tidak sesuai dengan usianya. Boleh saja anak diperkenalkan dengan tehnologi informasi dalam memuaskan rasa ingin tahunya, namun jangan lupa orang tua harus senantiasa mendampingi dan memberikan pengawasan agar anak tidak terpengaruh efek negatif dari internet. Smile

 

( diambil dari Suara Hidayatullah )

Sabtu, 13 Agustus 2011

Penularan Emosi



Seorang ibu baru saja pulang dari tempat kerjanya dalam keadaan lelah. Urusan dan pekerjaan kantor yang menumpuk masih menggelayuti pikirannya. Perjalanan dari tempat kerja yang cukup jauh dan macet membuat tubuhnya kian terasa lelah.
Dengan lunglai ia membuka pintu rumahnya. Terpampanglah ruang tamunya yang berantakan . Baru selangkah kakinya masuk ke ruangan , kedua anaknya berhamburan menyambut dan seakan berlomba berbicara minta ini dan itu.

Si ibu makin merasa pening, ahirnya masuk kamar dan mengunci diri di kamar . Ia benar-benar lelah , dan iapun merebahkan tubuhnya. Didengarnya anaknya yang paling kecil teriak-teriak sambil memukul-mukul pintu kamar. Pembantunya membujuk dan menghiburnya. Si ibu sebenarnya merasa iba mendengar tangis anaknya, dalam hatinya berkata , “ Maafkan ibu, Nak ! Ibu perlu istirahat sebentar agar bisa bernain lagi dengan kalian.”
Mungkin banyak ibu pekerja yang mengalami pengalaman serupa. Karena lelah si ihu kurang peduli dengan anaknya yang seharian di tinggalnya. Ia berharap anak-anaknya dapat mengerti kondisinya.
Namun, ibu tersebut lupa bahwa sikapnya itu akan meninggalkan jejak di otaknya hingga dewasa nanti. Jika ibu dalam keadaan capek, bermuka masam, sibuk dengan diri sendiri, dan tak peduli pada sekitar , maka tanpa disadari otak anak tersebut akan mencatatnya, “ Oh, kalau sedang capek tidak boleh peduli pada orang lain,  “ Apalagi jika ibu sampai terpancing sehingga ia berkata , “ Sudah ! Bisa diam tidak, ibu lagi capek !”
Jika hal itu sering dilakukan ibu , suatu saat ketika anak sudah dewasa, kemudian sedang capek, dan banyak pekerjaan, lalu ibu bertanya maka sang anak bisa berkata , “ Ibu bisa diam tidak, saya lagi capek !’ Mungkin si ibu sakit hati pada anaknya, padahal dulu ibulah yang menanamkan sikap tersebut pada anaknya.
Akan tetapi , jika ibu dsalam keadaan capek , tapi masih ada sisa tenaga untuk berjalan dan berbicara dengan kalian . Capek bisa hilang kalau kita istirahat ,makan dan minum.” Ataupun perkataan lain yang bisa membuat anak-anak memahaminya, maka anakpun akan meniru sikap seperti itu.
Saat lelah penting bagin ibu untuk mengelola diri agar jangan sampai terpancing emosi. Sebab emosi bisa menular. Daniel Goleman dalam bukunya Sosial Intelligence menyatakan bahwa di dalam otak terdapat banyak syaraf cermin ( mirror neuron ) yang dapat memantulkan aktifitas sel otak orang lain. Sehingga tanpa disadari manusia akan saling menyalin ekspresi wajah, pola nafas, dan gerakan tubuh orang lain.
Jika ibu dalam keadaan lelah dan marah berhadapan dengan anak, maka perasaan tersebutaakan menjalar pada anak, sehingga ia bisa balik mengekspresikan kemarahannya pada sanag ibu. Akibatnya ibu tentu akan merasa tidak senang atau tidak nyaman.
Karena itu jika ibu dalam keadaan lelah masih bisa tersenyum dan bersikap ramah , maka anakpun akan tetap merasa nyaman . Pancaran kebahagiaan di wajah ibu juga akan menular pada sang anak . Sehingga anak akan memiliki konsep di pikirannya bahwa ibu adalah sosok yang menyenangkan dalam situasi apapun. Hubungan ibu dan anak pun akan terjalin indah.

