Rabu, 21 September 2016

[20-09-2016,21-09-2016 ] Masih IXL


Hari Ini dan kemarin Jasmin masih belajar berhitung , konsep angka 1-5. Sera Bahasa Inggris melalui Starfall.com, yaitu mendengarkan , mengenai tubuh manusia, benda-benda dll


Senin, 19 September 2016

[19-09-2016] Belajar Mewarnai dan Berhitung



Mulai minggu ini , kami berusaha untuk mulai membuat jadwal yang lebih terstruktur, untuk Jasmin. Jika kemarin-kemarin tidak ada pembatasan dalam menyetel TV, maka mulai kemarin TV tidak dinyalakan sore hari. Ternyata hal ini cukup efektif. Selain mematikan TV, saya sebagai ibunya juga mulai fokus dalam mendampingi Jasmin belajar. Fokus, dalam artian sudah tak pegang gatget selama mendampingi anak belajar..Dan hasilnyaa..sungguh diluyar duagaan..Jasmin jadi begitu antusis untuk belajar. Bahkan, hari ini , ketika saya baru saja pulang kerja, langsung nagih mau belajar lagi. 

Kamis, 11 Juli 2013

Kunjungan Ke Musium Wayang " Sendang Mas " Banyumas


Wayang merupakan salah satu kebudayaan .Untuk belajar lebih mencintai budaya negeri sendiri, pada tanggal 09 Juli 2013 kemarin anak-anak dan teman sesama SBR ( Sekolah Berbasis Rumah ) mengunjungi Musium Wayang Sendang Mas Banyumas. Musium yang terletak di sebelah timur Balai Duplikat Sipanji Banyumas ini salah satu musium yang dimiliki Kabupaten Banyumas, disamping Musium BRI dan Musium Jendral Sudirman

Museum Sendang Mas diresmikan oleh Ketua Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) pada tanggal 31 Desember 1983. Tahun 1984 dikelola oleh Kepala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas. Pada tanggal 20 Mei 1985 pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Seni Budaya Sendang Mas. Mulai tanggal 31 Juli 1989 museum ini dikelola sebagai asset wisata budaya di Kabupaten Banyumas oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas.

Koleksi yang ada di museum ini antara lain gamelan laras Slendro, wayang gagrag Banyumas, wayang gagrag Yogya, wayang Krucil, wayang Prajuritan, wayang Kidang Kencana, wayang Golek Purwa, wayang Golek Menak. Tokoh Bawor dalam wayang gagrag Banyumasan. Dalam wayang gagrag  Ngayogyakarta dan Surakarta disebut sebagai Bagong.
Disamping melihat-lihat koleksi wayang yang ada di musium anak-anak juga mencoga menabuh gamelan yang terdapat di sana dengan didampingi oleh salah satu petugas yang ada di Musium tersebut. 






Jumat, 15 Maret 2013

Mengikuti Les Gambar


Sebagai orang tua kami hanya berusaha mengarahkan dan memfasilitasi agar anak anak menemukan potensi sesuai dengan minatnya. Tak mudah untuk benar-benar mengetahui sebenarnya apa keinginan yang benar-benar mereka miliki. Apalagi mereka semua masih anak-anak. Terkadang begitu senang dengan suatu kegiatan, namun disaat yang lain kembali bosan.
Seperti anak keduaku, Fatih. Kalau kami perhatikan anaknya memang cepat bosan terhadap sesuatu. Sebenarnya keinginan belajar ada, tapi terkadang hanya ikut-ikutan saja. Pernah saat kakaknya aku daftarkan pada program pembelajaran matematika online, Fatih pun nggak mau ketinggalan ingin didaftarkan juga, setelah didaftarkan ternyata senang belajarnya cuma di awal-awal saja , setelah itu kembali bosan. Pernah lagi senang-senangnya membuat komik on line, kubelikan juga buku panduannya, namun kembali bosan. Membaca dan mencoba menulis cerita juga pernah, namun hanya sebentar juga. Belajar membuat blog pun pernah, namun seperti biasa tak diisi juga.Hal yang kulihat masih senang dilakukan adalah menggambar. Karena dari dulu sepertinya nggak bosan-bosan. Oleh karena itu saat salah satu teman menawarkan  untuk mengikuti les gambar pada anakku, dengan senang hatipun kami terima. Les gambar dijadwalkan setiap Sabtu jam 15.00-17.00 bertempat di Sokaraja . 




Rabu, 02 Mei 2012

Melatih Kemandirian Anak

Bongkar Lemari baju
Terkadang kami merasa prihatin dengan remaja-remaja sekarang yang   cukup pintar di sekolah, tetapi tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari. Kelihatannya memang sepele dan tidak penting. Tapi nyatanya banyak anak usia SMP bahkan mungkin SMA jaman sekarang hanya sekedar mencuci baju atau memasak makanan sederhana saja ternyata tidak bisa. Hal ini bisa saja terjadi karena sejak kecil mereka tidak dilatih untuk melakukan sesuatu tanggung jawab pekerjaan
. Terkadang orang tua terlalu memanjakan karena, segala sesuatu dilakukan oleh pembantu rumah tangga. Anak hanya ditugaskan untuk belajar-dan belajar demi untuk mendapatkan nilai yang sebagus-bagusnya di sekolah , dan melupakan pelajaran yang tak kalah penting ,yaitu keterampilan hidup.
Dulu sewaktu kami kecil, kelas lima SD saja sudah diberitanggungjawab untuk mencuci , menyetrika baju sendiri. Memang sih aku masih ingat betul pada saat itu aku juga ogah-ogahan dan sering jawab, nanti..nanti,,jika disuruh melakukan sesuatu hal, tapi lambat laun kami merasa terbiasa dan justru belum tenang kalau belum melakukan tugas yang menjadi tanggung jawab kami.
Kami pun berusaha mengajarkan hal yang sama pada anak-anak kami. Tentu saja sesuai dengan usia mereka. Untuk itu kami berusaha me libatkan anak-anak dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, hal ini juga kami lakukan untuk melatih kemandirian anak. entah itu memasak, mencuci piring, menyapu lantai dan lain-lain. Melihat anak – anak mencuci piring bareng –bareng jadi teringat saat anakku sekolah di PAUD dulu. Di PAUD itu pun ada kegiatan cuci-cuci tapi pakai piring plastik. Dan untuk itu kami harus bayar biaya bulanan, Alhamdulillah tanpa biaya sedikitpun sekarang kami juga bisa lakukan itu di rumah, bahkan langsung praktek pakai piring dan gelas betulan.
Kalau sedang mood nya bagus ya mereka melakukan dengan penuh semangat, meskipun tak kami suruh. Tapi jika lagi nggak mood ya paling hanya iya..iya..nanti..nanti..tanpa dikerjakan. Memang sih, keluarga kami mempunyai asisten rumah tangga, tapi kami berusaha untuk tidak mengandalkan sepenuhnya semua pekerjaan rumah tangga kami. Kami berusaha kerjakan apa yang kami sempat bersama anak-anak.

