Minggu, 22 April 2012

Tantangan dan Hambatan HS Kami

Tak terasa sudah satu tahun anak-anak kami tak sekolah di sekolah formal. Selama kurun waktu tersebut terkadang kami begitu bersemangat, dalam menjalani proses home education  kami,  namun ada kalanya kami merasa ragu-ragu dan tidak bersemangat . Sejak awal kami memutuskan untuk mengHSkan anak-anak kami hingga sekarang ada beberapa hal yang pernah membuat kami ( khususnya  aku, sebagai ibunya ) merasa begitu down dan kurang bersemangat dan boleh dikatakan inilah tantangan dan hambatan dalam proses Home Education kami :


1. Menghadapi reaksi orang-orang disekitar kami.
Mungkin inilah hal pertama membuat kami merasa tidak nyaman..Saat kami harus mendengarkan komentar-komentar miring tentang HS. Tidak sebatas komentar, namun juga perubahan sikap dari orang orang terdekat . Hampir sebagian besar tak mendukung keputusan kami. kalau difikir-fikir hanya suamikulah yang benar-benar mendukung. Kami juga sempat menjadi bahan pergunjingan di lingkungan sekolah, diacara kumpul-kumpul hajatan, sampai sekedar perbincangan ringan di warung. Anak kami juga sering ditanya-tanya sama tetangga. Pada saat itu aku sendiri benar-benar merasa down dan stress juga memikirkannya. Kami dianggap tidak menghargai pihak sekolah, kami , ada yang bilang juga kalau kami ikut aliran tertentu atau aliran sesatlah.  Sedangkan suamiku terkesan lebih cuek. Kalau dilingkungan teman-teman kerja Alhamdulillah biasa-biasa saja, Paling sekedar bertanya dan aku jawab saja seperlunya. Saat bertemu teman kadang ada yang menayakan anakmu kelas berapa, rangking berapa  Untuk menghindari pertanyaan yang berkepanjangan lah, kadang aku jawab sekenanya saja. Yang kami rasa agak berat adalah menghadapi reaksi dari beberapa keluarga dekat kami yang menurutku terlalu berlebihan. Hanya karena HS, silaturahmi merenggang. Tapi suamiku selalu memberi semangat, bahwa yang terpenting bukan kita yang menjauh dari mereka.  Seiring berjalannya waktu kami berusaha untuk tetap semangat, meskipun harus menghadapi berbagai macam reaksi tersebut. Karena kalau hidup ini sibuk mendengarkan omongan orang lain, bagaimana kami akan maju, bagaimana kami akan melangkah yang ada justru kebingungan dan keragua-raguan .
2. Terbatasnya waktu kebersamaan kami dengan anak
Idealnya memang ada salah satu dari kami yang selalu memdampingi dan mengawasi proses home education pada anak-anak kami. Namun karena kami sama-sama bekerja waktu yang seharusnya kami miliki untuk mendampingi anak-anak menjadi terbatas. Setiap hari kecuali hari libur, aku harus ngantor dari jam tujuh pagi hingga jam dua, begitu juga dengan suamiku, meskipun waktu bekerja suamiku lebih fleksibel karena bukan pegawai kantoran, namun tak jarang ada saat-saat dimana kami sama-sama harus meninggalkan rumah untuk bekerja. Mau tak mau anak-anak hanya didampingi oleh Nenek, dan asisten rumah tangga kami. Sebelum kami meninggalkan rumah kami coba memberikan sedikit pesan, arahan kadang-kadang juga tugas pada anak-anak kami. Untuk anak kami yang paling besar, kami beri tanggung jawab lebih untuk membimbing adik-adiknya. Dalam hal ini tugas yang kami berikan tidaklah sama dengan memberikan PR layaknya guru pada muridnya, kecuali memang anak menginginkan . Sebelum kami berangkat kerja kami hanya katakan." Bunda mau berangkat ne, hari ini pada kepingin belajar ngapain?"  Kalau si sulung, 11 tahun kadang-kadang cuma pengin belajar edit photo, belajar ngeblog, ataupun belajar online di IXL Math, sedangkan yang nomor dua lebih senang menggambar, nulis-nulis cerita. Kalau yang nomer tiga lebih meniru kakak perempuannya, suka edit-edit foto dan kadang IXL math juga. Yang nggak pernah ketinggalan selingan game-gamean online nya. Tapi ada kalanya juga minta mengerjakan worksheet,mempraktekkan  percobaan percobaan percobaan kecil dari buku, kadang -kadang juga cuma baca-baca buku.
Karena terbatasnya waktu, maka waktu kebersaaman yang terbatas ini harus benar-benar kami manfaatkan agar benar-benar berkwalitas.
3. Tidak ada yang mengawasi saat anak-anak berseluncur di dunia maya.
Yang ini erat kaitanya dengan yang hambatan nomer dua di atas. Karena kadang-kadang kami harus meninggalkan rumah dalam waktu bersamaan, sementara anak-anak ingin belajar melalui internet, terpaksa anak anak harus lakukan itu tanpa pengawasan orang tua. Meskipun anak mungkin tidak sengaja membuka situs situs dewasa, namun seringkali mesin pencari mengarah pada situs situs untuk orang  dewasa. Untuk yang satu ini kami berusaha tetap memantau baik pada saat itu juga dengan menanyakan melalui handphone, maupun mengecek kembali situs apa saja yang disinggahi.