( sumber : Ida S. Widayati, Suara Hidayatullah )

Selasa, 31 Mei 2011

Ungkapan Positif

Picture0001
“Terima kasih sudah hadir di keluarga kami. Kami sangat berbahagia, Adek adalah bayi yang sangat cocok untuk ibu,”ujar ibu sambil mendekap bayinya.
“ Jika aku sakit, terus lihat bayi, sakitku jadi hilang” Ucap sang kakak pada adeknya.
Ungkapan-ungkapan di atas dinyatakan oleh keluarga yang sangat berbahagia karena kehadiran sang bayi. Kebahagiaan itu kerap diungkapkan dalam berbagai ekspresi atau ungkapan positif. Mereka seolah berlomba menyatakan perasaan masing-masing pada sang bayi.
Bagi orang-orang yang jarang mengungkapkan  perasaanya mungkin ucapan-ucapan seperti itu kedengarannya berlebihan . Namun sesungguhnya banyak manfaat dari sikap seperti itu. Jika sekeluarga senantiasa menyatakan perasaan positif seperti rasa bahagia, kasih sayang, dan ungkapan syukur, maka hal ini akan mempererat ikatan emosional dan keakraban diantara anggota keluarga tersebut.
Ungkapan ini biasanya berupa verbal, yang disertai pelukan atau ciuman  yang semuanya menyatakan kasih sayang dan perhatian. Ungkapan ini membuat anak merasa dicintai dan dihargai sekaligus bisa mengatasi perasaan takut dan kekhawatiran dalam diri anak.
Anak yang dibesarkan di lingkungan seperti ini akan cenderung mampu mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Hal ini akan membuat orang yang berkomunikasi dengan dia bisa memahami apa keinginan maupun kebutuhannya sehingga dapat memberikan respon sesuai keinginan itu. Sebaliknya anak yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya , maka akan sulit bersosialisasi dan cenderung tidak memiliki kepercayaan diri serta pasif dalam menanggapi sesuatu.
Pada dasarnya setiap anak balita cenderung mampu menyatakan isi hatinya, baik rasa gembira , kecewa, sedih, atau rasa takut yang . Kecenderungan ini perlu mendapat dukungan secara positif. Rasa sedih, rasa takut yang biasanya diungkapkan dengan tangisan , rengekan, omelan atau pukulan itu bisa dialihkan dengan bentuk ungkapan positif.
Anak bisa dilatih dengan mengungkapkan rasa tidak senangnya dengan bahasa yang jelas sehingga limgkungan bisa memahaminya dengan lebih mudah dan konflik bisa dihindari. Jika kemampuan ini terus dibangun, maka anak akan terampil mengatasi persoalan dirinya yang berpotensi menimbulkan rasa kesedihan  maupun kemarahan.
Untuk mampu bersikap ekspresif secara positif, orang tua perlu menstimulasi sejak bayi. Insya Allah anak mampu mengekspresikan persaannya secara positif akan menjadi anak yang bahagia, sekaligus menyenangkan.( Suara Hidayatullah, Agt 2008 )
Tag Technorati: {grup-tag},,

