Minggu, 11 September 2011

Sabtu, 10 September 2011

“Ujian” Homeschooling

“ Pada nyebelin lho!”, kata anakku , Nabila saat pulang bermain. “ Memangnya kenapa, siapa yang nyebelin ?”, tanyaku. “Males banget kalau main mesti pada nanyain, Oh kamu yang nggak sekolah ya ?  Di rumah ngapain ?”, jawab anakku. “Terus kamu jawab gimana ?” tanyaku lagi. “Aku sekolah kok, tapi di rumah. Aku Homeschooling!’ Bisa di tebak, kalau di jawab demikian pertanyaan selanjutnya adalah , “ Apa sih Homeschooling, terus ijazahnya gimana, gurunya siapa…dst.

Kadang aku merasa heran kenapa banyak orang masih menganggap Homeschooling sebagai sesuatu yang aneh, sehingga tak ada habisnya di pertanyakan. Bukan saja oleh orang-orang di luar keluarga kami, bahkan keluarga dekat kami. Tak jarang mereka membujuk anak kami untuk kembali belajar di sekolah formal. Yah, mungkin karena mereka terlalu perhatian dan peduli kepada kami.Perhatian yang justru membuat ketidaknyamanan pada kami. . Owh..tidak nyaman ? Kenapa mesti tak nyaman...

 

Jumat, 09 September 2011

HOMESCHOOLING

Pada masa-masa awal keluarga kami menerapkan homeschooling pada anak-anak kami, beberapa pertanyaan  mengenai homeschooling sering kami terima, diantaranya ada yang menanyakan “ Apa sih homeschooling, siapa gurunya, gimana ijazahnya dan masih banyak lagi pertanyaan pertanyaan lain. Mudah-mudahan artikel ini akan memberikan sedikit gambaran mengenai homeschooling. Tulisan ini kami ambil dari milis sekolah rumah.

Pengertian Homeschooling
Homeschooling (HS) adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah "home education", atau "home-based learning" yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama.
Dalam bahasa Indonesia, ada yang menggunakan istilah "sekolah rumah" atau "sekolah mandiri". Disebut apapun, yang penting adalah esensinya.
Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah.
Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.
Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya.
Legalitas
Dalam sistem pendidikan di Indonesia, homeschooling (diterjemahkan sebagai Sekolah Rumah) merupakan jalur pendidikan informal.
Keberadaan homeschooling telah diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (1):
Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri

Pemerintah tidak mengatur standar isi dan proses pelayanan informal kecuali standar penilaian apabila akan disetarakan dengan pendidikan jalur formal dan nonformal sebagaimana yang dinyatakan pada UU No. 20/23, pasal 27 ayat (2).
Sekolah rumah pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
  1. Sekolah rumah tunggal merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua/wali terhadap seorang anak atau lebih terutama di rumahnya sendiri atau di tempat-tempat lain yang menyenangkan bagi peserta didik.
  2. Sekolah rumah majemuk merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh para orang tua/wali terhadap anak-anak dari suatu lingkungan yang tidak selalu bertalian dalam keluarga, yang diselenggarakan di beberapa rumah atau di tempat/fasilitas pendidikan yang ditentukan oleh suatu komunitas pendidikan yang dibentuk atau dikelola secara lebih teratur dan terstruktur.

(Sumber: "Pendidikan Kesetaraan Mencerahkan Anak Bangsa", Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)

Kamis, 18 Agustus 2011

Nggak Ada Judul

Ya Tuhan..jadikanlah aku orang yang selalu bersyukur atas nikmatmu..
.............

Sabtu, 13 Agustus 2011

Penularan Emosi



Seorang ibu baru saja pulang dari tempat kerjanya dalam keadaan lelah. Urusan dan pekerjaan kantor yang menumpuk masih menggelayuti pikirannya. Perjalanan dari tempat kerja yang cukup jauh dan macet membuat tubuhnya kian terasa lelah.
Dengan lunglai ia membuka pintu rumahnya. Terpampanglah ruang tamunya yang berantakan . Baru selangkah kakinya masuk ke ruangan , kedua anaknya berhamburan menyambut dan seakan berlomba berbicara minta ini dan itu.

