Kamis, 18 Agustus 2011

Nggak Ada Judul

Ya Tuhan..jadikanlah aku orang yang selalu bersyukur atas nikmatmu..
.............

Sabtu, 13 Agustus 2011

Penularan Emosi



Seorang ibu baru saja pulang dari tempat kerjanya dalam keadaan lelah. Urusan dan pekerjaan kantor yang menumpuk masih menggelayuti pikirannya. Perjalanan dari tempat kerja yang cukup jauh dan macet membuat tubuhnya kian terasa lelah.
Dengan lunglai ia membuka pintu rumahnya. Terpampanglah ruang tamunya yang berantakan . Baru selangkah kakinya masuk ke ruangan , kedua anaknya berhamburan menyambut dan seakan berlomba berbicara minta ini dan itu.

Si ibu makin merasa pening, ahirnya masuk kamar dan mengunci diri di kamar . Ia benar-benar lelah , dan iapun merebahkan tubuhnya. Didengarnya anaknya yang paling kecil teriak-teriak sambil memukul-mukul pintu kamar. Pembantunya membujuk dan menghiburnya. Si ibu sebenarnya merasa iba mendengar tangis anaknya, dalam hatinya berkata , “ Maafkan ibu, Nak ! Ibu perlu istirahat sebentar agar bisa bernain lagi dengan kalian.”
Mungkin banyak ibu pekerja yang mengalami pengalaman serupa. Karena lelah si ihu kurang peduli dengan anaknya yang seharian di tinggalnya. Ia berharap anak-anaknya dapat mengerti kondisinya.
Namun, ibu tersebut lupa bahwa sikapnya itu akan meninggalkan jejak di otaknya hingga dewasa nanti. Jika ibu dalam keadaan capek, bermuka masam, sibuk dengan diri sendiri, dan tak peduli pada sekitar , maka tanpa disadari otak anak tersebut akan mencatatnya, “ Oh, kalau sedang capek tidak boleh peduli pada orang lain,  “ Apalagi jika ibu sampai terpancing sehingga ia berkata , “ Sudah ! Bisa diam tidak, ibu lagi capek !”
Jika hal itu sering dilakukan ibu , suatu saat ketika anak sudah dewasa, kemudian sedang capek, dan banyak pekerjaan, lalu ibu bertanya maka sang anak bisa berkata , “ Ibu bisa diam tidak, saya lagi capek !’ Mungkin si ibu sakit hati pada anaknya, padahal dulu ibulah yang menanamkan sikap tersebut pada anaknya.
Akan tetapi , jika ibu dsalam keadaan capek , tapi masih ada sisa tenaga untuk berjalan dan berbicara dengan kalian . Capek bisa hilang kalau kita istirahat ,makan dan minum.” Ataupun perkataan lain yang bisa membuat anak-anak memahaminya, maka anakpun akan meniru sikap seperti itu.
Saat lelah penting bagin ibu untuk mengelola diri agar jangan sampai terpancing emosi. Sebab emosi bisa menular. Daniel Goleman dalam bukunya Sosial Intelligence menyatakan bahwa di dalam otak terdapat banyak syaraf cermin ( mirror neuron ) yang dapat memantulkan aktifitas sel otak orang lain. Sehingga tanpa disadari manusia akan saling menyalin ekspresi wajah, pola nafas, dan gerakan tubuh orang lain.
Jika ibu dalam keadaan lelah dan marah berhadapan dengan anak, maka perasaan tersebutaakan menjalar pada anak, sehingga ia bisa balik mengekspresikan kemarahannya pada sanag ibu. Akibatnya ibu tentu akan merasa tidak senang atau tidak nyaman.
Karena itu jika ibu dalam keadaan lelah masih bisa tersenyum dan bersikap ramah , maka anakpun akan tetap merasa nyaman . Pancaran kebahagiaan di wajah ibu juga akan menular pada sang anak . Sehingga anak akan memiliki konsep di pikirannya bahwa ibu adalah sosok yang menyenangkan dalam situasi apapun. Hubungan ibu dan anak pun akan terjalin indah.

( sumber : Ida S. Widayati, Suara Hidayatullah )