Kamis, 05 Mei 2011

Menyelesaikan Konflik Pada Anak-anak

Banyak orang tua merasa stress melihat anak-anaknya yang bertengkar. Seorang ibu bahkan merasa gagal menjadi seorang orang tua  merasa gagal ketika  melihat anak-anaknya berkelahi. Terlintas dibenaknya untuk memisahkan anak-anaknya itu agar pertengkaran diantara mereka tidak terjadi. Bagaimana tidak stress, tidak ada makanan, anak-anak bertengkar, sudah ada makanan anak-anak berebut, tidak ada mainan mereka berantem, dibelikan mainan justru menjadi sebab pertengkaran.
Bagaimanakah sebaiknya mengatasai pertengkaran ? Banyak orang tua yang tidak tahan tatkala anak-anaknya berselisih. Namun dengarlah penuturan seorang ahli , “ Every conflict offers an opportunity to teach” Demikian disampaikan oleh Becky A Bayley Ph.D dalam bukunya “ Easy to Love, Difficult to Discipline”. Sehingga ketika konflik terjadi kita bisa berkata pada diri sendiri .” Inilah kesempatan kita memdidik dan membuat mereka belajar”.
Bayley mengatakan bahwa pada saat konflik terjadi, kita sebagai orang tua bisa memilih : menganggapnya sebagai peluang untuk mendidik anak atau kesempatan untuk menyalahkan dan menguhukum mereka. Jika orang tua men”cap” anaknya sebagai “anak nakal” hal itu akan menghancurkan kepercayaan diri mereka.
Bila kita dapat memanfaatkan momen bertengkar anak-anak sebagai peluang untuk mendidik mereka maka kita dapat meningkatkan kemampuan anak dalam banyak hal, diantaranya : memahami hak dan kewajiban, membedakan salah dan benar, memupuk rasa empati, menghargai orang lain, dan membangun kemampuan dalam memecahkan persoalan.Pada mulanya anak-anak tidak mengerti arti bertengkar, justru orangtualah yang memberi label bertengkar. Misalnya ketika anak berebut mainan, seringkali oreng tua berkata “ Sudahlan jangan bertengkar..!!
Dalam situasi seperti itu orang tua bisa dengan tenang mengatakan, “ Ada dua orang menginginkan mainan yang sama, bagaimana caranya ya ?'” Dengan pernyataan seperti itu anak diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya.
Pada dasarnya anak tidak menyukai terjadinya konflik. Namun ketidakmampuannya untuk mengelola emosi menyebabkan pertengkaran tak bisa dihindari. Banyak orang tua ingin masalah anak-anaknya cepat selesai dengan menyuruh salah seorang anaknya untuk mengalah atau meminta maaf . Hal tersebut sebenarnya kurang mendidik , karena mereka tidak diajak untuk mengurai permasalahan. permintaan maaf sebaiknya dilakukan oleh orang yang melakukan kesalahan dan dilakaukan atas kesadaran deri dalam diri anak. Oleh karena itu sangat penting kesabaran orang tua untuk berada pada situasi konflik, dan memberikan pengertian agar mereka mmenyelesaikan masalahnya hingga tuntas.
Hidup di dunia tidak akan terhindar dari masalah dan perselisihan. Ketrampilan menyelesaikan konflik akan menjadi bekal hidup yang berharga bagi masa depan anak-anak.
( sumber: Suara Hidayatullah, oktober 2009 )
Tag Technorati: {grup-tag},,

Kamis, 28 April 2011

Melatih Kecerdasan Bahasa ( linguistik )

Secara umum, kecerdasan bahasa menggambarkan kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekpresikan gagasan. Anak yang mempunyai kecerdasan bahasa biasanya senang dengan membaca, menulis karangan, membuat puisi, membuat kata-kata mutiara, dan sebagainya.Mereka biasanya mempunyai daya ingat yang kuat terhadap istilah-istilah baru maupun hal-hal yang sifatnya detail. Selain itu mereka juga cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi.

