Sabtu, 21 April 2012
Nabila, Antara Ngeblogg, Chery Bellle dan Realita Musik Anak Indonesia
Minggu, 15 April 2012
Merubah Kebiasaan Buruk Sedikit demi Sedikit
1. Senang begadang, susah bangun pagi, akibatnya tidak bisa menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dengan tepat waktu, tidak bisa makan bersama anak-anak,nggak sempat sarapan di rumah dan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli sarapan, tidak sempat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring mencuci baju sendiri membereskan rumah,sehingga terpaksa harus mempunyai asisten rumah tangga untuk menyelesaikannya, tidak sempat berolahraga , tidak maksimal dalam memberikan ASI pada si kecil karena terburu buru , berangkat kerja kesiangan,mengantuk di tempat kerja , anak-anak jadi ikut -ikutan bangun kesiangan dan lain sebagainya yang jika dirunut akibatnya akan cukup panjang.
2. Sering menunda-nunda pekerjaan. Pekerjaan yang harusnya bisa dilaksanakan seringkali di tunda tunda karena merasa belum begitu mendesak, akibatnya bila pada saat seharusnya waktu bisa dimanfatkan untuk mendampingi anak-anak belajar, justru digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tersebut, apalagi jika tiba - tiba harus menyelasaikan suatu pekerjaan yang harus deselesaikan saat itu juga makin menumpuklah beban pekerjaan yang harus diselesaikan.
3. Sering menyia-nyiakan waktu, dengan kegiatan kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti game-game an terlalu lama, OL fesbukan terlalu lama,menonton tayangan televisi yang tidak penting, ngerumpi, nggosip dan lain-lain padahal satu detikpun waktu yang sudah lewat tak akan kembali. Terkadang saat malam tiba baru terasa dan muncul pertanyaan dalam diriku, " Hari ini aku sudah berbuat apa ?" Apa yang sudah aku lakukan untuk keluargaku, anak-anakku. suamiku?"
Ingin sekali merubah kebiasaan -kebiasan buruk tersebut, sedikit demi sedikit . Dan di awal tahun 2012 ini akupun sudah mencatat hal-hal yang ingin aku lakukan, dari hal-hal yang mungkin kecil. Untuk langkah awal mungkin cukup satu hal dulu yang ingin aku kerjakan, yaitu " Sarapan pagi di rumah". Aku memilih hal ini dengan pertimbangan bahwa kalau aku ingin sarapan pagi di rumah, otomatis aku harus bangun lebih pagi karena harus memasak dulu sebelum berangkat kerja, bisa saja sih aku bangun agak siangan dan berangkat kerjanya yang menjadi telat, tapi tak mungkin aku lakukan tiap hari, karena lama-lama pastilah nggak enak sama teman-teman kerja. So, targetnya nggak muluk muluk..cukup di coba satu minggu dulu...
Kamis, 29 Maret 2012
Satu Tahun Home Education Kami
Rabu, 28 Desember 2011
Jawaban Tentang HS Kami ( 2 )
Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya, Jawaban Tentang HS Kami ( 1 ).
6. Bagaimana sosialisasinya, bagaimana pergaulannya ?
Anak Homeschooling belajar dari siapa saja, tak ada batasan dalam pergaulannya. Bisa dengan orang dewasa sebaya maupun dibawahnya. Alhamdulillah sampai sekarang anak-anakku masih suka disamperin sama teman-temannya baik sebaya maupun dibawahnya. mengenai pergaulan justru kami agak prihatin dan khawatir melihat berita-berita tentang pergaulan anak-anak sekolah jaman sekarang.