Selasa, 01 Mei 2012

Berbagai Gaya Orang Tua Dalam Pengasuhan Anak

Artikel Copas, tulisan ini sudah beberapa kali saya baca, di catatan Fesbuk teman, di blog teman, dan rasanya nggak ada bosan bosannya aku baca karena setelah baca tulisan ini jadi lebih bisa instropeksi diri, termasuk gaya yang manakah dalam pengasuhan anak-anak kita selama ini ? 
Dicuplik dari tulisan Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan "mis-education" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind(1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:
Gourmet Parents-- (ORTU B0RJU) Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak.Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka "superkids" merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknya baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua "gourmet " atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.
College Degree Parents --- (ORTU INTELEK ) 
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka "Superkids ", apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.
Gold Medal Parents --(ORTU SELEBRITIS ) 
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan merijadi "seorang Bintang Sejati ". Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik ketika anak-anak mereka masih berusia TK. Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta. Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar.Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik" Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka! Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik "Joshua" yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang "superkid" --seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film....
Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya "Superkids" --earlier is better". Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompokpenyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.
Outward Bound Parents--- (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep "Superkids". Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya "Karate, Yudo, pencak Silat" sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi "steril"
dengan lingkungannya.
Prodigy Parents --(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, narnun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya. Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka
sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang "Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca"karangan Glenn Doman , atau "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika" karangan Siegfried, "Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang" karangan Therese Engelmann, dan "Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca DalamWaktu 9 Hari" karangan Sidney Ledson.
Encounter Group Parents--( ORTU NGERUMPI )
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-­anak dengan berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak.Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai "Superkids" juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yangdiharapkan.
Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Kelompok ini tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan "miseducation" dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh  perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan
musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik! Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak.Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan
terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita" (destoyevsky' s brothers karamoz)

Minggu, 22 April 2012

Tantangan dan Hambatan HS Kami

Tak terasa sudah satu tahun anak-anak kami tak sekolah di sekolah formal. Selama kurun waktu tersebut terkadang kami begitu bersemangat, dalam menjalani proses home education  kami,  namun ada kalanya kami merasa ragu-ragu dan tidak bersemangat . Sejak awal kami memutuskan untuk mengHSkan anak-anak kami hingga sekarang ada beberapa hal yang pernah membuat kami ( khususnya  aku, sebagai ibunya ) merasa begitu down dan kurang bersemangat dan boleh dikatakan inilah tantangan dan hambatan dalam proses Home Education kami :


1. Menghadapi reaksi orang-orang disekitar kami.
Mungkin inilah hal pertama membuat kami merasa tidak nyaman..Saat kami harus mendengarkan komentar-komentar miring tentang HS. Tidak sebatas komentar, namun juga perubahan sikap dari orang orang terdekat . Hampir sebagian besar tak mendukung keputusan kami. kalau difikir-fikir hanya suamikulah yang benar-benar mendukung. Kami juga sempat menjadi bahan pergunjingan di lingkungan sekolah, diacara kumpul-kumpul hajatan, sampai sekedar perbincangan ringan di warung. Anak kami juga sering ditanya-tanya sama tetangga. Pada saat itu aku sendiri benar-benar merasa down dan stress juga memikirkannya. Kami dianggap tidak menghargai pihak sekolah, kami , ada yang bilang juga kalau kami ikut aliran tertentu atau aliran sesatlah.  Sedangkan suamiku terkesan lebih cuek. Kalau dilingkungan teman-teman kerja Alhamdulillah biasa-biasa saja, Paling sekedar bertanya dan aku jawab saja seperlunya. Saat bertemu teman kadang ada yang menayakan anakmu kelas berapa, rangking berapa  Untuk menghindari pertanyaan yang berkepanjangan lah, kadang aku jawab sekenanya saja. Yang kami rasa agak berat adalah menghadapi reaksi dari beberapa keluarga dekat kami yang menurutku terlalu berlebihan. Hanya karena HS, silaturahmi merenggang. Tapi suamiku selalu memberi semangat, bahwa yang terpenting bukan kita yang menjauh dari mereka.  Seiring berjalannya waktu kami berusaha untuk tetap semangat, meskipun harus menghadapi berbagai macam reaksi tersebut. Karena kalau hidup ini sibuk mendengarkan omongan orang lain, bagaimana kami akan maju, bagaimana kami akan melangkah yang ada justru kebingungan dan keragua-raguan .
2. Terbatasnya waktu kebersamaan kami dengan anak
Idealnya memang ada salah satu dari kami yang selalu memdampingi dan mengawasi proses home education pada anak-anak kami. Namun karena kami sama-sama bekerja waktu yang seharusnya kami miliki untuk mendampingi anak-anak menjadi terbatas. Setiap hari kecuali hari libur, aku harus ngantor dari jam tujuh pagi hingga jam dua, begitu juga dengan suamiku, meskipun waktu bekerja suamiku lebih fleksibel karena bukan pegawai kantoran, namun tak jarang ada saat-saat dimana kami sama-sama harus meninggalkan rumah untuk bekerja. Mau tak mau anak-anak hanya didampingi oleh Nenek, dan asisten rumah tangga kami. Sebelum kami meninggalkan rumah kami coba memberikan sedikit pesan, arahan kadang-kadang juga tugas pada anak-anak kami. Untuk anak kami yang paling besar, kami beri tanggung jawab lebih untuk membimbing adik-adiknya. Dalam hal ini tugas yang kami berikan tidaklah sama dengan memberikan PR layaknya guru pada muridnya, kecuali memang anak menginginkan . Sebelum kami berangkat kerja kami hanya katakan." Bunda mau berangkat ne, hari ini pada kepingin belajar ngapain?"  Kalau si sulung, 11 tahun kadang-kadang cuma pengin belajar edit photo, belajar ngeblog, ataupun belajar online di IXL Math, sedangkan yang nomor dua lebih senang menggambar, nulis-nulis cerita. Kalau yang nomer tiga lebih meniru kakak perempuannya, suka edit-edit foto dan kadang IXL math juga. Yang nggak pernah ketinggalan selingan game-gamean online nya. Tapi ada kalanya juga minta mengerjakan worksheet,mempraktekkan  percobaan percobaan percobaan kecil dari buku, kadang -kadang juga cuma baca-baca buku.
Karena terbatasnya waktu, maka waktu kebersaaman yang terbatas ini harus benar-benar kami manfaatkan agar benar-benar berkwalitas.
3. Tidak ada yang mengawasi saat anak-anak berseluncur di dunia maya.
Yang ini erat kaitanya dengan yang hambatan nomer dua di atas. Karena kadang-kadang kami harus meninggalkan rumah dalam waktu bersamaan, sementara anak-anak ingin belajar melalui internet, terpaksa anak anak harus lakukan itu tanpa pengawasan orang tua. Meskipun anak mungkin tidak sengaja membuka situs situs dewasa, namun seringkali mesin pencari mengarah pada situs situs untuk orang  dewasa. Untuk yang satu ini kami berusaha tetap memantau baik pada saat itu juga dengan menanyakan melalui handphone, maupun mengecek kembali situs apa saja yang disinggahi.

