Minggu, 20 November 2011

Belajar Menulis Cerita

 Pada awalnya, anakku Fatih hanya melihat dan membaca cerita yang aku peroleh dari Indonesia  Bercerita, Mendidik Melalui Cerita. Kemudian ia tertarik untuk menulis cerita sendiri dan katanya sih ingin mengirim cerita juga. Dan inilah cerita yang dibuat oleh Fatih. Tulisan ini aku tulis, tanpa aku sunting, untuk menghargai karyanya sendiri walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan . Ceritanya berjudul “ Nenek Baik Hati “
“NENEK BAIK HATI “
Pada suatu ketika ada seorang nenek. Nenek itu bekerja di hutan.Nenek itu setiap harinya mencari kayu bakar untuk dipasarkan. Kebetulan nenek sedang membawa buah-buahan. Nenek itu melihat ada seorang anak tengan menangis keras.” Hu..hu..Hiks “ Nenek itu berkata “Kenapa kamu na, kenapa kamu sendirian ? “Saya tidak tahu orangtua saya siapa dan dimana Hu..hu..” anak itu tetap menangis” Sudah-sudah jangan menagis” nenek itu berkata,”Yuk ke rumah nenek nanti nenek kasih makan kamu, ya na” Terimaksih” “ Iya” Nenek dan seorang anak itupun berjalan hingga sudah dekat.. “Nanti kita mau makan apa “ Kata nenek itu. “nasi saja Nek, “Iya” Nenek itupun tiba dihalaman rumah nenek. “itu rumah nenek” “iya” Walaupun rumah nenek kecil tapi kamu jangan kuatir ya, nenek sudah menyiapkan makan siang . Nenek sudah memberi nama anak itu yaitu Adi. Adi yang dari tadi lapar langsung makan lahap-lahap. Nenek teyartawa melihat perilaku Adi, Ha..ha..ha. Pada suatu hari nenek memasarkan kayu yang kemarin nenek cari. Sebelum nenek itu berangkat, nenek tidak lupa memberi pesan “Di, nanti kamu baik-baik di rumah Ya. “ Ya nek “ Adi menjawabnya. Nenek berangkat ke pasar, diperjalanan nenek melihat kesamping ternyata ada pengemis. Pengemis itu berkata, “Tolong saya, saya belum makan tiga hari . Mengasihani nenek itu nenek memberi 5  pisang kepada pengemis. “ Nih” Ketika sampai nenek menjual kepada seorang pedagang” Itu kayunya berapa harga semua ? Rp. 100 ribu” boleh dikurangi harganya ? “ Boleh Rp. 50 ribu ? “Ya”Nenek pulang membawa oleh-oleh untuk Adi. Ketika nenek sampai nenek memberikan oleh-oleh itu kepada Adi. Adi senang sekali, nenekpun ikut senang, Sampai adi sudah menikah dengan perempuan cantik dan sampai Adi mempunya anak Adi tetap mengingat nenek dan Adi meniru perbuatan nenek dulu.
Begitulah cerita nenek dan Adi. Nenek baik hati, Adi menceritakan hal ini kepada istri . Pada suatu hari adi akan ke kantor, mau kerja Adi pamit pada istrinya Sinta. saat Adi mengemudi mobil Adi sangat lapar. Adi mampir restoran Adi bukannya beli Hodog, Hamburger malah Adi beli nasi uduk dan air putih karena Adi mengingat nenek dulu membawakan nasi uduk dan segelas air putih. Setelah Adi makan Adi kenyang, “ Ah kenyang..Adi melanjutkan perjalananya . Adi selalu ingat nenek. Nenek Adi bernama Surni. dan Adi juga selalu menjenguk makam nenek Surni Almarhum. Adi sudah sampai, ada Satpam yang sedang memarahi nenek-nenek Adi menghampiri Satpam itu. Maaf pa, ini neneknya jangan dimarahain, kasian dong, emangnya ada salah apa, “ Ia bertanya. Ini tadi dia bilang, dia bilang ia nenek bos. “ Kata satpam itu. “ Oke, siapa nama nenek ? “ Sarti “ Kemudian Adi mengajak nenek itu ke kantornya . " Ayo makan dulu, kata Adi. " Terima kasih na" " Sama-sama nek, Adi juga senang bisa membantu"

Sabtu, 19 November 2011

Tak Ada Kedewasaan Instan

Jasmine
Sesungguhnya, taraf kemampuan kognitif anak bertingkat-tingkat secara hierarkis. Dan pendidikan berkewajiban mengantarkan setiap anak agar mampu mencapai taraf kognitif yang setinggi-tingginya. Taraf paling rendah adalah pengetahuan. Ini merupakan kemampaun untuk mengetahui, mengenal dan mengingat apa-apa yang sudah ia pelajari. Ia bisa mengulang kembali dan menyampaikan kepada orang lain. Di negeri ini, pelajaran di kelas dan ujian di sekolah kerapkali hanya menakar kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan.


