Sabtu, 17 September 2011

Rasa Ingin Tahu Anak

Manusia mempunyai sifat serba  ingin tahu sejak awal kehidupannya. Rasa ingin tahulah yang membuat anak bertambah pengetahuannya. Papatah mengatakan awal dari limu pengetahuan adalah pertanyaan. Tak hanya pengetahuan yang bertambah, dengan bertanya juga mengantarkan manusia sampai kepada kebenaran. Nabi Ibrahim bertanya siapakah Sang Pencipta, apakah bintang, bulan ataukah matahari ? Pencarian jawaban tersebut mengantarkannya pada kebenaran sejati.

Para ahlibpendidikan mengatakan , salah satu ciri anak cerdas adalah memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Anak yang cerdas akan bertanya bertanya banyak hal, kerena dia memang ingin tahu jawabannya. Biasanya jika anak tersebut bertanya , dia nakan mengejar jawaban orangtuanya dengan pertanyaan lanjutan , sampai kadang orang tua merasa kewalahan dalam menjawabnya.

Anak 2-3 tahun sering bertanya apa ini dan apa itu.Pada usia tersebut anak masih menambah perbendaharaan kata akan nama-nama benda. Semakin orang tua menjawab, maka  anak semakin  mengenal benda . Menginjak usia antara 3-4 tahun , anak mulai bertanya mengapa bigini dan mengapa begitu. Anak mulai belajar sebab akibat. Dengan memberi penjelasan yang akurat, kemampuan anak akan terbangun. Saat anak bertnya dia sedang membuka pintu otaknyaagar dapat memasukkan pengetahuan ke dalamnya.

Pada awalnya anak memuaskan rasa ingin tahunya dengan bertannya pada orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Jika orang tua menjawab dengan benar sertas bersemangat

dan menyenagkan saat menjawab maka ia akan menjadikan  orsng tua sebagai rujukan utamanya. Sebaliknya jika orang tua tidak menanggapi , atau bahkan mentertawakan pertanyaan anak , maka lama-lama anak tidak berminat untuk bertanya pada orangtuanya.

Jika hal itu terjadi maka akan sangat berbahaya . Belakangan ini tehnologi informasi berkembang sangat pesat. Mau bertanya apa saja tersedia mesin opencari informasi semacam  "Google "yang siap menjawab apa saja , menampakkan gambar apapun, atau menayangkan berbagai cuplikan video , tanpa pandang bulu anak berapa tahun  yang bertanya.

Banyak kasus  meski anak tidak berniat mencari nformasi yang negatif , namutn yang keluar adalah tayangan informasi yang tidak sesuai dengan usianya. Boleh saja anak diperkenalkan dengan tehnologi informasi dalam memuaskan rasa ingin tahunya, namun jangan lupa orang tua harus senantiasa mendampingi dan memberikan pengawasan agar anak tidak terpengaruh efek negatif dari internet. Smile

 

( diambil dari Suara Hidayatullah )

Minggu, 11 September 2011

Sabtu, 10 September 2011

“Ujian” Homeschooling

“ Pada nyebelin lho!”, kata anakku , Nabila saat pulang bermain. “ Memangnya kenapa, siapa yang nyebelin ?”, tanyaku. “Males banget kalau main mesti pada nanyain, Oh kamu yang nggak sekolah ya ?  Di rumah ngapain ?”, jawab anakku. “Terus kamu jawab gimana ?” tanyaku lagi. “Aku sekolah kok, tapi di rumah. Aku Homeschooling!’ Bisa di tebak, kalau di jawab demikian pertanyaan selanjutnya adalah , “ Apa sih Homeschooling, terus ijazahnya gimana, gurunya siapa…dst.

Kadang aku merasa heran kenapa banyak orang masih menganggap Homeschooling sebagai sesuatu yang aneh, sehingga tak ada habisnya di pertanyakan. Bukan saja oleh orang-orang di luar keluarga kami, bahkan keluarga dekat kami. Tak jarang mereka membujuk anak kami untuk kembali belajar di sekolah formal. Yah, mungkin karena mereka terlalu perhatian dan peduli kepada kami.Perhatian yang justru membuat ketidaknyamanan pada kami. . Owh..tidak nyaman ? Kenapa mesti tak nyaman...

 

Jumat, 09 September 2011

HOMESCHOOLING

Pada masa-masa awal keluarga kami menerapkan homeschooling pada anak-anak kami, beberapa pertanyaan  mengenai homeschooling sering kami terima, diantaranya ada yang menanyakan “ Apa sih homeschooling, siapa gurunya, gimana ijazahnya dan masih banyak lagi pertanyaan pertanyaan lain. Mudah-mudahan artikel ini akan memberikan sedikit gambaran mengenai homeschooling. Tulisan ini kami ambil dari milis sekolah rumah.

Pengertian Homeschooling
Homeschooling (HS) adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah "home education", atau "home-based learning" yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama.
Dalam bahasa Indonesia, ada yang menggunakan istilah "sekolah rumah" atau "sekolah mandiri". Disebut apapun, yang penting adalah esensinya.
Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah.
Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.
Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya.
Legalitas
Dalam sistem pendidikan di Indonesia, homeschooling (diterjemahkan sebagai Sekolah Rumah) merupakan jalur pendidikan informal.
Keberadaan homeschooling telah diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (1):
Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri

Pemerintah tidak mengatur standar isi dan proses pelayanan informal kecuali standar penilaian apabila akan disetarakan dengan pendidikan jalur formal dan nonformal sebagaimana yang dinyatakan pada UU No. 20/23, pasal 27 ayat (2).
Sekolah rumah pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
  1. Sekolah rumah tunggal merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua/wali terhadap seorang anak atau lebih terutama di rumahnya sendiri atau di tempat-tempat lain yang menyenangkan bagi peserta didik.
  2. Sekolah rumah majemuk merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh para orang tua/wali terhadap anak-anak dari suatu lingkungan yang tidak selalu bertalian dalam keluarga, yang diselenggarakan di beberapa rumah atau di tempat/fasilitas pendidikan yang ditentukan oleh suatu komunitas pendidikan yang dibentuk atau dikelola secara lebih teratur dan terstruktur.

(Sumber: "Pendidikan Kesetaraan Mencerahkan Anak Bangsa", Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)