Sabtu, 21 April 2012

Nabila, Antara Ngeblogg, Chery Bellle dan Realita Musik Anak Indonesia


Seperti sudah diketahui bahwa salah satu dari jenis kecerdasan menurut teori Multiple Intellegensia adalah kecerdasan bahasa ( linguistik ) yaitu  kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekpresikan gagasan. Salah satu stimulus agar anak memiliki kecedasan Bahasa adalah dengan meminta anak untuk menceritakan pengalamannya baik secara langsung maupun mengungkapkan dalam bentuk tulisan misalnya buku harian.
Salah satu bentuk buku harian modern saat ini adalah blog, berhubung anakku Nabila ( 11 tahun ) agak kurang telaten menulis di kertas biasa, maka untuk mendorong dan menstimulasi kecedasan bahasanya, saya sarankan untuk belajar membuat blog. Dan anakpun kelihatan tertarik, meskipun tadinya bingung mau nulis apa. Untuk langkah-langkah membuat blog, anakku tidak mengalami kesulitan hanya tinggal mengikuti langkah-langkahnya saja. Alhasil lahirlah blog anakku yaitu  Aku Punya Blog'ss. Blog ini murni bikinan anakku, memang sih bentuknya masih sederhana  banget. Untuk mempercantikpun anakku mengotak atik sendiri dan mencari scrip scrip sendiri . Hanya sayang untuk isi blognya sendiri masih ambil dari buku-buku yang ada di rumah maupun dari blog-blog lain. Isinya pun hanya resep resep sederhana, lirik-lirik lagu Cherry Belle, karena kebetulan ngefans berat sama girlband yang sedang in yaitu Cherry Belle. Sebenarnya sebagai orang tua merasa prihatin juga, kenapa harus Cherrry Belle yang notabene adalah girlband remaja yang jadi idolanya, dimana sebagian lagu-lagunya bertemakan cinta dan  orang dewasa sedangkan usia anakku saat ini belum menginjak remaja. Bukan hanya Nabila saja yang suka benget dengan grup ini, bahkan kedua adiknya , jauza ( 5 th ) dan Fatih ( 8 th ) juga ikut-ikutan ngefans .Hal ini karena adanya tayangan di TV yang begitu gencar menyiarkan dan memutar lagu-lagu dewasa, khususnya lagu-lagu Chery Belle ini. 
Kepengin banget mengalihkan kesukaan mereka ke musik atau lagu -lagu lain yang sesuai dengan usia mereka, seperti lagu-lagu di PELANGI NADA, namun sepertinya tidak mudah karena mereka sudah terlanjur menyukai lagu-lagu dewasa. Andai aku mempunyai waktu yang lebih untuk mengawasi mereka dalam menonton tayangan-tayangan di TV ?..



Minggu, 15 April 2012

Merubah Kebiasaan Buruk Sedikit demi Sedikit

Sebenarnya di awal tahun 2012 banyak sekali  rencana yang sudah tersusun dalam benakku.Banyak hal yang ingin aku lakukan untuk menjadi lebih baik. Karena selama ini aku merasa belum maksimal dalam menjalankan tugas tugasku sebagai kepala ibu rumah tangga maupun manusia pada umumnya. Banyak sekali kebiasaan-kebiasan buruk yang masih sulit aku tinggalkan. Kebiasaan buruk serta akibat yang ditimbulkan itu antara lain:


1. Senang begadang, susah bangun pagi, akibatnya tidak bisa menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dengan tepat waktu, tidak bisa makan bersama anak-anak,nggak sempat sarapan di rumah dan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli sarapan, tidak sempat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring mencuci baju sendiri membereskan rumah,sehingga terpaksa harus mempunyai asisten rumah tangga untuk menyelesaikannya, tidak sempat berolahraga ,  tidak maksimal dalam memberikan ASI pada si kecil karena terburu buru , berangkat kerja kesiangan,mengantuk di tempat kerja , anak-anak jadi ikut -ikutan bangun kesiangan dan lain sebagainya yang jika dirunut akibatnya  akan cukup panjang.
2. Sering menunda-nunda pekerjaan. Pekerjaan yang harusnya bisa dilaksanakan seringkali di tunda tunda karena merasa belum begitu mendesak, akibatnya bila pada saat seharusnya waktu bisa dimanfatkan untuk mendampingi anak-anak belajar, justru digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tersebut, apalagi jika tiba - tiba harus menyelasaikan suatu pekerjaan yang harus deselesaikan saat itu juga makin menumpuklah beban pekerjaan yang harus diselesaikan.
3. Sering menyia-nyiakan waktu, dengan kegiatan kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti game-game an terlalu lama, OL fesbukan terlalu lama,menonton tayangan televisi yang tidak penting, ngerumpi, nggosip dan lain-lain  padahal satu detikpun waktu yang sudah lewat tak akan kembali. Terkadang saat malam tiba baru terasa dan muncul pertanyaan dalam diriku, " Hari ini aku sudah berbuat apa ?" Apa yang sudah aku lakukan untuk keluargaku, anak-anakku. suamiku?"
Ingin sekali merubah kebiasaan -kebiasan buruk tersebut, sedikit demi sedikit . Dan di awal tahun 2012 ini akupun sudah mencatat hal-hal yang ingin aku lakukan, dari hal-hal yang mungkin kecil. Untuk langkah awal mungkin cukup satu hal dulu yang ingin aku kerjakan, yaitu " Sarapan pagi di rumah". Aku memilih hal ini dengan pertimbangan bahwa kalau aku ingin sarapan pagi di rumah, otomatis aku harus bangun lebih pagi karena harus memasak dulu sebelum berangkat kerja, bisa saja sih aku bangun agak siangan dan berangkat kerjanya yang menjadi telat, tapi tak mungkin aku lakukan tiap hari, karena lama-lama pastilah nggak enak sama teman-teman kerja. So, targetnya nggak muluk muluk..cukup di coba satu minggu dulu...






