Sabtu, 30 April 2011

Homeschooling Tentang Berkreasi dengan Kain Flanel


Picture0014
Bermula dari acara jalan-jalan ke toko buku bareng abiku, nggak sengaja kami liat buku ketrampilan tentang “ Kreasi  Apik dari Kain Flanel”. Setelah kami baca  sedikiat,  kami rasa  buku ini lumayan cocok buat anak-anakku yang hobinya jahit-menjahit .Aku rasa buku ini memang pas banget deh… buat diparktekin sama anak-anak, selain bahan-bahannya mudah didapat dan kelihatannya hargnya juga lumayan terjangkau
.Mulailah acara gunting-menggunting,,jahit-menjahit,dan tempel-menempel dan yang nggak ketinggalan diselingi dengan pertengkaran-pertengkaran kecil, maklumlah..tiga anak lumayan ramai juga..Setelah liat-liat bukunya akhirnya anakku, Nabila ( 10th )  coba bikin dompet Hp, Fatih ( 7,5th )bikin tempat pensil, and Jauza ( 4,5 th )cuma gunting menggunting bentuk saja..
Namanya juga baru belajar, hasilnya memang belum begitu rapi, mungkin memang perlu proses untuk dikatakan sempurna. Dari ketiga anakku, yang bisa menyelesaikan cuma Nabila, itupun nggak begitu rapi. Fatih cuma menyelesaikan 50 % aja, hasilnyapun masih jauh dari sempurna, sedangkan Jauza berhasil menggunting bentuk bunga, daun, bintang .Yang penting bagiku adalah kebersamaan dan anak-anakku tetap belajar,  karena saat ini kami memang masih mencari-cari, sebenarnya apa sih keinginan anak kami, apa sih minat anak kami.
Tag Technorati: {grup-tag},,

Kamis, 28 April 2011

Melatih Kecerdasan Bahasa ( linguistik )

Secara umum, kecerdasan bahasa menggambarkan kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekpresikan gagasan. Anak yang mempunyai kecerdasan bahasa biasanya senang dengan membaca, menulis karangan, membuat puisi, membuat kata-kata mutiara, dan sebagainya.Mereka biasanya mempunyai daya ingat yang kuat terhadap istilah-istilah baru maupun hal-hal yang sifatnya detail. Selain itu mereka juga cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi.

Sebagai orang tua kita tentu ingin anak kita memiliki kecerdasan bahasa, dan tentunya kecerdasan tersebut bisa di bentuk, sebagaimana di akui oleh Howard Gardner. Howard menjelaskan bahwa potensi kecerdasan anak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. oleh karena itu kecerdasan yang dimiliki anak pada masa-masa awal pertumbuhannya sampai usia sekolah tidak bisa dibiarkan berkembang sendiri, tanpa di bantu oleh orang terdekatnya, khususnya orang tua. Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan orang tua untuk meningkatkan kecerdasan bahasa anak, antara lain sbb :
1. Orang tua harus memberikan stimulus untuk mempengaruhi kemampuan otak si anak yang pada akhirnya akan bermuara pada ketrampilan anak dalam mengolah kata-kata dan berbicara. Anak yang jarang bicara akan mengurangi kemampuan berbahasanya. Biasanya kelemahan berbahasa anak akan ketahuan setelah anak berusia sekitar 5-6 tahun, saat anak memasuki bangku sekolah. sebab saat itu anak di tuntut untuk bersosialisasi dengan kawan-kawan lain.
2. Mengajari anak mencintai buku. Caranya mengajak anak ke perpustakaan, toko buku, pemeran dan lain-lain. Doronglah anak-anak untuk membeli buku sendiri yang ia sukai. Setelah itu lakukan diskusi kecil untuk membahas isi buku yang telah ia beli. Dengan demikian selain kosa kata bertambah, lewat buku juga kemampuan kognitif anak akan terasah.
3. Meminta anak menceritakan pengalamannya, baik bercerita langsung maupun mengemukakan dalam buku harian
4. Meminta anak untuk membuat puisi, cerita dll.
5. Jika anak memang terlihat berbakat, jangan ragu untuk memasukkan anak ke dalam kegiatan yang sesuai bakatnya, seperti kelompok drama, belajar menulis dan lain-lain.