Sebagai orang tua kita tentu ingin anak kita memiliki kecerdasan bahasa, dan tentunya kecerdasan tersebut bisa di bentuk, sebagaimana di akui oleh Howard Gardner. Howard menjelaskan bahwa potensi kecerdasan anak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. oleh karena itu kecerdasan yang dimiliki anak pada masa-masa awal pertumbuhannya sampai usia sekolah tidak bisa dibiarkan berkembang sendiri, tanpa di bantu oleh orang terdekatnya, khususnya orang tua. Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan orang tua untuk meningkatkan kecerdasan bahasa anak, antara lain sbb :
1. Orang tua harus memberikan stimulus untuk mempengaruhi kemampuan otak si anak yang pada akhirnya akan bermuara pada ketrampilan anak dalam mengolah kata-kata dan berbicara. Anak yang jarang bicara akan mengurangi kemampuan berbahasanya. Biasanya kelemahan berbahasa anak akan ketahuan setelah anak berusia sekitar 5-6 tahun, saat anak memasuki bangku sekolah. sebab saat itu anak di tuntut untuk bersosialisasi dengan kawan-kawan lain.
2. Mengajari anak mencintai buku. Caranya mengajak anak ke perpustakaan, toko buku, pemeran dan lain-lain. Doronglah anak-anak untuk membeli buku sendiri yang ia sukai. Setelah itu lakukan diskusi kecil untuk membahas isi buku yang telah ia beli. Dengan demikian selain kosa kata bertambah, lewat buku juga kemampuan kognitif anak akan terasah.
3. Meminta anak menceritakan pengalamannya, baik bercerita langsung maupun mengemukakan dalam buku harian
4. Meminta anak untuk membuat puisi, cerita dll.
5. Jika anak memang terlihat berbakat, jangan ragu untuk memasukkan anak ke dalam kegiatan yang sesuai bakatnya, seperti kelompok drama, belajar menulis dan lain-lain.

Sabtu, 23 April 2011

Menembus Keterbatasan

Seorang gadis kecil tak bisa melihat maupun mendengar . Baginya dunia begitu sunyi dan tanpa warna. Kedua indra yang sangat penting bagi kehidupan itu lenyap di usia balitanya oleh sebuah penyakit. Walaupun mulutnya mampu mengeluarkan suara tapi ia tak  mampu bicara . Isyarat yang ia gunakan seringkali tak memadai, sehingga orang sekitar sulit memahami keinginannya. Kegagalan mengkomunikasikan keinginannya sering kali ledakan kemarahan dan amukan.
Orang tuanya sangat sedih karena mereka tak dapat berbuat apa-apa karena rumah merekapun jauh dari sekolah tunna rungu dan tunanetra. Ahirnya seorang guru tiba membimbing dan menuntunnya. Awalnya tak mudah Suatu kali ia merasa kesulitan untuk mempelajari kata “water” . Ia lalu membanting bonekanya . Tak ada rasa menyesal, ia bahkan puas karena telah melampiaskan rasa tidak nyamannya.
Apa yang dilakukan sang guru ? Ia megajaknya jalan-jalan keluar menikmati cahaya matahari. Mereka menyusuru jalan setapak menuju sumur sebuah rumah. Gurunya meletakkan tangan di bawah saluran air. Saat ia merasakan sejuknya semburan air ia mengeja kata “water”..barulah ia mengetahui bahwa sesuatu yang sejuk dan mengalir ditangannya adalah “water:. Ia baru menyadari baha segala sesuatu mempunyai nama dan akan melahirkan gagasan. Ian merasa dunianya mulai bercahaya meski harus melalui perjuangan dan kerja keras untuk terus belajar dan terus belajar.
Dialah “ Hellen Keller”penyandang tunanetra dan tunarungu pertama yang meraih gelar sarjana. Selain bahasa Inggris, ia menguasai bahasa Jerman, Perancis dan Latin . Kata-kata mutiaranya tersebar dan hingga saat ini masih sering di kutip banyak orang. Ia juga pejuang yang menentang penjajahan dan peperangan hingga usia senja
Sang guru yang mengajar adalah “Anne Sulllivan “Menurut Heelen, “ Awalnya aku hanyalah butiran-butiran kemungkinan . gurukulah yang membuka dan mengembangkan kemungkinan itu. Saat ia datang segala yang kumiliki menghembuskan cinta dan kebahagiaan sehingga menjadi penuh makna. sejak saat itu ia tak pernah melewatkan peluang untuk menunjukkan keindahan dan segala hal ataupun berhenti berusaha. ..dalam pikiran , tindakan dan teladan untuk membuat hidupku idah dan berguna.”
Menurut Hellen setiap guru bisa membawa seorang anak ke ruang kelas, tetapi tidak semua guru bisa membuat muridnya belajar.
Kisah di atas memberikan gambaran , betapa pentingnya peran seorang “guru” bagi perkembangan jiwa maupun kemampuan akademis anaknya. Saat akan memasukkan anknya ke sekolah, seringkali orang tua hanya melihat hal-hal yang nampak di luar, seperti gedung dan sarana lainnya. Seorang ahli pendidikan mengatakan  “ Meski di gedung yang mewah, tanpa guru berkualitas, proses pendidikan berkualitas tidak akan berjalan, Namun dengan guru berkualitas, di bawah sebatang pohonpun proses pendidikan berkualitas akan berlangsung.(Suara Hidayatullah, Juli 2010 )