Si ibu makin merasa pening, ahirnya masuk kamar dan mengunci diri di kamar . Ia benar-benar lelah , dan iapun merebahkan tubuhnya. Didengarnya anaknya yang paling kecil teriak-teriak sambil memukul-mukul pintu kamar. Pembantunya membujuk dan menghiburnya. Si ibu sebenarnya merasa iba mendengar tangis anaknya, dalam hatinya berkata , “ Maafkan ibu, Nak ! Ibu perlu istirahat sebentar agar bisa bernain lagi dengan kalian.”
Mungkin banyak ibu pekerja yang mengalami pengalaman serupa. Karena lelah si ihu kurang peduli dengan anaknya yang seharian di tinggalnya. Ia berharap anak-anaknya dapat mengerti kondisinya.
Namun, ibu tersebut lupa bahwa sikapnya itu akan meninggalkan jejak di otaknya hingga dewasa nanti. Jika ibu dalam keadaan capek, bermuka masam, sibuk dengan diri sendiri, dan tak peduli pada sekitar , maka tanpa disadari otak anak tersebut akan mencatatnya, “ Oh, kalau sedang capek tidak boleh peduli pada orang lain,  “ Apalagi jika ibu sampai terpancing sehingga ia berkata , “ Sudah ! Bisa diam tidak, ibu lagi capek !”
Jika hal itu sering dilakukan ibu , suatu saat ketika anak sudah dewasa, kemudian sedang capek, dan banyak pekerjaan, lalu ibu bertanya maka sang anak bisa berkata , “ Ibu bisa diam tidak, saya lagi capek !’ Mungkin si ibu sakit hati pada anaknya, padahal dulu ibulah yang menanamkan sikap tersebut pada anaknya.
Akan tetapi , jika ibu dsalam keadaan capek , tapi masih ada sisa tenaga untuk berjalan dan berbicara dengan kalian . Capek bisa hilang kalau kita istirahat ,makan dan minum.” Ataupun perkataan lain yang bisa membuat anak-anak memahaminya, maka anakpun akan meniru sikap seperti itu.
Saat lelah penting bagin ibu untuk mengelola diri agar jangan sampai terpancing emosi. Sebab emosi bisa menular. Daniel Goleman dalam bukunya Sosial Intelligence menyatakan bahwa di dalam otak terdapat banyak syaraf cermin ( mirror neuron ) yang dapat memantulkan aktifitas sel otak orang lain. Sehingga tanpa disadari manusia akan saling menyalin ekspresi wajah, pola nafas, dan gerakan tubuh orang lain.
Jika ibu dalam keadaan lelah dan marah berhadapan dengan anak, maka perasaan tersebutaakan menjalar pada anak, sehingga ia bisa balik mengekspresikan kemarahannya pada sanag ibu. Akibatnya ibu tentu akan merasa tidak senang atau tidak nyaman.
Karena itu jika ibu dalam keadaan lelah masih bisa tersenyum dan bersikap ramah , maka anakpun akan tetap merasa nyaman . Pancaran kebahagiaan di wajah ibu juga akan menular pada sang anak . Sehingga anak akan memiliki konsep di pikirannya bahwa ibu adalah sosok yang menyenangkan dalam situasi apapun. Hubungan ibu dan anak pun akan terjalin indah.

( sumber : Ida S. Widayati, Suara Hidayatullah )

Minggu, 31 Juli 2011

Belajar matematika di IXL Math

IXL - Certificate of Achievement
Keterbatasan waktu bersama anak-anak merupakan tantangan yang cukup besar bagi kami dalam menjalankan homeschooling. Apalagi dalam masa-masa awal homeschooling kami, dimana anak-anak belum sepenuhnya mampu menjadi pembelajar mandiri. Untunglah pada zaman sekarang kemajuan teknologi sudah berkembang sedemikian pesat, terutama tehnologi internet yang bisa kami manfaatkan sebagai sarana untuk belajar.  Kebetulan anak kami yang pertama, Annisa Nabeela ( 10 th ) sudah kami perkenalkan dengan dunia internet. Idealnya memang kamilah yang harus selalu mendampingi proses belajar anak-anak .
Namun karena kondisi yang belum memungkinkan, mau tak mau ada saat dimana anak-anak harus belajar sendiri tanpa pendampingan orang tua. Salah satu cara yang kami lakukan adalah dengan mendaftarkan anak kami untuk belajar di IXL Math .Sebelumnya kami sudah tanyakan pada anak kami, Nabeela apakah tertarik dan mau mengikuti. Setelah mencoba-coba mengikuti  ternyata iapun tertarik dan bersedia .Kamipun memutuskan untuk mengikutkannya dalam les mathematika online di IXL Math yang diselenggarakan oleh rumahinspirasi.com.  Menurut kami program-program IXL Math cukup menarik. Ada ribuan soal yang bisa dikerjakan dari tingkat pra sekolah sampai SMP, soal-soalnyapun cukup beragam dan sudah diklasifikasi sedemikian rupa. Selain bisa belajar matematika, karena pengantarnya menggunakan bahasa Inggris,jadi secara tidak langsung anakpun  bertambah perbendaharaan kosa-kata bahasa Inggrisnya. Saat ini , anak kami baru menyelesaikan lebih dari 100 soal yang ia kerjakan pada saat aku bekerja. Bila menemui kesulitan, biasanya anakku akan bertanya padaku melalui SMS. Secara periodik orangtuapun akan menerima laporan perkembangan belajar anak , jadi kami pun bisa mengontrol apakah anak sudah belajar atau belum.

Senin, 25 Juli 2011

Menulis Lagi..

DSC00800
Hampir dua bulan aku tak posting di blog ini. Ada beberapa hal yang menyebabkan aku akhirnya nggak bisa konsisten menulis secara teratur. Disamping gairah menulis yang ahir-ahir ini sempat anjlog, kesibukan offline yang cukup banyak juga benar-benar menyita waktu.
Separuh hari aku habiskan untuk bekerja di kantor, sementara sepulang kerja dengan dibantu suami aku harus melayani kebutuhan anak – anakku ( yang jumlahnya empat anak ) . Belum lagi mengurus urusan rumah tangga yang lain. Terkadang ide menulis sudah ada, tapi badan dan mata ini nggak mau kompromi alias ngantuk berat..Posting ini sengaja kutulis untuk membangkitkan kembali gairah menulisku..