Sabtu, 23 April 2011

Menembus Keterbatasan

Seorang gadis kecil tak bisa melihat maupun mendengar . Baginya dunia begitu sunyi dan tanpa warna. Kedua indra yang sangat penting bagi kehidupan itu lenyap di usia balitanya oleh sebuah penyakit. Walaupun mulutnya mampu mengeluarkan suara tapi ia tak  mampu bicara . Isyarat yang ia gunakan seringkali tak memadai, sehingga orang sekitar sulit memahami keinginannya. Kegagalan mengkomunikasikan keinginannya sering kali ledakan kemarahan dan amukan.
Orang tuanya sangat sedih karena mereka tak dapat berbuat apa-apa karena rumah merekapun jauh dari sekolah tunna rungu dan tunanetra. Ahirnya seorang guru tiba membimbing dan menuntunnya. Awalnya tak mudah Suatu kali ia merasa kesulitan untuk mempelajari kata “water” . Ia lalu membanting bonekanya . Tak ada rasa menyesal, ia bahkan puas karena telah melampiaskan rasa tidak nyamannya.
Apa yang dilakukan sang guru ? Ia megajaknya jalan-jalan keluar menikmati cahaya matahari. Mereka menyusuru jalan setapak menuju sumur sebuah rumah. Gurunya meletakkan tangan di bawah saluran air. Saat ia merasakan sejuknya semburan air ia mengeja kata “water”..barulah ia mengetahui bahwa sesuatu yang sejuk dan mengalir ditangannya adalah “water:. Ia baru menyadari baha segala sesuatu mempunyai nama dan akan melahirkan gagasan. Ian merasa dunianya mulai bercahaya meski harus melalui perjuangan dan kerja keras untuk terus belajar dan terus belajar.
Dialah “ Hellen Keller”penyandang tunanetra dan tunarungu pertama yang meraih gelar sarjana. Selain bahasa Inggris, ia menguasai bahasa Jerman, Perancis dan Latin . Kata-kata mutiaranya tersebar dan hingga saat ini masih sering di kutip banyak orang. Ia juga pejuang yang menentang penjajahan dan peperangan hingga usia senja
Sang guru yang mengajar adalah “Anne Sulllivan “Menurut Heelen, “ Awalnya aku hanyalah butiran-butiran kemungkinan . gurukulah yang membuka dan mengembangkan kemungkinan itu. Saat ia datang segala yang kumiliki menghembuskan cinta dan kebahagiaan sehingga menjadi penuh makna. sejak saat itu ia tak pernah melewatkan peluang untuk menunjukkan keindahan dan segala hal ataupun berhenti berusaha. ..dalam pikiran , tindakan dan teladan untuk membuat hidupku idah dan berguna.”
Menurut Hellen setiap guru bisa membawa seorang anak ke ruang kelas, tetapi tidak semua guru bisa membuat muridnya belajar.
Kisah di atas memberikan gambaran , betapa pentingnya peran seorang “guru” bagi perkembangan jiwa maupun kemampuan akademis anaknya. Saat akan memasukkan anknya ke sekolah, seringkali orang tua hanya melihat hal-hal yang nampak di luar, seperti gedung dan sarana lainnya. Seorang ahli pendidikan mengatakan  “ Meski di gedung yang mewah, tanpa guru berkualitas, proses pendidikan berkualitas tidak akan berjalan, Namun dengan guru berkualitas, di bawah sebatang pohonpun proses pendidikan berkualitas akan berlangsung.(Suara Hidayatullah, Juli 2010 )

Selasa, 12 April 2011

Kecerdasan Majemuk ( Multiple Intellegences )