Selasa, 12 April 2011

Kecerdasan Majemuk ( Multiple Intellegences )

Menurut Howard Gardner, ada delapan macam kecerdasan yang biasa disebut Multiple Intellegence, atau kecerdasan Majemuk. Berikut ini penjelasan tentang kedelapan jenis kecerdasan tersebut
Kecerdasan Linguistik
Adalah kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa atau struktur bahasa, fonologi ( bunyi bahasa ) semantik ( makna bahasa ) dimensi pragmatik ( penggunaan praktis bahasa ). Penggunaan bahasa mencakup aspek retorika ( penggunaan bahasa untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan tindakan tertentu ), Mnemonik ( penggunaaan bahasa untuk mengingat informasi ), eksplanasi ( penggunaan bahasa untuk member informasi ), dan metabahasa ( penggunaan bahasa untuk membahas bahasa itu sendiri ). Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh pendongeng orator, politisi, pembawa acara, pembicara publik, penceramah, sastrawan, wartawan, editor, penulis scenario dan sebagainya.
Kecerdasan Matematis-Logis
Kemampuan menggunakan angka dengan baik, dan melakukan penalaran yang benar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap pola dan hubungan logis, pernyataan dan dalil, fungsi logis dan abstraksi-abstraksi lain. Proses yang digunakan dalam kecerdasan matematis logis antara lain  : klasifikasi, pengambilan kesimpulan , generalisasi, penghitungan, dan pengujian hipotesis. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh ahli matematika, insinyur, pekerja keuangan, ahli statistik, programmer, perencana dan sebagainya.
Kecerdasan Spasial
Adalah kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akuran dan mentransformasikan persepsi dunia spasial visual tersebut. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang dan hubungan antar unsur tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual dan spasial,. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh arsitek, decorator, seniman, inventor, designer, pelukis, fotografer, sutradara film, dan sebagainya.
Kecerdasan Kinestetis Jasmani
Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekpresikan ide dan perasaan dan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu. Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik, sepserti koordinasi keseimbangan , ketrampilan, kelenturan, dan ketepatan maupun kemampuan menerima rangsangan dan hal-hal yang berkaitan dengan sentuhan. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh mekanik, dokter bedah, atlet, actor, penari dan sebagainya.
Kecerdasan Musikal
Adalah kemampuan menangani bentuk-bentuk musical dengan cara mempersepsi, membedakan, menggubah, dan mengekpresikan. Kecerdasan ini meiputi kepekaan pada irama, pola titi nada, warna atau warni suati lagu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh pemain music, penyanyi, composer, penari dansebagainya.
Kecerdasan Interpersonal
Adalah kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati. Maksud, motivasi serta perasaan orang lain. Kecerdasan I I meliputi kepekaan pada ekspresi wajah, suara, gerak isyarat, kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal dan kemampuan menanggapi secara efektif tanda tersebut dengan tindakan pragmatis tertentu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh   politisi, marketer, pekerja social, psikolog, anak gaul, dan sebagainya.
Kecerdasan Intrapersonal
Adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri yang akurat ( kekuatan dan keterbatasan diri ); kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh penulis, spiritualis, psikolog, ilmuwan dan sebagainya.
Kecerdasan Naturalis 
Adalah kemampuan seorang anak untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam terbuka seperti cagar alam, gunung, pantai, dan hutan. Mereka cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, flora dan fauna, bahkan benda-benda di ruang angkasa. Saat dewasa mereka dapat menjadi pecinta alam, pecinta lingkungan, ahli geologi, ahli astronomi, penyayang binatang, dan aktivitas-aktivitas lain yang berhubungan dengan alam dan lingkungan. Kecerdasan  ini biasanya dimiliki oleh ahli biologi, peneliti dan sebagainya.
Dengan konsep Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk ), yang dikemukakan Howard Gardner ingin mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan, bahwa seolah-olah kecerdasan hanya terbatas pada hasil tes intelegensi yang sempit saja, atau hanya sekadar dilihat dari prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Pada dasarnya tidak ada anak yang bodoh, tiap anak mempunyai kemampuan dan  jenis kecerdasan yang berbeda. Tugas orang tua dan guru untuk menggali kecerdasan dan menggunakan metode yang tepat terhadap anak atau anak didiknya.