Sabtu, 21 April 2012

Nabila, Antara Ngeblogg, Chery Bellle dan Realita Musik Anak Indonesia


Seperti sudah diketahui bahwa salah satu dari jenis kecerdasan menurut teori Multiple Intellegensia adalah kecerdasan bahasa ( linguistik ) yaitu  kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekpresikan gagasan. Salah satu stimulus agar anak memiliki kecedasan Bahasa adalah dengan meminta anak untuk menceritakan pengalamannya baik secara langsung maupun mengungkapkan dalam bentuk tulisan misalnya buku harian.
Salah satu bentuk buku harian modern saat ini adalah blog, berhubung anakku Nabila ( 11 tahun ) agak kurang telaten menulis di kertas biasa, maka untuk mendorong dan menstimulasi kecedasan bahasanya, saya sarankan untuk belajar membuat blog. Dan anakpun kelihatan tertarik, meskipun tadinya bingung mau nulis apa. Untuk langkah-langkah membuat blog, anakku tidak mengalami kesulitan hanya tinggal mengikuti langkah-langkahnya saja. Alhasil lahirlah blog anakku yaitu  Aku Punya Blog'ss. Blog ini murni bikinan anakku, memang sih bentuknya masih sederhana  banget. Untuk mempercantikpun anakku mengotak atik sendiri dan mencari scrip scrip sendiri . Hanya sayang untuk isi blognya sendiri masih ambil dari buku-buku yang ada di rumah maupun dari blog-blog lain. Isinya pun hanya resep resep sederhana, lirik-lirik lagu Cherry Belle, karena kebetulan ngefans berat sama girlband yang sedang in yaitu Cherry Belle. Sebenarnya sebagai orang tua merasa prihatin juga, kenapa harus Cherrry Belle yang notabene adalah girlband remaja yang jadi idolanya, dimana sebagian lagu-lagunya bertemakan cinta dan  orang dewasa sedangkan usia anakku saat ini belum menginjak remaja. Bukan hanya Nabila saja yang suka benget dengan grup ini, bahkan kedua adiknya , jauza ( 5 th ) dan Fatih ( 8 th ) juga ikut-ikutan ngefans .Hal ini karena adanya tayangan di TV yang begitu gencar menyiarkan dan memutar lagu-lagu dewasa, khususnya lagu-lagu Chery Belle ini. 
Kepengin banget mengalihkan kesukaan mereka ke musik atau lagu -lagu lain yang sesuai dengan usia mereka, seperti lagu-lagu di PELANGI NADA, namun sepertinya tidak mudah karena mereka sudah terlanjur menyukai lagu-lagu dewasa. Andai aku mempunyai waktu yang lebih untuk mengawasi mereka dalam menonton tayangan-tayangan di TV ?..



Minggu, 15 April 2012

Merubah Kebiasaan Buruk Sedikit demi Sedikit

Sebenarnya di awal tahun 2012 banyak sekali  rencana yang sudah tersusun dalam benakku.Banyak hal yang ingin aku lakukan untuk menjadi lebih baik. Karena selama ini aku merasa belum maksimal dalam menjalankan tugas tugasku sebagai kepala ibu rumah tangga maupun manusia pada umumnya. Banyak sekali kebiasaan-kebiasan buruk yang masih sulit aku tinggalkan. Kebiasaan buruk serta akibat yang ditimbulkan itu antara lain:


1. Senang begadang, susah bangun pagi, akibatnya tidak bisa menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dengan tepat waktu, tidak bisa makan bersama anak-anak,nggak sempat sarapan di rumah dan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli sarapan, tidak sempat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring mencuci baju sendiri membereskan rumah,sehingga terpaksa harus mempunyai asisten rumah tangga untuk menyelesaikannya, tidak sempat berolahraga ,  tidak maksimal dalam memberikan ASI pada si kecil karena terburu buru , berangkat kerja kesiangan,mengantuk di tempat kerja , anak-anak jadi ikut -ikutan bangun kesiangan dan lain sebagainya yang jika dirunut akibatnya  akan cukup panjang.
2. Sering menunda-nunda pekerjaan. Pekerjaan yang harusnya bisa dilaksanakan seringkali di tunda tunda karena merasa belum begitu mendesak, akibatnya bila pada saat seharusnya waktu bisa dimanfatkan untuk mendampingi anak-anak belajar, justru digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tersebut, apalagi jika tiba - tiba harus menyelasaikan suatu pekerjaan yang harus deselesaikan saat itu juga makin menumpuklah beban pekerjaan yang harus diselesaikan.
3. Sering menyia-nyiakan waktu, dengan kegiatan kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti game-game an terlalu lama, OL fesbukan terlalu lama,menonton tayangan televisi yang tidak penting, ngerumpi, nggosip dan lain-lain  padahal satu detikpun waktu yang sudah lewat tak akan kembali. Terkadang saat malam tiba baru terasa dan muncul pertanyaan dalam diriku, " Hari ini aku sudah berbuat apa ?" Apa yang sudah aku lakukan untuk keluargaku, anak-anakku. suamiku?"
Ingin sekali merubah kebiasaan -kebiasan buruk tersebut, sedikit demi sedikit . Dan di awal tahun 2012 ini akupun sudah mencatat hal-hal yang ingin aku lakukan, dari hal-hal yang mungkin kecil. Untuk langkah awal mungkin cukup satu hal dulu yang ingin aku kerjakan, yaitu " Sarapan pagi di rumah". Aku memilih hal ini dengan pertimbangan bahwa kalau aku ingin sarapan pagi di rumah, otomatis aku harus bangun lebih pagi karena harus memasak dulu sebelum berangkat kerja, bisa saja sih aku bangun agak siangan dan berangkat kerjanya yang menjadi telat, tapi tak mungkin aku lakukan tiap hari, karena lama-lama pastilah nggak enak sama teman-teman kerja. So, targetnya nggak muluk muluk..cukup di coba satu minggu dulu...