Menurut Howard Gardner, ada delapan macam kecerdasan yang biasa disebut Multiple Intellegence, atau kecerdasan Majemuk. Berikut ini penjelasan tentang kedelapan jenis kecerdasan tersebut
Kecerdasan Linguistik
Adalah kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa atau struktur bahasa, fonologi ( bunyi bahasa ) semantik ( makna bahasa ) dimensi pragmatik ( penggunaan praktis bahasa ). Penggunaan bahasa mencakup aspek retorika ( penggunaan bahasa untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan tindakan tertentu ), Mnemonik ( penggunaaan bahasa untuk mengingat informasi ), eksplanasi ( penggunaan bahasa untuk member informasi ), dan metabahasa ( penggunaan bahasa untuk membahas bahasa itu sendiri ). Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh pendongeng orator, politisi, pembawa acara, pembicara publik, penceramah, sastrawan, wartawan, editor, penulis scenario dan sebagainya.
Kecerdasan Matematis-Logis
Kemampuan menggunakan angka dengan baik, dan melakukan penalaran yang benar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap pola dan hubungan logis, pernyataan dan dalil, fungsi logis dan abstraksi-abstraksi lain. Proses yang digunakan dalam kecerdasan matematis logis antara lain  : klasifikasi, pengambilan kesimpulan , generalisasi, penghitungan, dan pengujian hipotesis. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh ahli matematika, insinyur, pekerja keuangan, ahli statistik, programmer, perencana dan sebagainya.
Kecerdasan Spasial
Adalah kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akuran dan mentransformasikan persepsi dunia spasial visual tersebut. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang dan hubungan antar unsur tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual dan spasial,. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh arsitek, decorator, seniman, inventor, designer, pelukis, fotografer, sutradara film, dan sebagainya.
Kecerdasan Kinestetis Jasmani
Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekpresikan ide dan perasaan dan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu. Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik, sepserti koordinasi keseimbangan , ketrampilan, kelenturan, dan ketepatan maupun kemampuan menerima rangsangan dan hal-hal yang berkaitan dengan sentuhan. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh mekanik, dokter bedah, atlet, actor, penari dan sebagainya.
Kecerdasan Musikal
Adalah kemampuan menangani bentuk-bentuk musical dengan cara mempersepsi, membedakan, menggubah, dan mengekpresikan. Kecerdasan ini meiputi kepekaan pada irama, pola titi nada, warna atau warni suati lagu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh pemain music, penyanyi, composer, penari dansebagainya.
Kecerdasan Interpersonal
Adalah kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati. Maksud, motivasi serta perasaan orang lain. Kecerdasan I I meliputi kepekaan pada ekspresi wajah, suara, gerak isyarat, kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal dan kemampuan menanggapi secara efektif tanda tersebut dengan tindakan pragmatis tertentu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh   politisi, marketer, pekerja social, psikolog, anak gaul, dan sebagainya.
Kecerdasan Intrapersonal
Adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri yang akurat ( kekuatan dan keterbatasan diri ); kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh penulis, spiritualis, psikolog, ilmuwan dan sebagainya.
Kecerdasan Naturalis 
Adalah kemampuan seorang anak untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam terbuka seperti cagar alam, gunung, pantai, dan hutan. Mereka cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, flora dan fauna, bahkan benda-benda di ruang angkasa. Saat dewasa mereka dapat menjadi pecinta alam, pecinta lingkungan, ahli geologi, ahli astronomi, penyayang binatang, dan aktivitas-aktivitas lain yang berhubungan dengan alam dan lingkungan. Kecerdasan  ini biasanya dimiliki oleh ahli biologi, peneliti dan sebagainya.
Dengan konsep Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk ), yang dikemukakan Howard Gardner ingin mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan, bahwa seolah-olah kecerdasan hanya terbatas pada hasil tes intelegensi yang sempit saja, atau hanya sekadar dilihat dari prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Pada dasarnya tidak ada anak yang bodoh, tiap anak mempunyai kemampuan dan  jenis kecerdasan yang berbeda. Tugas orang tua dan guru untuk menggali kecerdasan dan menggunakan metode yang tepat terhadap anak atau anak didiknya.



Kamis, 07 April 2011

Otak-atik Foto Pake “PHOTO SCAPE”


Sesuai motto Homeschooling, belajar apa aja, dimana aja, dan kapan aja, hari ini anak-anakku iseng iseng buka laptop. Walaupun nggak pernah sepi dari yang namanya rebutan , bertengkar ,berantem, tapi kali ini mereka keliatan kompak dan akur. Bahkan sesekali terdengar gelak tawa mereka bertiga. Aku penasaran juga, neh anak-anak lagi pada ngapain, keliatannya asik banget. Kirain lagi main game lucu, nggak tahunya lagi buka-buka foto di laptop. Tapi ada yang aneh dengan foto-foto keluarga kami..Ternyata dan di modif pake Photo Scape..
Alhasil, wajah abi yang tadinya mirip Baim Wong di sulap jadi Arie Untung..Nggak percaya..??? Neh dia gambarnya..