Kamis, 29 Maret 2012

Satu Tahun Home Education Kami

Captureki

Setelah itu membuat anak-anak kami benar-benar nyaman dan senang menjalani proses pebelajaran di rumah.( keluarga ) . Dan alhamdulillah anak-anak kami sangat menikmati proses pendidikan berbasis keluarga ini. Karena tahun pertama adalah tahap peralihan dari sekolah formal ke nonformal homeschooling  jadi untuk tahun ini kami juga tidak membuat jadwal kegiatan yang terstruktur untuk anak kami.
Untuk kegiatan yang sudah  rutin kami lakukan adalah renang, setiap hari Sabtu, berkumpul dengan keluarga homeschooling di Purbalingga setiap hari Senin dan Rabu. Kegiatan kumpul-kumpulpun masih belum terstruktur, terkadang belajar ketrampilan memasak, kadang beladiri,pergi ke perpustkaan  kadang hanya sekedar main-main dan bertemu teman . Tapi anak anak kelihatan menikmati dan senang, terbukti apabila nggak bisa berangakat karena suatu hal anak-anak terlihat cemberut dan BT. Untuk kegiatan di rumahpun masih sesuka hati. Untuk Nabila, anakku yang paling besar lebih menyukai belajar edit-edit foto, belajar ngeblog, tentu saja selalu diselingi dengan main game. Sedangkan Fatih lebih senang dengan menggambar dan baca-baca komik.Untuk Jauza hampir seperti kakak perempuannya, lebih suka editing photo, game-game perempuan, disamping itu IXL Math dan Starfall juga situs faforit Jauza. Apalagi kemarin dapat kesempatan berlangganan  IXL Math dengan biaya sangat murah, cuma seratus ribu satahun melalui Ibu  Septi Peni Wulandani. Padahal biasanya bisa sampai dua ratusan ribu sebulan. Lumayan bisa kerjakan soal-soal matematika sampai puas, meskipun cuma daftar satu akun untuk bertiga.
Sudah hampir satu tahun kami menjalankan proses Homeschooling pada anak-anak kami. Kalau mau mengukur apakah kami bisa dikatakan sukses ataukah gagal, mungkin terlalu awal. Karena ukuran kesuksesan sendiri berbeda-beda, tergantung masing masing orang. Untuk tahun inipun kami tidak mentargetkan anak kami harus bisa ini atau bisa itu. Yang terpenting bagi kami adalah memantapkan hati kami dulu agar tak setengah-setengah dalam menjalankan Homeschooling pada anak-anak kami.


Rabu, 28 Desember 2011

Jawaban Tentang HS Kami ( 2 )



Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya, Jawaban Tentang HS Kami ( 1 ).
6. Bagaimana sosialisasinya, bagaimana pergaulannya ?
Anak Homeschooling belajar dari siapa saja, tak ada batasan dalam pergaulannya. Bisa dengan orang dewasa sebaya maupun dibawahnya. Alhamdulillah sampai sekarang anak-anakku masih suka disamperin sama teman-temannya baik sebaya maupun dibawahnya. mengenai pergaulan justru kami agak prihatin dan khawatir melihat berita-berita tentang  pergaulan anak-anak sekolah jaman sekarang.
7. Bagaimana Ijazahnya nanti..bagaimana masa depannya,
Saat ini memang ijazah dianggap harga mati untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Ijazah selalu dihubungkan dengan pekerjaan dan Kesuksesan,dan Kesuksesan sendiri masih banyak diidentikkan dengan banyaknya  kekayaan materi, jabatan dan sejenisnya. Namun tiap keluarga mempunyai penillaian yang berbeda dalam memandang sebuah kesuksesan. Namun demikian bukan berarti kami menganggap bahwa ijazah tidak penting bagi kami, namun ada hal yang mungkin lebih penting yaitu skill. Mungkin bagi yang bercita-cita ingin menjadi PNS ijazah mutlak diperlukan. Untuk anak Homeschooling ijazah  bisa didapatkan melalui ujian kesetaraan paket.  Dan saat ini memang peraturan pemerintah masih belum berpihak kepada praktisi Homeschooling yang menginginkan ijazah bagi anak-anaknya. Saai ini kami sedang mencari informasi sebanyak-banyaknya dan mempertimbangkan untuk mencari alternatif lain selain mengikuti ujian paket., semisal dengan mengikuti ujian Cambrige. Hmm..Kelihatannya memang keinginan yang muluk, melihat bahwa kami hanyalah lulusan SMA yang Bahasa Inggrisnya juga minim. Namun kami berusaha optimis dan senantiasa belajar dan terus belajar. Inilah enaknya Homeschooling, orang tua dituntut untuk ikut belajar bersama anak-anak.
Smile

Kamis, 15 Desember 2011

Jawaban Tentang HS Kami ( 1 )

?Hampir setiap keluarga HSbaru akan menghadapi beragam reaksi dari lingkungan sekitar, entah itu keluarga, teman kerja, tetangga maupun sekolah ( bagi keluarga HS yang tadinya menyekolahkan anaknya di sekolah formal ).Begitu juga yang dialami keluarga kami.  Saat kami memutuskan banyak pertanyaan-pertanyaan ditujukan kepada kami. Dan berikut adalah pertanyaan maupun pernyataan yang sering kami terima :