7. Bagaimana Ijazahnya nanti..bagaimana masa depannya,
Saat ini memang ijazah dianggap harga mati untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Ijazah selalu dihubungkan dengan pekerjaan dan Kesuksesan,dan Kesuksesan sendiri masih banyak diidentikkan dengan banyaknya kekayaan materi, jabatan dan sejenisnya. Namun tiap keluarga mempunyai penillaian yang berbeda dalam memandang sebuah kesuksesan. Namun demikian bukan berarti kami menganggap bahwa ijazah tidak penting bagi kami, namun ada hal yang mungkin lebih penting yaitu skill. Mungkin bagi yang bercita-cita ingin menjadi PNS ijazah mutlak diperlukan. Untuk anak Homeschooling ijazah bisa didapatkan melalui ujian kesetaraan paket. Dan saat ini memang peraturan pemerintah masih belum berpihak kepada praktisi Homeschooling yang menginginkan ijazah bagi anak-anaknya. Saai ini kami sedang mencari informasi sebanyak-banyaknya dan mempertimbangkan untuk mencari alternatif lain selain mengikuti ujian paket., semisal dengan mengikuti ujian Cambrige. Hmm..Kelihatannya memang keinginan yang muluk, melihat bahwa kami hanyalah lulusan SMA yang Bahasa Inggrisnya juga minim. Namun kami berusaha optimis dan senantiasa belajar dan terus belajar. Inilah enaknya Homeschooling, orang tua dituntut untuk ikut belajar bersama anak-anak.
Kamis, 15 Desember 2011
Jawaban Tentang HS Kami ( 1 )
1. Homeschooling di mana ?
Pertanyaan ini timbul karena pengertian Homeschooling di masyarakat sendiri masih rancu. Sebagian besar masih mengangggap bahwa Homeschooling adalah sebuah lembaga. Sedangkan menurut informasi yang kami dapat dari praktisi Homeschooling, Homschooling bukanlah sebuah lembaga. Homeschooling ( Home Education ) adalah ketika keluarga memilih untuk bertanggung jawab dan menyelenggarakan sendiri pendidikan anaknya dan tidak mengirimkan anaknya ke sekolah. Di Indonesia sendiri memang banyak lembaga yang mengatasnamakan Homeschooling, yang sebenarnya lebih tepat dinamakan Bimbel, Kursus dan lain-lain.
3. Siapakah gurunya, trus anaknya ngapain aja di rumah..
Ada yang beranggapan bahwa Homeschooling adalah hanya memindahkan proses belajar mengajar ke rumah ( school at home ) sehingga dalam bayangannya orang tua mendatangkan guru prifat ke rumah. Dalam Homeschooling keluargalah yang menjadi pusat atau fokus. Orang tua mungkin bukan ahli segala-galanya. Namun peran orang tua disini adalah memfasilitasi mengarahkan hingga anak-anak bisa betul-betul bisa jadi pembelajar yang mandiri..Bisa saja orang tua memanggil guru atau yang ahli dalam bidang tertentu apabila diketahui anak memang sangat berminat pada suatu bidang dan orang tua memang tidak menguasainya. Apa yang dilakukan anak anak di rumah ? Tentu saja banyak hal yang bisa dilakukan. Anak Homeschooling bisa belajar kapan saja dimana saja. Setiap momen adalah pembelajaran, hal-hal kecil yang mungkin dianggap sepelepun bisa dijadikan proses belajar Dari melihat matahari sampai melihat seekor cicakpun bisa dijadikan obyek pembelajaran. Belajarpun bisa dengan apa saja, bisa bermain game, membantu masak di dapur, mencuci piring, bermain airpun adalah belajar, bisa belajar matematika, IPA, Agama, PPKN, secara langsung pula. ( Jadi ingat dulu pas anakku masih di PAUD, ada juga kegiatan main air, cuci piring, piring plastik, Alhamdulillah kalau sekarang sih cuci piring beneran juga dah bisa )
4. Oh..yang kayak artis itu ya..berarti orang kaya dong bisa ikut Homeschooling..Gajinya berapa ya.?..
Ada yang beranggapan bahwa Homeschooling adalah untuk orang kalangan tertentu, semisal artis. Bagi kami sendiri tak terlintas untuk mengHSkan anak-anak karena ikut-ikutan kayak artis. Terlalu berat kalau sekedar ikut-ikutan. Sebenanya biaya Homeschooling sangatlah fleksibel tergantung kondisi masing-masing keluarga. Karena dalam Homeschooling tak ada ketentuan dalam menentukan sarana belajar. Bisa menggunakan buku bekas, internet maupun belajar dari keseharian. Disinilah perbedaanya dengan sekolah. Mungkin di sekolah kita diwajibkan membayar uang Gedung dan sejenisnya, yang nantinya akan digunakan untuk membangun sarana olahraga, membeli alat drumb Band ataupun alat musik. Jika anak kita memang berminat pada bidang-bbidang tersebut, mungkin akan berasa manfaatnya. Namun jika anak kita ternyata mempunya minat yang berbeda hal itu tentu kurang bermanfaat bagi anak kita. Sedangkan di Homeschooling, biaya yang dikeluarkan bisa langsung digunakan untuk keprluan anak sesuai denagn minat dan bakatnya.