Menghargai “Jalan Fikiran Anak ”





Suatu hari , karena ribut di dalam kelas, murid-murid sebuah sekolah mendapat hukuman dari guru. Agar hukuman itu mendidik, sang guru menugaskan kepada muridnya untuk menjumlahkan angka dari 1 sampai 100. Ketika murid-murid lain sedang sibuk menghitung, tidak sampai satu menit seorang anak berjalan kearah guru dan menyerahkan hasil hitungannya.
Ternyata jawaban anak itu benar, yaitu ; 5050. Tentu saja sang guru heran, lalu bertanya bagaimana ia bisa menjumlah dengan secepat itu. Anak itu menjawab,” Mudah saja, 1 ditambah 100 sama dengan 101, 2 ditambah 99 sama dengan 101, 3 ditambah 98 samadengan 101. Ada 50 pasangan angka yang seperti itu. Saya kalikan 101 dengan 50, maka hasilnya 5050.
Anak tersebut kemudian tumbuh menjadi seorang yang sangat pandai dalam memecahkan persoalan matematika.
Dunia kemudian mengenalnya dengan Karl Friedich Gauss ( 1777-1855 ), ahli matematika dan ilmuwan dari Jerman. Ia banyak memberi sumbangan pikiran di bidang Analisis, Geometri, relatiitas dan energy atom.
Cara yang dilakukan Gauss dalam memecahkan soal matematika tentu saja bukan cara yang diajarkan oleh gurunya. Ia menemukan pemecahan matematika itu sendiri. Anak-anak dengan jalan fikirannya ternyata mampu menciptakan pemecahan soal yang sebelumnya tak terfikirkan oleh orang dewasa.
Barangkali muncul pertanyaan di benak kita, bagaimana mungkin anak kecil bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan orang dewasa. John Holt dalam bukunya “ How Children Fail “ memaparkan hasil pengamatannya sebagai seorang guru di AS selama bertahun-tahun terhadap anak didiknya. Dengan rinci John Holt memperlihatkan bagaimana anak-anak berfikir dan menciptakan jalannya sendiri dalam memecahkan berbagai persoalan.
Selama ini kadang anak dianggap bodoh atau salah karena cara menyelesaikan masalahnya berbeda dengan hasil pikiran orang dewasa. Tak jarang anak pulang dalam keadaan sedih karena hasil pekerjaanya , walaupun jawabannya benar dianggap salah karena  cara yang ditempuh anak tidak sama dengan yang diajarkan oleh guru.
Andaikan Gauss kecil kemudian disalahkan karena tidak menghitung urut sebagaimana biasanya, mungkin ia takkan digelari “Pangeran ahli Matematika”, Boleh jadi ia menjadi anak yang tidak “pede’ karena cara berfikirnya dipandang nyeleneh, dan menentang guru, dan ia tumbuh menjadi orang dewasa biasa yang tidak memberi kontribusi terhadap masyarakat dan dunia.
Anak-anak ibarat benih pohon, meskipun bagus dan berkualitas, ia tidak akan tumbuh sempurna jika ditanam di lahan yang tandus. Sejenius apapun Gauss jika tidak didukung oleh orang tua, guru dan lingkungannya, maka ia tidak akan menjadi orang yang hebat.
Untuk menjadi orang dewasa yang berkualitas, ia membutuhkan lingkungan yang mendukung, yaitu orang tua , guru dan lingkungan yang meghargai cara berfikirnya, yang membuat ia kreatif mengeluarkan ide, dan gagasannya.
Biarlah anak-anak pelajari sendiri diri dan dunia ini dengan cara pandang mereka sendiri.( Suara Hidayatullah, Januari 2010 )

Minggu, 03 April 2011

BELAJAR MENAKAR TINDAKAN

Ada saatnya diam merupakan kebaikan. kita berdiam diri karena memberi kesempatan untuk berfikir dan menyadari kekeliruannya.Kita diam bukan kaena tidak bertindak, tetapi justru diam itulah tindakan yang kita ambil agar anak dapat mengembangkan diriya.Tetapi ada kalanya diam justru tercela.Kita menahan diri dari bicara, padahal saat itu kita seharusnya angkat bicara  agar anak tidak terjatuh pada keburukan yang lebih besar.Diam pada saat seharusnya kita bicara merupakan tanda kelemahan, sebaliknya terlalu banyak meributkan anak merupakan pertanda ketidakmampuan kita menahan diri.