1. Homeschooling di mana ?
Pertanyaan ini timbul karena pengertian Homeschooling di masyarakat sendiri masih rancu. Sebagian besar masih mengangggap bahwa Homeschooling adalah sebuah lembaga. Sedangkan menurut informasi yang kami dapat dari praktisi Homeschooling, Homschooling bukanlah sebuah lembaga. Homeschooling ( Home Education ) adalah ketika keluarga memilih untuk bertanggung jawab dan menyelenggarakan sendiri pendidikan anaknya dan tidak mengirimkan anaknya ke sekolah. Di Indonesia sendiri memang banyak lembaga yang mengatasnamakan Homeschooling, yang sebenarnya lebih tepat dinamakan Bimbel, Kursus dan lain-lain.
3. Siapakah gurunya, trus anaknya ngapain aja di rumah..
Ada yang beranggapan bahwa Homeschooling adalah hanya memindahkan proses belajar mengajar ke rumah ( school at home ) sehingga dalam bayangannya orang tua mendatangkan guru prifat ke rumah. Dalam Homeschooling keluargalah yang menjadi pusat atau fokus. Orang tua mungkin bukan ahli segala-galanya. Namun peran orang tua disini adalah memfasilitasi mengarahkan hingga anak-anak bisa betul-betul bisa jadi pembelajar yang mandiri..Bisa saja orang tua memanggil guru atau yang ahli dalam bidang tertentu apabila diketahui anak memang sangat berminat pada suatu bidang dan orang tua memang tidak menguasainya. Apa yang dilakukan anak anak di rumah ? Tentu saja banyak hal yang bisa dilakukan. Anak Homeschooling bisa belajar kapan saja dimana saja. Setiap momen adalah pembelajaran, hal-hal  kecil yang  mungkin dianggap sepelepun bisa dijadikan proses belajar Dari melihat matahari sampai melihat seekor cicakpun bisa dijadikan obyek pembelajaran. Belajarpun bisa dengan apa saja, bisa bermain game, membantu masak di dapur, mencuci piring, bermain airpun adalah belajar, bisa belajar matematika, IPA, Agama, PPKN, secara langsung pula. ( Jadi ingat dulu pas anakku masih di PAUD, ada juga kegiatan main air, cuci piring, piring plastik, Alhamdulillah kalau sekarang sih cuci piring beneran juga dah bisa )
4. Oh..yang kayak artis itu ya..berarti orang kaya dong bisa ikut Homeschooling..Gajinya berapa ya.?..
Ada yang beranggapan bahwa Homeschooling adalah untuk orang kalangan tertentu, semisal  artis. Bagi kami sendiri tak terlintas untuk mengHSkan anak-anak karena ikut-ikutan kayak artis. Terlalu berat kalau sekedar ikut-ikutan. Sebenanya biaya Homeschooling sangatlah fleksibel tergantung kondisi masing-masing keluarga. Karena dalam Homeschooling tak ada ketentuan dalam menentukan sarana belajar. Bisa menggunakan buku bekas, internet maupun belajar dari keseharian. Disinilah perbedaanya dengan sekolah. Mungkin di sekolah kita diwajibkan membayar uang Gedung dan sejenisnya, yang nantinya akan digunakan untuk membangun sarana olahraga, membeli  alat drumb Band ataupun alat musik. Jika anak kita memang berminat pada bidang-bbidang tersebut, mungkin akan berasa manfaatnya. Namun jika anak kita ternyata mempunya minat yang berbeda hal itu tentu kurang bermanfaat bagi anak kita. Sedangkan di Homeschooling, biaya yang  dikeluarkan bisa langsung digunakan untuk keprluan anak sesuai denagn minat dan bakatnya.
5. Kalau saya mending dijalani dua-duanya, ya Sekolah ya Homeschooling.
Kami pernah mendengar hal itu dari seorang teman . Mungkin maksudnya adalah anak tetap bersekolah ( sekolah formal) sesudah pulang anak belajar di rumah. Menurut artikel yang pernah kami baca, ( artikel lengkap bisa klik disini ) salah satu substansi Homeschooling adalah bahwa Homeschooling adalah pendidikan alternatif ( bukan sekolah ) . Jadi ketika anak-anak masih menjalani sekolah formal, meskipun sesudah di rumah ia belajar dengan metode-metode ala Homeschooling tidaklah bisa dikatakan Homeschooling. Orang tua yang menyekolahkan anaknya berarti bukan Homeschooling, Homeschooling adalah Homeschooling, sekolah adalah Sekolah.( bersambung )