5. Kalau saya mending dijalani dua-duanya, ya Sekolah ya Homeschooling.
Kami pernah mendengar hal itu dari seorang teman . Mungkin maksudnya adalah anak tetap bersekolah ( sekolah formal) sesudah pulang anak belajar di rumah. Menurut artikel yang pernah kami baca, ( artikel lengkap bisa klik disini ) salah satu substansi Homeschooling adalah bahwa Homeschooling adalah pendidikan alternatif ( bukan sekolah ) . Jadi ketika anak-anak masih menjalani sekolah formal, meskipun sesudah di rumah ia belajar dengan metode-metode ala Homeschooling tidaklah bisa dikatakan Homeschooling. Orang tua yang menyekolahkan anaknya berarti bukan Homeschooling, Homeschooling adalah Homeschooling, sekolah adalah Sekolah.( bersambung )
Minggu, 20 November 2011
Belajar Menulis Cerita
“NENEK BAIK HATI “
Pada suatu ketika ada seorang nenek. Nenek itu bekerja di hutan.Nenek itu setiap harinya mencari kayu bakar untuk dipasarkan. Kebetulan nenek sedang membawa buah-buahan. Nenek itu melihat ada seorang anak tengan menangis keras.” Hu..hu..Hiks “ Nenek itu berkata “Kenapa kamu na, kenapa kamu sendirian ? “Saya tidak tahu orangtua saya siapa dan dimana Hu..hu..” anak itu tetap menangis” Sudah-sudah jangan menagis” nenek itu berkata,”Yuk ke rumah nenek nanti nenek kasih makan kamu, ya na” Terimaksih” “ Iya” Nenek dan seorang anak itupun berjalan hingga sudah dekat.. “Nanti kita mau makan apa “ Kata nenek itu. “nasi saja Nek, “Iya” Nenek itupun tiba dihalaman rumah nenek. “itu rumah nenek” “iya” Walaupun rumah nenek kecil tapi kamu jangan kuatir ya, nenek sudah menyiapkan makan siang . Nenek sudah memberi nama anak itu yaitu Adi. Adi yang dari tadi lapar langsung makan lahap-lahap. Nenek teyartawa melihat perilaku Adi, Ha..ha..ha. Pada suatu hari nenek memasarkan kayu yang kemarin nenek cari. Sebelum nenek itu berangkat, nenek tidak lupa memberi pesan “Di, nanti kamu baik-baik di rumah Ya. “ Ya nek “ Adi menjawabnya. Nenek berangkat ke pasar, diperjalanan nenek melihat kesamping ternyata ada pengemis. Pengemis itu berkata, “Tolong saya, saya belum makan tiga hari . Mengasihani nenek itu nenek memberi 5 pisang kepada pengemis. “ Nih” Ketika sampai nenek menjual kepada seorang pedagang” Itu kayunya berapa harga semua ? Rp. 100 ribu” boleh dikurangi harganya ? “ Boleh Rp. 50 ribu ? “Ya”Nenek pulang membawa oleh-oleh untuk Adi. Ketika nenek sampai nenek memberikan oleh-oleh itu kepada Adi. Adi senang sekali, nenekpun ikut senang, Sampai adi sudah menikah dengan perempuan cantik dan sampai Adi mempunya anak Adi tetap mengingat nenek dan Adi meniru perbuatan nenek dulu.
