Rabu, 28 Desember 2011

Jawaban Tentang HS Kami ( 2 )



Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya, Jawaban Tentang HS Kami ( 1 ).
6. Bagaimana sosialisasinya, bagaimana pergaulannya ?
Anak Homeschooling belajar dari siapa saja, tak ada batasan dalam pergaulannya. Bisa dengan orang dewasa sebaya maupun dibawahnya. Alhamdulillah sampai sekarang anak-anakku masih suka disamperin sama teman-temannya baik sebaya maupun dibawahnya. mengenai pergaulan justru kami agak prihatin dan khawatir melihat berita-berita tentang  pergaulan anak-anak sekolah jaman sekarang.
7. Bagaimana Ijazahnya nanti..bagaimana masa depannya,
Saat ini memang ijazah dianggap harga mati untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Ijazah selalu dihubungkan dengan pekerjaan dan Kesuksesan,dan Kesuksesan sendiri masih banyak diidentikkan dengan banyaknya  kekayaan materi, jabatan dan sejenisnya. Namun tiap keluarga mempunyai penillaian yang berbeda dalam memandang sebuah kesuksesan. Namun demikian bukan berarti kami menganggap bahwa ijazah tidak penting bagi kami, namun ada hal yang mungkin lebih penting yaitu skill. Mungkin bagi yang bercita-cita ingin menjadi PNS ijazah mutlak diperlukan. Untuk anak Homeschooling ijazah  bisa didapatkan melalui ujian kesetaraan paket.  Dan saat ini memang peraturan pemerintah masih belum berpihak kepada praktisi Homeschooling yang menginginkan ijazah bagi anak-anaknya. Saai ini kami sedang mencari informasi sebanyak-banyaknya dan mempertimbangkan untuk mencari alternatif lain selain mengikuti ujian paket., semisal dengan mengikuti ujian Cambrige. Hmm..Kelihatannya memang keinginan yang muluk, melihat bahwa kami hanyalah lulusan SMA yang Bahasa Inggrisnya juga minim. Namun kami berusaha optimis dan senantiasa belajar dan terus belajar. Inilah enaknya Homeschooling, orang tua dituntut untuk ikut belajar bersama anak-anak.
Smile

Kamis, 15 Desember 2011

Jawaban Tentang HS Kami ( 1 )

?Hampir setiap keluarga HSbaru akan menghadapi beragam reaksi dari lingkungan sekitar, entah itu keluarga, teman kerja, tetangga maupun sekolah ( bagi keluarga HS yang tadinya menyekolahkan anaknya di sekolah formal ).Begitu juga yang dialami keluarga kami.  Saat kami memutuskan banyak pertanyaan-pertanyaan ditujukan kepada kami. Dan berikut adalah pertanyaan maupun pernyataan yang sering kami terima :