Berbagai teknik atau trik yang banyak diperkenalkan (lebih jelasnya: dijual) kepada masyarakat umumnya sebatas membantu anak mencapai kemampuan kognitif terendah. Bukan mengembangkan kemampuan berpikir. Lebih-lebih cara berpikir, umumnya hampir tak tersentuh. Tetapi inilah yang paling mudah kita lihat: atraksi kebolehan dan demonstrasi yang menunjukkan perubahan cepat luar biasa. Karena terpukau, kita kemudian kehilangan daya berpikir kritis tatkala para trainer itu mengatakan bahwa trik-trik tersebut membangun karakter anak! Padahal yang dimaksud bukan karakter. Yang dimaksud hanyalah sebatas kemampuan kognitif.

Karakter lebih banyak berkait dengan kualitas personal pada diri seseorang. Karakter bermula dari kesadaran terhadap nilai-nilai (bukan sekadar tahu atau bahkan paham), partisipasi atau kesediaan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan barulah kemudian sampai pada tingkat karakterisasi diri.

Yang dimaksud dengan penghayatan nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya. Sedangkan pengorganisasian nilai merupakan kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya. Sampai pada tingkat ini, karakter masih belum terbentuk. Karakterisasi baru terjadi apabila seseorang telah mampu memilih nilai sebagai gaya hidup (life style) dimana sistem nilai yang terbentuk mampu mengawasi tingkah lakunya.

Jadi, ada proses panjang sebelum terbentuk dalam diri seseorang. Ia bukan sekedar keterampilan. Ia merupakan perwujudan nilai-nilai yang mempengaruhi pikiran, cara pandang, penghayatan dan gaya hidup kita. Ia menjadi penakar dalam menentukan sebuah tindakan terkait dengan patut atau tidak, mulia atau hina. Ia berangkat dari kesadaran. Bukan pengetahuan. Kesadaran merupakan tingkat terendah dari kemampuan afektif. Sedangkan tingkat terendah kemampuan kognitif adalah pengetahuan (knowledge). Ini berarti, sekadar pintar tak berpengaruh pada karakter.

Setingkat di atas pengetahuan adalah pemahaman (understanding). Pada tingkat ini –tingkat terendah kedua dalam kemampuan kognitif—anak mengerti dengan baik apa yang dipelajari. Kemampuan ini bukan semata karena anak belajar, tetapi karena pendidik memang memahamkan. Bukan sekadar menyampaikan sejelas-jelasnya sehingga anak mengingat dengan baik dan mampu menyampaikan kembali secara gamblang. Pendidik perlu secara serius merangsang kemampuan berpikir anak sehingga mereka memahami dengan baik apa yang diterangkan.

Yang perlu kita catat, pemahaman tidak berpengaruh terhadap perilaku. Pemahaman baru akan bermanfaat menuntun dan mengarahkan perilaku anak-anak kita, jika mereka telah menghayati nilai-nilai agama ini dengan baik. Sangat berbeda, menghayati dengan memahami.

Itu pula yang menerangkan mengapa anak yang telah memahami baik-buruknya sesuatu, tidak berubah perilakunya. Kecerdasan mempengaruhi kemampuan mengingat, mencerna dan memahami sesuatu. Sedangkan keyakinan mendorong orang untuk menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya, meskipun bertentangan dengan pemahamannya.

Kembali pada jenjang-jenjang kemampuan kognitif. Setingkat di atas pemahaman adalah penerapan (aplikasi), yakni kemampuan menggunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata. Ini bukan berurusan dengan keyakinan. Ini erat kaitannya dengan kecakapan untuk menerapkan apa yang telah ia ketahui. Shalat misalnya. Anak bisa melakukan shalat dengan sangat baik bukan karena yakin dan suka, tetapi karena ia memahami betul tata-cara shalat yang baik.

Jenjang kemampuan berikutnya adalah analisis. Berbekal pemahaman yang baik dan mendalam atas berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan sekaligus (pernah) ia praktikkan, seseorang bisa mencapai kemampuan analisis. Ia mampu menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Jika kemampuan ini berkembang lebih lanjut, ia akan sampai pada taraf kognitif yang lebih tinggi, yakni sintesis. Ini merupakan kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti. Ia mampu menemukan benang merah berbagai pengetahuan yang berserak menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.