Kamis, 07 April 2011

Menghargai “Jalan Fikiran Anak ”





Suatu hari , karena ribut di dalam kelas, murid-murid sebuah sekolah mendapat hukuman dari guru. Agar hukuman itu mendidik, sang guru menugaskan kepada muridnya untuk menjumlahkan angka dari 1 sampai 100. Ketika murid-murid lain sedang sibuk menghitung, tidak sampai satu menit seorang anak berjalan kearah guru dan menyerahkan hasil hitungannya.
Ternyata jawaban anak itu benar, yaitu ; 5050. Tentu saja sang guru heran, lalu bertanya bagaimana ia bisa menjumlah dengan secepat itu. Anak itu menjawab,” Mudah saja, 1 ditambah 100 sama dengan 101, 2 ditambah 99 sama dengan 101, 3 ditambah 98 samadengan 101. Ada 50 pasangan angka yang seperti itu. Saya kalikan 101 dengan 50, maka hasilnya 5050.
Anak tersebut kemudian tumbuh menjadi seorang yang sangat pandai dalam memecahkan persoalan matematika.
Dunia kemudian mengenalnya dengan Karl Friedich Gauss ( 1777-1855 ), ahli matematika dan ilmuwan dari Jerman. Ia banyak memberi sumbangan pikiran di bidang Analisis, Geometri, relatiitas dan energy atom.
Cara yang dilakukan Gauss dalam memecahkan soal matematika tentu saja bukan cara yang diajarkan oleh gurunya. Ia menemukan pemecahan matematika itu sendiri. Anak-anak dengan jalan fikirannya ternyata mampu menciptakan pemecahan soal yang sebelumnya tak terfikirkan oleh orang dewasa.
Barangkali muncul pertanyaan di benak kita, bagaimana mungkin anak kecil bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan orang dewasa. John Holt dalam bukunya “ How Children Fail “ memaparkan hasil pengamatannya sebagai seorang guru di AS selama bertahun-tahun terhadap anak didiknya. Dengan rinci John Holt memperlihatkan bagaimana anak-anak berfikir dan menciptakan jalannya sendiri dalam memecahkan berbagai persoalan.
Selama ini kadang anak dianggap bodoh atau salah karena cara menyelesaikan masalahnya berbeda dengan hasil pikiran orang dewasa. Tak jarang anak pulang dalam keadaan sedih karena hasil pekerjaanya , walaupun jawabannya benar dianggap salah karena  cara yang ditempuh anak tidak sama dengan yang diajarkan oleh guru.
Andaikan Gauss kecil kemudian disalahkan karena tidak menghitung urut sebagaimana biasanya, mungkin ia takkan digelari “Pangeran ahli Matematika”, Boleh jadi ia menjadi anak yang tidak “pede’ karena cara berfikirnya dipandang nyeleneh, dan menentang guru, dan ia tumbuh menjadi orang dewasa biasa yang tidak memberi kontribusi terhadap masyarakat dan dunia.
Anak-anak ibarat benih pohon, meskipun bagus dan berkualitas, ia tidak akan tumbuh sempurna jika ditanam di lahan yang tandus. Sejenius apapun Gauss jika tidak didukung oleh orang tua, guru dan lingkungannya, maka ia tidak akan menjadi orang yang hebat.
Untuk menjadi orang dewasa yang berkualitas, ia membutuhkan lingkungan yang mendukung, yaitu orang tua , guru dan lingkungan yang meghargai cara berfikirnya, yang membuat ia kreatif mengeluarkan ide, dan gagasannya.
Biarlah anak-anak pelajari sendiri diri dan dunia ini dengan cara pandang mereka sendiri.( Suara Hidayatullah, Januari 2010 )