1. Homeschooling di mana ?
Pertanyaan ini timbul karena pengertian Homeschooling di masyarakat sendiri masih rancu. Sebagian besar masih mengangggap bahwa Homeschooling adalah sebuah lembaga. Sedangkan menurut informasi yang kami dapat dari praktisi Homeschooling, Homschooling bukanlah sebuah lembaga. Homeschooling ( Home Education ) adalah ketika keluarga memilih untuk bertanggung jawab dan menyelenggarakan sendiri pendidikan anaknya dan tidak mengirimkan anaknya ke sekolah. Di Indonesia sendiri memang banyak lembaga yang mengatasnamakan Homeschooling, yang sebenarnya lebih tepat dinamakan Bimbel, Kursus dan lain-lain.
3. Siapakah gurunya, trus anaknya ngapain aja di rumah..
Ada yang beranggapan bahwa Homeschooling adalah hanya memindahkan proses belajar mengajar ke rumah ( school at home ) sehingga dalam bayangannya orang tua mendatangkan guru prifat ke rumah. Dalam Homeschooling keluargalah yang menjadi pusat atau fokus. Orang tua mungkin bukan ahli segala-galanya. Namun peran orang tua disini adalah memfasilitasi mengarahkan hingga anak-anak bisa betul-betul bisa jadi pembelajar yang mandiri..Bisa saja orang tua memanggil guru atau yang ahli dalam bidang tertentu apabila diketahui anak memang sangat berminat pada suatu bidang dan orang tua memang tidak menguasainya. Apa yang dilakukan anak anak di rumah ? Tentu saja banyak hal yang bisa dilakukan. Anak Homeschooling bisa belajar kapan saja dimana saja. Setiap momen adalah pembelajaran, hal-hal  kecil yang  mungkin dianggap sepelepun bisa dijadikan proses belajar Dari melihat matahari sampai melihat seekor cicakpun bisa dijadikan obyek pembelajaran. Belajarpun bisa dengan apa saja, bisa bermain game, membantu masak di dapur, mencuci piring, bermain airpun adalah belajar, bisa belajar matematika, IPA, Agama, PPKN, secara langsung pula. ( Jadi ingat dulu pas anakku masih di PAUD, ada juga kegiatan main air, cuci piring, piring plastik, Alhamdulillah kalau sekarang sih cuci piring beneran juga dah bisa )
4. Oh..yang kayak artis itu ya..berarti orang kaya dong bisa ikut Homeschooling..Gajinya berapa ya.?..
Ada yang beranggapan bahwa Homeschooling adalah untuk orang kalangan tertentu, semisal  artis. Bagi kami sendiri tak terlintas untuk mengHSkan anak-anak karena ikut-ikutan kayak artis. Terlalu berat kalau sekedar ikut-ikutan. Sebenanya biaya Homeschooling sangatlah fleksibel tergantung kondisi masing-masing keluarga. Karena dalam Homeschooling tak ada ketentuan dalam menentukan sarana belajar. Bisa menggunakan buku bekas, internet maupun belajar dari keseharian. Disinilah perbedaanya dengan sekolah. Mungkin di sekolah kita diwajibkan membayar uang Gedung dan sejenisnya, yang nantinya akan digunakan untuk membangun sarana olahraga, membeli  alat drumb Band ataupun alat musik. Jika anak kita memang berminat pada bidang-bbidang tersebut, mungkin akan berasa manfaatnya. Namun jika anak kita ternyata mempunya minat yang berbeda hal itu tentu kurang bermanfaat bagi anak kita. Sedangkan di Homeschooling, biaya yang  dikeluarkan bisa langsung digunakan untuk keprluan anak sesuai denagn minat dan bakatnya.
5. Kalau saya mending dijalani dua-duanya, ya Sekolah ya Homeschooling.
Kami pernah mendengar hal itu dari seorang teman . Mungkin maksudnya adalah anak tetap bersekolah ( sekolah formal) sesudah pulang anak belajar di rumah. Menurut artikel yang pernah kami baca, ( artikel lengkap bisa klik disini ) salah satu substansi Homeschooling adalah bahwa Homeschooling adalah pendidikan alternatif ( bukan sekolah ) . Jadi ketika anak-anak masih menjalani sekolah formal, meskipun sesudah di rumah ia belajar dengan metode-metode ala Homeschooling tidaklah bisa dikatakan Homeschooling. Orang tua yang menyekolahkan anaknya berarti bukan Homeschooling, Homeschooling adalah Homeschooling, sekolah adalah Sekolah.( bersambung )

Minggu, 20 November 2011

Belajar Menulis Cerita

 Pada awalnya, anakku Fatih hanya melihat dan membaca cerita yang aku peroleh dari Indonesia  Bercerita, Mendidik Melalui Cerita. Kemudian ia tertarik untuk menulis cerita sendiri dan katanya sih ingin mengirim cerita juga. Dan inilah cerita yang dibuat oleh Fatih. Tulisan ini aku tulis, tanpa aku sunting, untuk menghargai karyanya sendiri walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan . Ceritanya berjudul “ Nenek Baik Hati “
“NENEK BAIK HATI “
Pada suatu ketika ada seorang nenek. Nenek itu bekerja di hutan.Nenek itu setiap harinya mencari kayu bakar untuk dipasarkan. Kebetulan nenek sedang membawa buah-buahan. Nenek itu melihat ada seorang anak tengan menangis keras.” Hu..hu..Hiks “ Nenek itu berkata “Kenapa kamu na, kenapa kamu sendirian ? “Saya tidak tahu orangtua saya siapa dan dimana Hu..hu..” anak itu tetap menangis” Sudah-sudah jangan menagis” nenek itu berkata,”Yuk ke rumah nenek nanti nenek kasih makan kamu, ya na” Terimaksih” “ Iya” Nenek dan seorang anak itupun berjalan hingga sudah dekat.. “Nanti kita mau makan apa “ Kata nenek itu. “nasi saja Nek, “Iya” Nenek itupun tiba dihalaman rumah nenek. “itu rumah nenek” “iya” Walaupun rumah nenek kecil tapi kamu jangan kuatir ya, nenek sudah menyiapkan makan siang . Nenek sudah memberi nama anak itu yaitu Adi. Adi yang dari tadi lapar langsung makan lahap-lahap. Nenek teyartawa melihat perilaku Adi, Ha..ha..ha. Pada suatu hari nenek memasarkan kayu yang kemarin nenek cari. Sebelum nenek itu berangkat, nenek tidak lupa memberi pesan “Di, nanti kamu baik-baik di rumah Ya. “ Ya nek “ Adi menjawabnya. Nenek berangkat ke pasar, diperjalanan nenek melihat kesamping ternyata ada pengemis. Pengemis itu berkata, “Tolong saya, saya belum makan tiga hari . Mengasihani nenek itu nenek memberi 5  pisang kepada pengemis. “ Nih” Ketika sampai nenek menjual kepada seorang pedagang” Itu kayunya berapa harga semua ? Rp. 100 ribu” boleh dikurangi harganya ? “ Boleh Rp. 50 ribu ? “Ya”Nenek pulang membawa oleh-oleh untuk Adi. Ketika nenek sampai nenek memberikan oleh-oleh itu kepada Adi. Adi senang sekali, nenekpun ikut senang, Sampai adi sudah menikah dengan perempuan cantik dan sampai Adi mempunya anak Adi tetap mengingat nenek dan Adi meniru perbuatan nenek dulu.
Begitulah cerita nenek dan Adi. Nenek baik hati, Adi menceritakan hal ini kepada istri . Pada suatu hari adi akan ke kantor, mau kerja Adi pamit pada istrinya Sinta. saat Adi mengemudi mobil Adi sangat lapar. Adi mampir restoran Adi bukannya beli Hodog, Hamburger malah Adi beli nasi uduk dan air putih karena Adi mengingat nenek dulu membawakan nasi uduk dan segelas air putih. Setelah Adi makan Adi kenyang, “ Ah kenyang..Adi melanjutkan perjalananya . Adi selalu ingat nenek. Nenek Adi bernama Surni. dan Adi juga selalu menjenguk makam nenek Surni Almarhum. Adi sudah sampai, ada Satpam yang sedang memarahi nenek-nenek Adi menghampiri Satpam itu. Maaf pa, ini neneknya jangan dimarahain, kasian dong, emangnya ada salah apa, “ Ia bertanya. Ini tadi dia bilang, dia bilang ia nenek bos. “ Kata satpam itu. “ Oke, siapa nama nenek ? “ Sarti “ Kemudian Adi mengajak nenek itu ke kantornya . " Ayo makan dulu, kata Adi. " Terima kasih na" " Sama-sama nek, Adi juga senang bisa membantu"