Minggu, 20 November 2011

Belajar Menulis Cerita

 Pada awalnya, anakku Fatih hanya melihat dan membaca cerita yang aku peroleh dari Indonesia  Bercerita, Mendidik Melalui Cerita. Kemudian ia tertarik untuk menulis cerita sendiri dan katanya sih ingin mengirim cerita juga. Dan inilah cerita yang dibuat oleh Fatih. Tulisan ini aku tulis, tanpa aku sunting, untuk menghargai karyanya sendiri walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan . Ceritanya berjudul “ Nenek Baik Hati “
“NENEK BAIK HATI “
Pada suatu ketika ada seorang nenek. Nenek itu bekerja di hutan.Nenek itu setiap harinya mencari kayu bakar untuk dipasarkan. Kebetulan nenek sedang membawa buah-buahan. Nenek itu melihat ada seorang anak tengan menangis keras.” Hu..hu..Hiks “ Nenek itu berkata “Kenapa kamu na, kenapa kamu sendirian ? “Saya tidak tahu orangtua saya siapa dan dimana Hu..hu..” anak itu tetap menangis” Sudah-sudah jangan menagis” nenek itu berkata,”Yuk ke rumah nenek nanti nenek kasih makan kamu, ya na” Terimaksih” “ Iya” Nenek dan seorang anak itupun berjalan hingga sudah dekat.. “Nanti kita mau makan apa “ Kata nenek itu. “nasi saja Nek, “Iya” Nenek itupun tiba dihalaman rumah nenek. “itu rumah nenek” “iya” Walaupun rumah nenek kecil tapi kamu jangan kuatir ya, nenek sudah menyiapkan makan siang . Nenek sudah memberi nama anak itu yaitu Adi. Adi yang dari tadi lapar langsung makan lahap-lahap. Nenek teyartawa melihat perilaku Adi, Ha..ha..ha. Pada suatu hari nenek memasarkan kayu yang kemarin nenek cari. Sebelum nenek itu berangkat, nenek tidak lupa memberi pesan “Di, nanti kamu baik-baik di rumah Ya. “ Ya nek “ Adi menjawabnya. Nenek berangkat ke pasar, diperjalanan nenek melihat kesamping ternyata ada pengemis. Pengemis itu berkata, “Tolong saya, saya belum makan tiga hari . Mengasihani nenek itu nenek memberi 5  pisang kepada pengemis. “ Nih” Ketika sampai nenek menjual kepada seorang pedagang” Itu kayunya berapa harga semua ? Rp. 100 ribu” boleh dikurangi harganya ? “ Boleh Rp. 50 ribu ? “Ya”Nenek pulang membawa oleh-oleh untuk Adi. Ketika nenek sampai nenek memberikan oleh-oleh itu kepada Adi. Adi senang sekali, nenekpun ikut senang, Sampai adi sudah menikah dengan perempuan cantik dan sampai Adi mempunya anak Adi tetap mengingat nenek dan Adi meniru perbuatan nenek dulu.
Begitulah cerita nenek dan Adi. Nenek baik hati, Adi menceritakan hal ini kepada istri . Pada suatu hari adi akan ke kantor, mau kerja Adi pamit pada istrinya Sinta. saat Adi mengemudi mobil Adi sangat lapar. Adi mampir restoran Adi bukannya beli Hodog, Hamburger malah Adi beli nasi uduk dan air putih karena Adi mengingat nenek dulu membawakan nasi uduk dan segelas air putih. Setelah Adi makan Adi kenyang, “ Ah kenyang..Adi melanjutkan perjalananya . Adi selalu ingat nenek. Nenek Adi bernama Surni. dan Adi juga selalu menjenguk makam nenek Surni Almarhum. Adi sudah sampai, ada Satpam yang sedang memarahi nenek-nenek Adi menghampiri Satpam itu. Maaf pa, ini neneknya jangan dimarahain, kasian dong, emangnya ada salah apa, “ Ia bertanya. Ini tadi dia bilang, dia bilang ia nenek bos. “ Kata satpam itu. “ Oke, siapa nama nenek ? “ Sarti “ Kemudian Adi mengajak nenek itu ke kantornya . " Ayo makan dulu, kata Adi. " Terima kasih na" " Sama-sama nek, Adi juga senang bisa membantu"

Sabtu, 19 November 2011

Tak Ada Kedewasaan Instan

Jasmine
Sesungguhnya, taraf kemampuan kognitif anak bertingkat-tingkat secara hierarkis. Dan pendidikan berkewajiban mengantarkan setiap anak agar mampu mencapai taraf kognitif yang setinggi-tingginya. Taraf paling rendah adalah pengetahuan. Ini merupakan kemampaun untuk mengetahui, mengenal dan mengingat apa-apa yang sudah ia pelajari. Ia bisa mengulang kembali dan menyampaikan kepada orang lain. Di negeri ini, pelajaran di kelas dan ujian di sekolah kerapkali hanya menakar kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan.


Berbagai teknik atau trik yang banyak diperkenalkan (lebih jelasnya: dijual) kepada masyarakat umumnya sebatas membantu anak mencapai kemampuan kognitif terendah. Bukan mengembangkan kemampuan berpikir. Lebih-lebih cara berpikir, umumnya hampir tak tersentuh. Tetapi inilah yang paling mudah kita lihat: atraksi kebolehan dan demonstrasi yang menunjukkan perubahan cepat luar biasa. Karena terpukau, kita kemudian kehilangan daya berpikir kritis tatkala para trainer itu mengatakan bahwa trik-trik tersebut membangun karakter anak! Padahal yang dimaksud bukan karakter. Yang dimaksud hanyalah sebatas kemampuan kognitif.

Karakter lebih banyak berkait dengan kualitas personal pada diri seseorang. Karakter bermula dari kesadaran terhadap nilai-nilai (bukan sekadar tahu atau bahkan paham), partisipasi atau kesediaan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan barulah kemudian sampai pada tingkat karakterisasi diri.

Yang dimaksud dengan penghayatan nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya. Sedangkan pengorganisasian nilai merupakan kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya. Sampai pada tingkat ini, karakter masih belum terbentuk. Karakterisasi baru terjadi apabila seseorang telah mampu memilih nilai sebagai gaya hidup (life style) dimana sistem nilai yang terbentuk mampu mengawasi tingkah lakunya.

Jadi, ada proses panjang sebelum terbentuk dalam diri seseorang. Ia bukan sekedar keterampilan. Ia merupakan perwujudan nilai-nilai yang mempengaruhi pikiran, cara pandang, penghayatan dan gaya hidup kita. Ia menjadi penakar dalam menentukan sebuah tindakan terkait dengan patut atau tidak, mulia atau hina. Ia berangkat dari kesadaran. Bukan pengetahuan. Kesadaran merupakan tingkat terendah dari kemampuan afektif. Sedangkan tingkat terendah kemampuan kognitif adalah pengetahuan (knowledge). Ini berarti, sekadar pintar tak berpengaruh pada karakter.

Setingkat di atas pengetahuan adalah pemahaman (understanding). Pada tingkat ini –tingkat terendah kedua dalam kemampuan kognitif—anak mengerti dengan baik apa yang dipelajari. Kemampuan ini bukan semata karena anak belajar, tetapi karena pendidik memang memahamkan. Bukan sekadar menyampaikan sejelas-jelasnya sehingga anak mengingat dengan baik dan mampu menyampaikan kembali secara gamblang. Pendidik perlu secara serius merangsang kemampuan berpikir anak sehingga mereka memahami dengan baik apa yang diterangkan.

Yang perlu kita catat, pemahaman tidak berpengaruh terhadap perilaku. Pemahaman baru akan bermanfaat menuntun dan mengarahkan perilaku anak-anak kita, jika mereka telah menghayati nilai-nilai agama ini dengan baik. Sangat berbeda, menghayati dengan memahami.

Itu pula yang menerangkan mengapa anak yang telah memahami baik-buruknya sesuatu, tidak berubah perilakunya. Kecerdasan mempengaruhi kemampuan mengingat, mencerna dan memahami sesuatu. Sedangkan keyakinan mendorong orang untuk menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya, meskipun bertentangan dengan pemahamannya.