Begitulah cerita nenek dan Adi. Nenek baik hati, Adi menceritakan hal ini kepada istri . Pada suatu hari adi akan ke kantor, mau kerja Adi pamit pada istrinya Sinta. saat Adi mengemudi mobil Adi sangat lapar. Adi mampir restoran Adi bukannya beli Hodog, Hamburger malah Adi beli nasi uduk dan air putih karena Adi mengingat nenek dulu membawakan nasi uduk dan segelas air putih. Setelah Adi makan Adi kenyang, “ Ah kenyang..Adi melanjutkan perjalananya . Adi selalu ingat nenek. Nenek Adi bernama Surni. dan Adi juga selalu menjenguk makam nenek Surni Almarhum. Adi sudah sampai, ada Satpam yang sedang memarahi nenek-nenek Adi menghampiri Satpam itu. Maaf pa, ini neneknya jangan dimarahain, kasian dong, emangnya ada salah apa, “ Ia bertanya. Ini tadi dia bilang, dia bilang ia nenek bos. “ Kata satpam itu. “ Oke, siapa nama nenek ? “ Sarti “ Kemudian Adi mengajak nenek itu ke kantornya . " Ayo makan dulu, kata Adi. " Terima kasih na" " Sama-sama nek, Adi juga senang bisa membantu"
Sabtu, 19 November 2011
Tak Ada Kedewasaan Instan
Sesungguhnya, taraf kemampuan kognitif anak bertingkat-tingkat secara hierarkis. Dan pendidikan berkewajiban mengantarkan setiap anak agar mampu mencapai taraf kognitif yang setinggi-tingginya. Taraf paling rendah adalah pengetahuan. Ini merupakan kemampaun untuk mengetahui, mengenal dan mengingat apa-apa yang sudah ia pelajari. Ia bisa mengulang kembali dan menyampaikan kepada orang lain. Di negeri ini, pelajaran di kelas dan ujian di sekolah kerapkali hanya menakar kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan.
Berbagai teknik atau trik yang banyak diperkenalkan (lebih jelasnya: dijual) kepada masyarakat umumnya sebatas membantu anak mencapai kemampuan kognitif terendah. Bukan mengembangkan kemampuan berpikir. Lebih-lebih cara berpikir, umumnya hampir tak tersentuh. Tetapi inilah yang paling mudah kita lihat: atraksi kebolehan dan demonstrasi yang menunjukkan perubahan cepat luar biasa. Karena terpukau, kita kemudian kehilangan daya berpikir kritis tatkala para trainer itu mengatakan bahwa trik-trik tersebut membangun karakter anak! Padahal yang dimaksud bukan karakter. Yang dimaksud hanyalah sebatas kemampuan kognitif.
Karakter lebih banyak berkait dengan kualitas personal pada diri seseorang. Karakter bermula dari kesadaran terhadap nilai-nilai (bukan sekadar tahu atau bahkan paham), partisipasi atau kesediaan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan barulah kemudian sampai pada tingkat karakterisasi diri.
Yang dimaksud dengan penghayatan nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya. Sedangkan pengorganisasian nilai merupakan kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya. Sampai pada tingkat ini, karakter masih belum terbentuk. Karakterisasi baru terjadi apabila seseorang telah mampu memilih nilai sebagai gaya hidup (life style) dimana sistem nilai yang terbentuk mampu mengawasi tingkah lakunya.
Jadi, ada proses panjang sebelum terbentuk dalam diri seseorang. Ia bukan sekedar keterampilan. Ia merupakan perwujudan nilai-nilai yang mempengaruhi pikiran, cara pandang, penghayatan dan gaya hidup kita. Ia menjadi penakar dalam menentukan sebuah tindakan terkait dengan patut atau tidak, mulia atau hina. Ia berangkat dari kesadaran. Bukan pengetahuan. Kesadaran merupakan tingkat terendah dari kemampuan afektif. Sedangkan tingkat terendah kemampuan kognitif adalah pengetahuan (knowledge). Ini berarti, sekadar pintar tak berpengaruh pada karakter.
Setingkat di atas pengetahuan adalah pemahaman (understanding). Pada tingkat ini –tingkat terendah kedua dalam kemampuan kognitif—anak mengerti dengan baik apa yang dipelajari. Kemampuan ini bukan semata karena anak belajar, tetapi karena pendidik memang memahamkan. Bukan sekadar menyampaikan sejelas-jelasnya sehingga anak mengingat dengan baik dan mampu menyampaikan kembali secara gamblang. Pendidik perlu secara serius merangsang kemampuan berpikir anak sehingga mereka memahami dengan baik apa yang diterangkan.
Yang perlu kita catat, pemahaman tidak berpengaruh terhadap perilaku. Pemahaman baru akan bermanfaat menuntun dan mengarahkan perilaku anak-anak kita, jika mereka telah menghayati nilai-nilai agama ini dengan baik. Sangat berbeda, menghayati dengan memahami.