Ada saat kita harus tegas dan ada saat kita harus memberi kelonggaran pada anak.Ada hal-hal yang menghauruskan kita menunjukkan kemarahan pada anak, meskipun kita tidak sedang emosi, tetapi ada saatnya pula kita harus menahan diri meskipun emosi kita sedang meledak-ledak.Ini semua terkait dengan apa yang dilakukan anak sekaligus menimbang maslahat dan madharat dari setiap tindakan kita.Adapun terhadap tindakan yang muncul dari lemahnya kendali emosi, secara jujur kita perlu menyadari kekeliruan kita, mengakuinya sebgai kesalahan meski belum mampu mengungkapka secara terbuka terhadap anak, dan bersedia meminta maaf kepada anak atas salah dan keliru kita.
Harus Punya Kendali
Kembali pada soal kelonggaran. Anak yang dibesarkan dengan toleransi , memang akan belajar mengendalikan diri. Sebaliknya anak yang dibesarkan dengan kekerasan juga belajar menggunakan kekuatannya untuk mmaksakan keinginannya.Tetapi ada hal yang harus kita ingat, bahwa diluar apa yang kita lakukan, anak sedang berkembang.mereaka secara terus menerus belajar, termasuk belajar memegang kendali  sehingga orang tuapun bahkan bisa tak berdaya. Orang tua melakukan apapun yang diinginkan anak , meskipun tampaknya ia melakukan itu agar anaknya melakukan  apa yang diinginkan orang tua, misalnya ketika orangtua membelikan mainan, agar anak mau mandi.Kecenderungan anak memaksa orang tua menuruti kemauan orang tua sabagai imbalan atas kesediannya melakukan perintah orangtua , terutama mudah terjadi ketika orangtua memberlakukan cara pengasuhan yang tidak konsisten.Apalagi jika cara mengasuh antara kedua orangtua tidak selaras. Lebih parah lagi jika salah satu pihak cenderung lebih dominan dan mudah menyalahkan di depan anak. Artinya ada salah satu pihak yang sering disalahkan didepan anak sehingga otoritasnya sebagai orang tua melemah, dengan demikian perintahnya menjadi kurang efektif.Jika hal ini terjadi anak berusaha meningkatkan pengaruh dan daya paksanya sehingga orang tua benar-benar di bawah kendalinya. Tak ada jalan lain orang tua harus menghentikan situasi yang tidak sehat ini. Namun orang tua juga harus menyadari bahwa kebiasaan memaksakan keinginan tak timbul dengan tiba-tiba, namun karena anak belajar sedikit demi sedikit. Anak memiliki pengalaman panjang sehingga bisa memaksakan kehendak pada orangtuanya..
Sebaliknya anak yang tidak memiliki kendali atas diri dan lingkungannya karena terbiasa dipaksa oleh orang tua, akan berangsur menjadi pribadi yang tidak mandiri. Ia sulit mengambil keputusan, sekalipun hanya untuk mengambil pilihan dan perkara sederhana. Ia takut menghadapi resiko yang sangat kecil sekalipun. Ketakutan menghadapi resiko tersebut bukan hanya terjadi pada maasa kanak-kanak, namun bisa berlanjut sapai mereka dewasa. Serupa dengan takut menghadapi resiko adalah peragu. Ia sulit mengambil keputusan , bukan karena takut resiko, tetapi sulit memilih. Ini mudah terjadi pada anak yang dibesarkan dengan pemanjaan.Mereka serba dituruti, sehingga tidak memperoleh kesempatan belajar untuk menahan diri.Mereka juga sulit belajar berempati, merekapaun tidak ada kesempatan untuk belajar  menimbang, mengambil keputusan dan menentukan prioritas.. Boleh jadi sulit baginya untuk membedakan mana yang penting dan tidak,  karena ia miskin pengalaman untuk memilah antara keinginan dan kebutuhan.
Apa yang menyebabkan anak anak mengalami kesulitan dimasa dewasanya ? Bukan sulitnya kehidupan, bukan pula kecilnya pendapatan. Bisa jadi kekeliruan orang tua dalam mengasuh mereka. Bisa karena  berlebihan dalam membantu anak menghadapi masalah, bisa juga karena membiasakan anak hidup mudah sehingga anak kehilangan tantangan. Mereka sibuk mengurusi apa yang seharusnya diatasi sendiri oleh anak., sehingga anak kehilangan inisiatif produktif. Ini semua tidak ada hubungannnya dengan dengan kekayaan dan fasilitas hidup, Ini terkait dengan sikap kita sebagai orang tua , termasuk kemampuan menakar setiap tindakan. ( sumber  Suara Hidayatullah Edisi 09/XXIII/Jan 2011 )