Kembali pada jenjang-jenjang kemampuan kognitif. Setingkat di atas pemahaman adalah penerapan (aplikasi), yakni kemampuan menggunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata. Ini bukan berurusan dengan keyakinan. Ini erat kaitannya dengan kecakapan untuk menerapkan apa yang telah ia ketahui. Shalat misalnya. Anak bisa melakukan shalat dengan sangat baik bukan karena yakin dan suka, tetapi karena ia memahami betul tata-cara shalat yang baik.

Jenjang kemampuan berikutnya adalah analisis. Berbekal pemahaman yang baik dan mendalam atas berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan sekaligus (pernah) ia praktikkan, seseorang bisa mencapai kemampuan analisis. Ia mampu menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Jika kemampuan ini berkembang lebih lanjut, ia akan sampai pada taraf kognitif yang lebih tinggi, yakni sintesis. Ini merupakan kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti. Ia mampu menemukan benang merah berbagai pengetahuan yang berserak menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.

Tingkat tertinggi kemampuan kognitif adalah penilaian. Bukan menilai orang dari apa yang tampak, melainkan kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan yang ditetapkan terlebih dahulu, baik bersifat internal maupun eksternal. Di tingkat inilah seseorang mencapai tingkat pemahaman yang mendalam. Kemampuan ini barangkali lebih dekat dengan makna faqih. Bukan sekadar faham. Dan amat sedikit orang yang mencapai kemampuan ini.

Cerdas & Terampil Belum Mencukupi
Apakah anak-anak sudah cukup berharga jika mereka mencapai kemampuan kognitif yang tinggi? Cerdas saja tidak cukup. Alangkah banyak anak-anak yang cerdas tetapi miskin keterampilan. Lalu, apakah cerdas dan terampil telah cukup untuk membekali mereka meraih sukses? Jangankan untuk akhirat. Sukses dunia pun tak cukup hanya berbekal cerdas dan terampil. Bahkan kejeniusan pun tak menolong mereka.

Mari kita ingat sejenak salah satu jenius besar yang pernah lahir di muka bumi. Namanya William James Sidis. Bapaknya –seorang profesor—adalah pengagum besar William James, tokoh psikologis behaviorisme yang yakin betul bahwa pembiasaan merupakan kunci terpenting pendidikan.

Sejak usia 6 bulan, ayahnya telah mengajarkan kepadanya huruf-¬huruf sesuai urutan abjad. Sesudah itu, ayahnya mengajarkan ilmu bumi, ilmu ukur, ilmu tubuh manusia, dan bahasa Yunani berdasarkan buku ajar yang dipakai di sekolah. Hasilnya, usia lima tahun William James Sidis telah mampu menyusun karya ilmiah tentang anatomi. Kejeniusannya berkembang sehingga pada usia 11 tahun ia telah menjadi mahasiswa di Harvard University dan usia 14 tahun telah mampu memberi kuliah.

Tetapi kecerdasan tanpa kemampuan mengelola diri, tak cukup untuk membuatnya bahagia. Ia kemudian melarikan diri dari lingkungan yang mengelu-elukannya. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran karena kecerdasan tak bisa membuatnya bahagia.

Sesungguhnya ada tiga potensi manusia yang berbeda-beda tingkat kemudahannya membentuk. Yang paling sulit adalah karakter, sesudah itu motivasi dan yang paling mudah adalah kemampuan kognitif serta keterampilan. Jika seseorang memiliki karakter yang kuat, mudah baginya untuk memperoleh kemampuan kognitif maupun keterampilan yang tinggi. Dan inilah yang harus kita perhatikan saat mereka belia. Inilah yang menjadi perhatian di berbagai belahan bumi yang menghargai betul arti sumber daya insani.
Bagaimana dengan Anda? 

Sumber : SUARA HIDAYATULLAH, JUNI 2010

 

Senin, 14 November 2011

Belajar Membuat Telor Asin

Membuat telor asin

Menurut Wikipedia Indonesia istilah telor asin adalah  adalah istilah umum untuk masakan berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak). Kebanyakan telur yang diasinkan adalah telur itik, meski tidak menutup kemungkinan untuk telur-telur yang lain. Telur asin baik dikonsumsi dalam waktu satu bulan (30 hari).

Hari ini anak-anakku berkesempatan mempelajari cara pembuatan telor asin. Kebetulan Bapaknya anak-anak mempunyai teman yang pernah berprofesi sebagai pembuat / penjual telor asin. Rasanya cukup enak. Dan menurut anak-anakku yang sudah mengikuti praktek pembuatan telor asin, caranya adalah sebagai berikut. Cuci bersih telor bebek dengan sikat halus atau amplas. Siapkan batu bata yang telah dihaluskan, kemudian tambahkan air dan garam, hingga adonan mengental. Celupkan telor bebek satu persatu. Diamkan selama kurang lebih duapuluh hari. Setelah itu cuci kembali telor bebek, rebus hingga matang. Untuk mendapatkan rasa yang enak, rebus selama empat jam.
Selain   rasanya yang enak telor asin juga menhandung zat gizi yang diperlukan oleh tubuh, diantaranya protein, kalsium, karbohidrat, vitamin A, B dan lain-lain




Technorati Tags: ,,

Senin, 24 Oktober 2011

Nabila Belajar Photoshop

LOGO PHOTOSHOP  Anak-anak memang cepet bosan terhadap sesuatu.Setelah minggu-minggu kemarin lagi seneng bikin komik online, sekarang udah agak bosen, Sekarang lagi seneng-senengnya edit-mengedit photo.Awalnya sih nyobain-edit-edit photo pake GIMP. Tiap hari rajin Googling cari-cari video tutorial edit photo di Youtube, meskipun  koneksi enternet  kurang mendukung. Dari hasil browsing sana sini,secara nggak sengaja, malah nyasar, ketemunya sama tutorial Photoshop. Ahirnya mulai coba-coba edit photo pake photoshop.
Memang sih masih sederhana sekali, karena memang baru belajar. Sebenarnya sih maunya dibeliin buku tutorialnya juga. Namun karena waktu ( dan dana juga ) yang belum sempat, ahirnya hanya coba klik sana klik sini. Dan inilah hasil otak atik pake photoshop dari Nabila ( 11 th ) yang sudah aku edit ( gabung ) lagi pake photoscape. Rambutnya berubah warna jadi kecoklatan, bibir kemerahan, dan bola mata agak kecoklatan. Memang sih belum bisa banyak macem-macem. Namun seperti apapun hasilnya, bagiku adalah suatu kemajuan. Semoga esok kan lebih baik lagi Smile
oase