Minggu, 31 Juli 2011

Belajar matematika di IXL Math

IXL - Certificate of Achievement
Keterbatasan waktu bersama anak-anak merupakan tantangan yang cukup besar bagi kami dalam menjalankan homeschooling. Apalagi dalam masa-masa awal homeschooling kami, dimana anak-anak belum sepenuhnya mampu menjadi pembelajar mandiri. Untunglah pada zaman sekarang kemajuan teknologi sudah berkembang sedemikian pesat, terutama tehnologi internet yang bisa kami manfaatkan sebagai sarana untuk belajar.  Kebetulan anak kami yang pertama, Annisa Nabeela ( 10 th ) sudah kami perkenalkan dengan dunia internet. Idealnya memang kamilah yang harus selalu mendampingi proses belajar anak-anak .
Namun karena kondisi yang belum memungkinkan, mau tak mau ada saat dimana anak-anak harus belajar sendiri tanpa pendampingan orang tua. Salah satu cara yang kami lakukan adalah dengan mendaftarkan anak kami untuk belajar di IXL Math .Sebelumnya kami sudah tanyakan pada anak kami, Nabeela apakah tertarik dan mau mengikuti. Setelah mencoba-coba mengikuti  ternyata iapun tertarik dan bersedia .Kamipun memutuskan untuk mengikutkannya dalam les mathematika online di IXL Math yang diselenggarakan oleh rumahinspirasi.com.  Menurut kami program-program IXL Math cukup menarik. Ada ribuan soal yang bisa dikerjakan dari tingkat pra sekolah sampai SMP, soal-soalnyapun cukup beragam dan sudah diklasifikasi sedemikian rupa. Selain bisa belajar matematika, karena pengantarnya menggunakan bahasa Inggris,jadi secara tidak langsung anakpun  bertambah perbendaharaan kosa-kata bahasa Inggrisnya. Saat ini , anak kami baru menyelesaikan lebih dari 100 soal yang ia kerjakan pada saat aku bekerja. Bila menemui kesulitan, biasanya anakku akan bertanya padaku melalui SMS. Secara periodik orangtuapun akan menerima laporan perkembangan belajar anak , jadi kami pun bisa mengontrol apakah anak sudah belajar atau belum.

Senin, 25 Juli 2011

Menulis Lagi..

DSC00800
Hampir dua bulan aku tak posting di blog ini. Ada beberapa hal yang menyebabkan aku akhirnya nggak bisa konsisten menulis secara teratur. Disamping gairah menulis yang ahir-ahir ini sempat anjlog, kesibukan offline yang cukup banyak juga benar-benar menyita waktu.
Separuh hari aku habiskan untuk bekerja di kantor, sementara sepulang kerja dengan dibantu suami aku harus melayani kebutuhan anak – anakku ( yang jumlahnya empat anak ) . Belum lagi mengurus urusan rumah tangga yang lain. Terkadang ide menulis sudah ada, tapi badan dan mata ini nggak mau kompromi alias ngantuk berat..Posting ini sengaja kutulis untuk membangkitkan kembali gairah menulisku..

Selasa, 31 Mei 2011

Ungkapan Positif

Picture0001
“Terima kasih sudah hadir di keluarga kami. Kami sangat berbahagia, Adek adalah bayi yang sangat cocok untuk ibu,”ujar ibu sambil mendekap bayinya.
“ Jika aku sakit, terus lihat bayi, sakitku jadi hilang” Ucap sang kakak pada adeknya.
Ungkapan-ungkapan di atas dinyatakan oleh keluarga yang sangat berbahagia karena kehadiran sang bayi. Kebahagiaan itu kerap diungkapkan dalam berbagai ekspresi atau ungkapan positif. Mereka seolah berlomba menyatakan perasaan masing-masing pada sang bayi.
Bagi orang-orang yang jarang mengungkapkan  perasaanya mungkin ucapan-ucapan seperti itu kedengarannya berlebihan . Namun sesungguhnya banyak manfaat dari sikap seperti itu. Jika sekeluarga senantiasa menyatakan perasaan positif seperti rasa bahagia, kasih sayang, dan ungkapan syukur, maka hal ini akan mempererat ikatan emosional dan keakraban diantara anggota keluarga tersebut.
Ungkapan ini biasanya berupa verbal, yang disertai pelukan atau ciuman  yang semuanya menyatakan kasih sayang dan perhatian. Ungkapan ini membuat anak merasa dicintai dan dihargai sekaligus bisa mengatasi perasaan takut dan kekhawatiran dalam diri anak.
Anak yang dibesarkan di lingkungan seperti ini akan cenderung mampu mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Hal ini akan membuat orang yang berkomunikasi dengan dia bisa memahami apa keinginan maupun kebutuhannya sehingga dapat memberikan respon sesuai keinginan itu. Sebaliknya anak yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya , maka akan sulit bersosialisasi dan cenderung tidak memiliki kepercayaan diri serta pasif dalam menanggapi sesuatu.
Pada dasarnya setiap anak balita cenderung mampu menyatakan isi hatinya, baik rasa gembira , kecewa, sedih, atau rasa takut yang . Kecenderungan ini perlu mendapat dukungan secara positif. Rasa sedih, rasa takut yang biasanya diungkapkan dengan tangisan , rengekan, omelan atau pukulan itu bisa dialihkan dengan bentuk ungkapan positif.
Anak bisa dilatih dengan mengungkapkan rasa tidak senangnya dengan bahasa yang jelas sehingga limgkungan bisa memahaminya dengan lebih mudah dan konflik bisa dihindari. Jika kemampuan ini terus dibangun, maka anak akan terampil mengatasi persoalan dirinya yang berpotensi menimbulkan rasa kesedihan  maupun kemarahan.
Untuk mampu bersikap ekspresif secara positif, orang tua perlu menstimulasi sejak bayi. Insya Allah anak mampu mengekspresikan persaannya secara positif akan menjadi anak yang bahagia, sekaligus menyenangkan.( Suara Hidayatullah, Agt 2008 )
Tag Technorati: {grup-tag},,