Minggu, 03 April 2011

BELAJAR MENAKAR TINDAKAN

Ada saatnya diam merupakan kebaikan. kita berdiam diri karena memberi kesempatan untuk berfikir dan menyadari kekeliruannya.Kita diam bukan kaena tidak bertindak, tetapi justru diam itulah tindakan yang kita ambil agar anak dapat mengembangkan diriya.Tetapi ada kalanya diam justru tercela.Kita menahan diri dari bicara, padahal saat itu kita seharusnya angkat bicara  agar anak tidak terjatuh pada keburukan yang lebih besar.Diam pada saat seharusnya kita bicara merupakan tanda kelemahan, sebaliknya terlalu banyak meributkan anak merupakan pertanda ketidakmampuan kita menahan diri.

Ada saat kita harus tegas dan ada saat kita harus memberi kelonggaran pada anak.Ada hal-hal yang menghauruskan kita menunjukkan kemarahan pada anak, meskipun kita tidak sedang emosi, tetapi ada saatnya pula kita harus menahan diri meskipun emosi kita sedang meledak-ledak.Ini semua terkait dengan apa yang dilakukan anak sekaligus menimbang maslahat dan madharat dari setiap tindakan kita.Adapun terhadap tindakan yang muncul dari lemahnya kendali emosi, secara jujur kita perlu menyadari kekeliruan kita, mengakuinya sebgai kesalahan meski belum mampu mengungkapka secara terbuka terhadap anak, dan bersedia meminta maaf kepada anak atas salah dan keliru kita.
Harus Punya Kendali
Kembali pada soal kelonggaran. Anak yang dibesarkan dengan toleransi , memang akan belajar mengendalikan diri. Sebaliknya anak yang dibesarkan dengan kekerasan juga belajar menggunakan kekuatannya untuk mmaksakan keinginannya.Tetapi ada hal yang harus kita ingat, bahwa diluar apa yang kita lakukan, anak sedang berkembang.mereaka secara terus menerus belajar, termasuk belajar memegang kendali  sehingga orang tuapun bahkan bisa tak berdaya. Orang tua melakukan apapun yang diinginkan anak , meskipun tampaknya ia melakukan itu agar anaknya melakukan  apa yang diinginkan orang tua, misalnya ketika orangtua membelikan mainan, agar anak mau mandi.Kecenderungan anak memaksa orang tua menuruti kemauan orang tua sabagai imbalan atas kesediannya melakukan perintah orangtua , terutama mudah terjadi ketika orangtua memberlakukan cara pengasuhan yang tidak konsisten.Apalagi jika cara mengasuh antara kedua orangtua tidak selaras. Lebih parah lagi jika salah satu pihak cenderung lebih dominan dan mudah menyalahkan di depan anak. Artinya ada salah satu pihak yang sering disalahkan didepan anak sehingga otoritasnya sebagai orang tua melemah, dengan demikian perintahnya menjadi kurang efektif.Jika hal ini terjadi anak berusaha meningkatkan pengaruh dan daya paksanya sehingga orang tua benar-benar di bawah kendalinya. Tak ada jalan lain orang tua harus menghentikan situasi yang tidak sehat ini. Namun orang tua juga harus menyadari bahwa kebiasaan memaksakan keinginan tak timbul dengan tiba-tiba, namun karena anak belajar sedikit demi sedikit. Anak memiliki pengalaman panjang sehingga bisa memaksakan kehendak pada orangtuanya..
Sebaliknya anak yang tidak memiliki kendali atas diri dan lingkungannya karena terbiasa dipaksa oleh orang tua, akan berangsur menjadi pribadi yang tidak mandiri. Ia sulit mengambil keputusan, sekalipun hanya untuk mengambil pilihan dan perkara sederhana. Ia takut menghadapi resiko yang sangat kecil sekalipun. Ketakutan menghadapi resiko tersebut bukan hanya terjadi pada maasa kanak-kanak, namun bisa berlanjut sapai mereka dewasa. Serupa dengan takut menghadapi resiko adalah peragu. Ia sulit mengambil keputusan , bukan karena takut resiko, tetapi sulit memilih. Ini mudah terjadi pada anak yang dibesarkan dengan pemanjaan.Mereka serba dituruti, sehingga tidak memperoleh kesempatan belajar untuk menahan diri.Mereka juga sulit belajar berempati, merekapaun tidak ada kesempatan untuk belajar  menimbang, mengambil keputusan dan menentukan prioritas.. Boleh jadi sulit baginya untuk membedakan mana yang penting dan tidak,  karena ia miskin pengalaman untuk memilah antara keinginan dan kebutuhan.
Apa yang menyebabkan anak anak mengalami kesulitan dimasa dewasanya ? Bukan sulitnya kehidupan, bukan pula kecilnya pendapatan. Bisa jadi kekeliruan orang tua dalam mengasuh mereka. Bisa karena  berlebihan dalam membantu anak menghadapi masalah, bisa juga karena membiasakan anak hidup mudah sehingga anak kehilangan tantangan. Mereka sibuk mengurusi apa yang seharusnya diatasi sendiri oleh anak., sehingga anak kehilangan inisiatif produktif. Ini semua tidak ada hubungannnya dengan dengan kekayaan dan fasilitas hidup, Ini terkait dengan sikap kita sebagai orang tua , termasuk kemampuan menakar setiap tindakan. ( sumber  Suara Hidayatullah Edisi 09/XXIII/Jan 2011 )