Jumat, 21 Oktober 2011

Indahnya Homeschooling

Belajar bareng
Keputusan mengHSkan anak-anak bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Selalu ada orang yang tak mendukung, .bahkan lebih  banyak yang tidak setuju dibandingkan dengan yang setuju.Kadang aku bingung bagaimana aku harus bersikap, karena  pihak yang kurang mendukung kebanyakan adalah keluarga, maupun saudara yang selama ini justru sangat dekat dengan kami. Semoga saja mereka mengerti, meskipun kami tetep kekeh pada keputusan kami bukan berarti kami tak menghargai mereka.
  Di sisi lain ada hal-hal positif yang aku rasakan setelah menjalani HS. Begitupun dengan anak-anak kami. Setelah HS, hubungan kami dan anak-anak semakin dekat, komunikasi pun terjalin dengan indah. Pada saat sebelum HS , kuakui aku lebih gampang marah dan dengan mudahnya memberikan label “nakal” apabila mereka membuat masalah.Kata-kata “jangan” pun tak pernah absen aku ucapkan setiap hari.  Setelah HS sedikit demi sedikit mulai belajar bersabar menghadapi anak-anak.Semangat mempelajari apa sajapun tiba-tiba datang, baik mempelajari masalah-masalah psikologi anak maupun ilmu apa saja. HS telah membangkitkan semangat belajarku, semangat yang tak pernah kurasakan pada masa-masa aku sekolah dulu. Jika pada saat sekolah dulu , belajar hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, maka sekarang aku belajar karena aku benar-benar ingin mengetahui banyak hal. Semakin banyak belajar membuat aku merasa, ternyata begitu banyak hal yang tidak aku ketahui. HS pula yang membuat aku jadi sedikit lebih melek teknologi, karena tadinya benar-benar gaptek ( sekarangpun masih gaptek, cuma lebih mendingan ). Yang membuat aku lega semua anakkupun sudah benar benar enjoy, Aku dan suamiku berusaha untuk menjadikan momen sekecil apapun sebagai proses pembelajaran.

Minggu, 02 Oktober 2011

Homeschooling Tentang Membuat Komik Secara Online

gambar fatih dan bilaHari ini anak-anakku tampak begitu semangat di depan laptop. Mereka kelihatan begitu akur dan asyik tengah mengerjakan sesuatu. Hmm..rupanya mereka bertiga sedang mencoba-coba membuat komik secara online. Sebenarnya ada beberapa situs pembuatan komik secara online yang kami dapatkan di internet, diantaranya stripgenerator.com, bitstrips.com, dan pixton.com .Namun setelah kami coba-coba membuka semuanya, anakku lebih memilih menggunakan situs Bitstrips.com.
Situs ini cukup menarik, karena sudah tersedia beraneka ragam tokoh, gambar, efek dan komponen pelengkap lain untuk membuat serangkaian komik. Karena semua sudah tersedia secara instan, kemampuan menggambar tidak begitu diperlukan, hal ini cocok dengan anakku yang pertama, yang kurang begitu suka dengan menggambar. Yang diperlukan hanyalah sambungan internet, dan  bagaimana membuat ide-ide cerita yang menarik , membuat dialog-dialog yang kreatif sehingga komik menjadi hidup. Meskipun sudah tersedia banyak fitur, ternyata membuat komik secara online butuh ketelatenan juga. Dan inilah hasil karya mereka bertiga…Semoga bermanfaat Smile
komik nabila

Sabtu, 17 September 2011

Rasa Ingin Tahu Anak

Manusia mempunyai sifat serba  ingin tahu sejak awal kehidupannya. Rasa ingin tahulah yang membuat anak bertambah pengetahuannya. Papatah mengatakan awal dari limu pengetahuan adalah pertanyaan. Tak hanya pengetahuan yang bertambah, dengan bertanya juga mengantarkan manusia sampai kepada kebenaran. Nabi Ibrahim bertanya siapakah Sang Pencipta, apakah bintang, bulan ataukah matahari ? Pencarian jawaban tersebut mengantarkannya pada kebenaran sejati.

Para ahlibpendidikan mengatakan , salah satu ciri anak cerdas adalah memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Anak yang cerdas akan bertanya bertanya banyak hal, kerena dia memang ingin tahu jawabannya. Biasanya jika anak tersebut bertanya , dia nakan mengejar jawaban orangtuanya dengan pertanyaan lanjutan , sampai kadang orang tua merasa kewalahan dalam menjawabnya.

Anak 2-3 tahun sering bertanya apa ini dan apa itu.Pada usia tersebut anak masih menambah perbendaharaan kata akan nama-nama benda. Semakin orang tua menjawab, maka  anak semakin  mengenal benda . Menginjak usia antara 3-4 tahun , anak mulai bertanya mengapa bigini dan mengapa begitu. Anak mulai belajar sebab akibat. Dengan memberi penjelasan yang akurat, kemampuan anak akan terbangun. Saat anak bertnya dia sedang membuka pintu otaknyaagar dapat memasukkan pengetahuan ke dalamnya.

Pada awalnya anak memuaskan rasa ingin tahunya dengan bertannya pada orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Jika orang tua menjawab dengan benar sertas bersemangat

dan menyenagkan saat menjawab maka ia akan menjadikan  orsng tua sebagai rujukan utamanya. Sebaliknya jika orang tua tidak menanggapi , atau bahkan mentertawakan pertanyaan anak , maka lama-lama anak tidak berminat untuk bertanya pada orangtuanya.

Jika hal itu terjadi maka akan sangat berbahaya . Belakangan ini tehnologi informasi berkembang sangat pesat. Mau bertanya apa saja tersedia mesin opencari informasi semacam  "Google "yang siap menjawab apa saja , menampakkan gambar apapun, atau menayangkan berbagai cuplikan video , tanpa pandang bulu anak berapa tahun  yang bertanya.

Banyak kasus  meski anak tidak berniat mencari nformasi yang negatif , namutn yang keluar adalah tayangan informasi yang tidak sesuai dengan usianya. Boleh saja anak diperkenalkan dengan tehnologi informasi dalam memuaskan rasa ingin tahunya, namun jangan lupa orang tua harus senantiasa mendampingi dan memberikan pengawasan agar anak tidak terpengaruh efek negatif dari internet. Smile

 

( diambil dari Suara Hidayatullah )

Minggu, 11 September 2011