Tingkat tertinggi kemampuan kognitif adalah penilaian. Bukan menilai orang dari apa yang tampak, melainkan kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan yang ditetapkan terlebih dahulu, baik bersifat internal maupun eksternal. Di tingkat inilah seseorang mencapai tingkat pemahaman yang mendalam. Kemampuan ini barangkali lebih dekat dengan makna faqih. Bukan sekadar faham. Dan amat sedikit orang yang mencapai kemampuan ini.

Cerdas & Terampil Belum Mencukupi
Apakah anak-anak sudah cukup berharga jika mereka mencapai kemampuan kognitif yang tinggi? Cerdas saja tidak cukup. Alangkah banyak anak-anak yang cerdas tetapi miskin keterampilan. Lalu, apakah cerdas dan terampil telah cukup untuk membekali mereka meraih sukses? Jangankan untuk akhirat. Sukses dunia pun tak cukup hanya berbekal cerdas dan terampil. Bahkan kejeniusan pun tak menolong mereka.

Mari kita ingat sejenak salah satu jenius besar yang pernah lahir di muka bumi. Namanya William James Sidis. Bapaknya –seorang profesor—adalah pengagum besar William James, tokoh psikologis behaviorisme yang yakin betul bahwa pembiasaan merupakan kunci terpenting pendidikan.

Sejak usia 6 bulan, ayahnya telah mengajarkan kepadanya huruf-¬huruf sesuai urutan abjad. Sesudah itu, ayahnya mengajarkan ilmu bumi, ilmu ukur, ilmu tubuh manusia, dan bahasa Yunani berdasarkan buku ajar yang dipakai di sekolah. Hasilnya, usia lima tahun William James Sidis telah mampu menyusun karya ilmiah tentang anatomi. Kejeniusannya berkembang sehingga pada usia 11 tahun ia telah menjadi mahasiswa di Harvard University dan usia 14 tahun telah mampu memberi kuliah.

Tetapi kecerdasan tanpa kemampuan mengelola diri, tak cukup untuk membuatnya bahagia. Ia kemudian melarikan diri dari lingkungan yang mengelu-elukannya. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran karena kecerdasan tak bisa membuatnya bahagia.

Sesungguhnya ada tiga potensi manusia yang berbeda-beda tingkat kemudahannya membentuk. Yang paling sulit adalah karakter, sesudah itu motivasi dan yang paling mudah adalah kemampuan kognitif serta keterampilan. Jika seseorang memiliki karakter yang kuat, mudah baginya untuk memperoleh kemampuan kognitif maupun keterampilan yang tinggi. Dan inilah yang harus kita perhatikan saat mereka belia. Inilah yang menjadi perhatian di berbagai belahan bumi yang menghargai betul arti sumber daya insani.
Bagaimana dengan Anda? 

Sumber : SUARA HIDAYATULLAH, JUNI 2010

 

Senin, 14 November 2011

Belajar Membuat Telor Asin

Membuat telor asin

Menurut Wikipedia Indonesia istilah telor asin adalah  adalah istilah umum untuk masakan berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak). Kebanyakan telur yang diasinkan adalah telur itik, meski tidak menutup kemungkinan untuk telur-telur yang lain. Telur asin baik dikonsumsi dalam waktu satu bulan (30 hari).

Hari ini anak-anakku berkesempatan mempelajari cara pembuatan telor asin. Kebetulan Bapaknya anak-anak mempunyai teman yang pernah berprofesi sebagai pembuat / penjual telor asin. Rasanya cukup enak. Dan menurut anak-anakku yang sudah mengikuti praktek pembuatan telor asin, caranya adalah sebagai berikut. Cuci bersih telor bebek dengan sikat halus atau amplas. Siapkan batu bata yang telah dihaluskan, kemudian tambahkan air dan garam, hingga adonan mengental. Celupkan telor bebek satu persatu. Diamkan selama kurang lebih duapuluh hari. Setelah itu cuci kembali telor bebek, rebus hingga matang. Untuk mendapatkan rasa yang enak, rebus selama empat jam.
Selain   rasanya yang enak telor asin juga menhandung zat gizi yang diperlukan oleh tubuh, diantaranya protein, kalsium, karbohidrat, vitamin A, B dan lain-lain




Technorati Tags: ,,