Itu pula yang menerangkan mengapa anak yang telah memahami baik-buruknya sesuatu, tidak berubah perilakunya. Kecerdasan mempengaruhi kemampuan mengingat, mencerna dan memahami sesuatu. Sedangkan keyakinan mendorong orang untuk menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya, meskipun bertentangan dengan pemahamannya.
Kembali pada jenjang-jenjang kemampuan kognitif. Setingkat di atas pemahaman adalah penerapan (aplikasi), yakni kemampuan menggunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata. Ini bukan berurusan dengan keyakinan. Ini erat kaitannya dengan kecakapan untuk menerapkan apa yang telah ia ketahui. Shalat misalnya. Anak bisa melakukan shalat dengan sangat baik bukan karena yakin dan suka, tetapi karena ia memahami betul tata-cara shalat yang baik.
Jenjang kemampuan berikutnya adalah analisis. Berbekal pemahaman yang baik dan mendalam atas berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan sekaligus (pernah) ia praktikkan, seseorang bisa mencapai kemampuan analisis. Ia mampu menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Jika kemampuan ini berkembang lebih lanjut, ia akan sampai pada taraf kognitif yang lebih tinggi, yakni sintesis. Ini merupakan kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti. Ia mampu menemukan benang merah berbagai pengetahuan yang berserak menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.
Tingkat tertinggi kemampuan kognitif adalah penilaian. Bukan menilai orang dari apa yang tampak, melainkan kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan yang ditetapkan terlebih dahulu, baik bersifat internal maupun eksternal. Di tingkat inilah seseorang mencapai tingkat pemahaman yang mendalam. Kemampuan ini barangkali lebih dekat dengan makna faqih. Bukan sekadar faham. Dan amat sedikit orang yang mencapai kemampuan ini.
Cerdas & Terampil Belum Mencukupi
Apakah anak-anak sudah cukup berharga jika mereka mencapai kemampuan kognitif yang tinggi? Cerdas saja tidak cukup. Alangkah banyak anak-anak yang cerdas tetapi miskin keterampilan. Lalu, apakah cerdas dan terampil telah cukup untuk membekali mereka meraih sukses? Jangankan untuk akhirat. Sukses dunia pun tak cukup hanya berbekal cerdas dan terampil. Bahkan kejeniusan pun tak menolong mereka.
Mari kita ingat sejenak salah satu jenius besar yang pernah lahir di muka bumi. Namanya William James Sidis. Bapaknya –seorang profesor—adalah pengagum besar William James, tokoh psikologis behaviorisme yang yakin betul bahwa pembiasaan merupakan kunci terpenting pendidikan.
Sejak usia 6 bulan, ayahnya telah mengajarkan kepadanya huruf-¬huruf sesuai urutan abjad. Sesudah itu, ayahnya mengajarkan ilmu bumi, ilmu ukur, ilmu tubuh manusia, dan bahasa Yunani berdasarkan buku ajar yang dipakai di sekolah. Hasilnya, usia lima tahun William James Sidis telah mampu menyusun karya ilmiah tentang anatomi. Kejeniusannya berkembang sehingga pada usia 11 tahun ia telah menjadi mahasiswa di Harvard University dan usia 14 tahun telah mampu memberi kuliah.
Tetapi kecerdasan tanpa kemampuan mengelola diri, tak cukup untuk membuatnya bahagia. Ia kemudian melarikan diri dari lingkungan yang mengelu-elukannya. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran karena kecerdasan tak bisa membuatnya bahagia.
Sesungguhnya ada tiga potensi manusia yang berbeda-beda tingkat kemudahannya membentuk. Yang paling sulit adalah karakter, sesudah itu motivasi dan yang paling mudah adalah kemampuan kognitif serta keterampilan. Jika seseorang memiliki karakter yang kuat, mudah baginya untuk memperoleh kemampuan kognitif maupun keterampilan yang tinggi. Dan inilah yang harus kita perhatikan saat mereka belia. Inilah yang menjadi perhatian di berbagai belahan bumi yang menghargai betul arti sumber daya insani.
Bagaimana dengan Anda?
Sumber : SUARA HIDAYATULLAH, JUNI 2010