Kamis, 31 Maret 2011

MENANAMKAN SIFAT SENANG BERBAGI.

Memiliki anak lebih dari satu memang membahagiakan. apalagi jika anak kita selalu rukun, bermain bersama dan saling menyayangi. Namun terkadang ada kalanya orang tua merasa repot, bahkan kewalahan ,mengatasi tingkah polah anak-anak , terutama pada masa-masa balita. Yang namanya pertengkaran, rebutan mainan, makanan atau apapun pastilah tak bisa dihindari.Seringkali karena tidak mau mendengar anak yang "berantem" atau "bertengkar " orang tua menyelesaikan dengan cara instan,dengan cara  selalu memberikan barang atau mainan kepada masing-masing anak dengan semua fasilitas yang diimiliki orang tua.Hal itu dilakukan untuk menghindari konflik diantara mereka, tanpa memikirkan akibatnya di masa mendatang.
Dengan selalu memberi barang masing-masing pada tiap anak membuat mereka kurang terbiasa dengan kebiasaan berbagi,
Walaupun memang berpotensi menimbulkan konflik, atau masalah , namun akan membuat anak belajar dan merasakan banyak hal. Dengan menanamkan kebiasaan berbagi membuat anak marasakan indahnya kasih sayang, belajar mengelola emosi, menahan sifat egoistis, menahan keinginan, dan belajar berempati.
Ada sebuah kisah yang pernah aku baca, dimana ada sebuah keluarga, ketika anak-anak mereka masih kecil mereka dibelikan sepeda satu satu, ketika beranjak remaja satu dibelikan motor, yang lain minta dibelikan juga. Setelah dewasa merekapun minta dibelikan mobil satu-satu. Tidak ada kebersamaan meskipun mereka saudara kandung. bahkan terhadap orang tua sendiri kurang memberikan perhatian Mereka hanya sibuk dengan urusan sendiri-sendiri.Saat salah satu membutuhkan pertolongan, yang lain tidak peduli.
Kisah tersebut memberi gambaran bahwa jika kebiasaan berbagi tidak diajarkan sejak dini maka ketika dewasa ia akan sulit untuk saling menolong sesama.