Rabu, 11 Mei 2011

Aku dan “Semangat Homeschoolingku”

Dua bulan sudah anakku berhenti dari sekolah formal .Dua bulan kulalui bukan berarti aku benar-benar mantap mejalankan homeschooling pada anak-anakku. Karena jujur bahwa keinginan untuk menerapkan homeschooling awalnya datang dari suamiku.Terkadang terbersit keraguan dihatiku. Dalam hati aku bertanya pada diriku sendiri ,Apakah ini keputusan yang terbaik untuk anak-anakku. Mampukah aku menghantarkan anak-anakku menuju kebahagiaan.
Terkadang aku takut gagal, aku takut aku tidak mampu, dan akhirnya akan disalahkan anak-anakku jika mereka dewasa..Itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul pada masa masa awal homeschooling.dan jika aku sedang mengalami hal demikian, yang aku lakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Homescholing, dan salah satu blog yang begitu menginsprasiku adalah “Homeschooling-Indonesia.com. Tulisan-tulisan mbak Andini Rizky benar-benar memotivasi diriku. Alhamdulillah sedikit demi sedikit aku kembali bersemangat..sampai-sampai aku merasa kalau waktu kebersamaan dengan anak-anakku begitu kurang. Andai aku punya lebih banyak waktu mendampingi anak-anakku?..
Tag Technorati: {grup-tag}

Kamis, 05 Mei 2011

Menyelesaikan Konflik Pada Anak-anak

Banyak orang tua merasa stress melihat anak-anaknya yang bertengkar. Seorang ibu bahkan merasa gagal menjadi seorang orang tua  merasa gagal ketika  melihat anak-anaknya berkelahi. Terlintas dibenaknya untuk memisahkan anak-anaknya itu agar pertengkaran diantara mereka tidak terjadi. Bagaimana tidak stress, tidak ada makanan, anak-anak bertengkar, sudah ada makanan anak-anak berebut, tidak ada mainan mereka berantem, dibelikan mainan justru menjadi sebab pertengkaran.
Bagaimanakah sebaiknya mengatasai pertengkaran ? Banyak orang tua yang tidak tahan tatkala anak-anaknya berselisih. Namun dengarlah penuturan seorang ahli , “ Every conflict offers an opportunity to teach” Demikian disampaikan oleh Becky A Bayley Ph.D dalam bukunya “ Easy to Love, Difficult to Discipline”. Sehingga ketika konflik terjadi kita bisa berkata pada diri sendiri .” Inilah kesempatan kita memdidik dan membuat mereka belajar”.
Bayley mengatakan bahwa pada saat konflik terjadi, kita sebagai orang tua bisa memilih : menganggapnya sebagai peluang untuk mendidik anak atau kesempatan untuk menyalahkan dan menguhukum mereka. Jika orang tua men”cap” anaknya sebagai “anak nakal” hal itu akan menghancurkan kepercayaan diri mereka.
Bila kita dapat memanfaatkan momen bertengkar anak-anak sebagai peluang untuk mendidik mereka maka kita dapat meningkatkan kemampuan anak dalam banyak hal, diantaranya : memahami hak dan kewajiban, membedakan salah dan benar, memupuk rasa empati, menghargai orang lain, dan membangun kemampuan dalam memecahkan persoalan.Pada mulanya anak-anak tidak mengerti arti bertengkar, justru orangtualah yang memberi label bertengkar. Misalnya ketika anak berebut mainan, seringkali oreng tua berkata “ Sudahlan jangan bertengkar..!!
Dalam situasi seperti itu orang tua bisa dengan tenang mengatakan, “ Ada dua orang menginginkan mainan yang sama, bagaimana caranya ya ?'” Dengan pernyataan seperti itu anak diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya.
Pada dasarnya anak tidak menyukai terjadinya konflik. Namun ketidakmampuannya untuk mengelola emosi menyebabkan pertengkaran tak bisa dihindari. Banyak orang tua ingin masalah anak-anaknya cepat selesai dengan menyuruh salah seorang anaknya untuk mengalah atau meminta maaf . Hal tersebut sebenarnya kurang mendidik , karena mereka tidak diajak untuk mengurai permasalahan. permintaan maaf sebaiknya dilakukan oleh orang yang melakukan kesalahan dan dilakaukan atas kesadaran deri dalam diri anak. Oleh karena itu sangat penting kesabaran orang tua untuk berada pada situasi konflik, dan memberikan pengertian agar mereka mmenyelesaikan masalahnya hingga tuntas.
Hidup di dunia tidak akan terhindar dari masalah dan perselisihan. Ketrampilan menyelesaikan konflik akan menjadi bekal hidup yang berharga bagi masa depan anak-anak.
( sumber: Suara Hidayatullah, oktober 2009 )
Tag Technorati: {grup-tag},,