Sabtu, 19 November 2011

Tak Ada Kedewasaan Instan

Jasmine
Sesungguhnya, taraf kemampuan kognitif anak bertingkat-tingkat secara hierarkis. Dan pendidikan berkewajiban mengantarkan setiap anak agar mampu mencapai taraf kognitif yang setinggi-tingginya. Taraf paling rendah adalah pengetahuan. Ini merupakan kemampaun untuk mengetahui, mengenal dan mengingat apa-apa yang sudah ia pelajari. Ia bisa mengulang kembali dan menyampaikan kepada orang lain. Di negeri ini, pelajaran di kelas dan ujian di sekolah kerapkali hanya menakar kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan.


Berbagai teknik atau trik yang banyak diperkenalkan (lebih jelasnya: dijual) kepada masyarakat umumnya sebatas membantu anak mencapai kemampuan kognitif terendah. Bukan mengembangkan kemampuan berpikir. Lebih-lebih cara berpikir, umumnya hampir tak tersentuh. Tetapi inilah yang paling mudah kita lihat: atraksi kebolehan dan demonstrasi yang menunjukkan perubahan cepat luar biasa. Karena terpukau, kita kemudian kehilangan daya berpikir kritis tatkala para trainer itu mengatakan bahwa trik-trik tersebut membangun karakter anak! Padahal yang dimaksud bukan karakter. Yang dimaksud hanyalah sebatas kemampuan kognitif.

Karakter lebih banyak berkait dengan kualitas personal pada diri seseorang. Karakter bermula dari kesadaran terhadap nilai-nilai (bukan sekadar tahu atau bahkan paham), partisipasi atau kesediaan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan barulah kemudian sampai pada tingkat karakterisasi diri.

Yang dimaksud dengan penghayatan nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya. Sedangkan pengorganisasian nilai merupakan kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya. Sampai pada tingkat ini, karakter masih belum terbentuk. Karakterisasi baru terjadi apabila seseorang telah mampu memilih nilai sebagai gaya hidup (life style) dimana sistem nilai yang terbentuk mampu mengawasi tingkah lakunya.

Jadi, ada proses panjang sebelum terbentuk dalam diri seseorang. Ia bukan sekedar keterampilan. Ia merupakan perwujudan nilai-nilai yang mempengaruhi pikiran, cara pandang, penghayatan dan gaya hidup kita. Ia menjadi penakar dalam menentukan sebuah tindakan terkait dengan patut atau tidak, mulia atau hina. Ia berangkat dari kesadaran. Bukan pengetahuan. Kesadaran merupakan tingkat terendah dari kemampuan afektif. Sedangkan tingkat terendah kemampuan kognitif adalah pengetahuan (knowledge). Ini berarti, sekadar pintar tak berpengaruh pada karakter.

Setingkat di atas pengetahuan adalah pemahaman (understanding). Pada tingkat ini –tingkat terendah kedua dalam kemampuan kognitif—anak mengerti dengan baik apa yang dipelajari. Kemampuan ini bukan semata karena anak belajar, tetapi karena pendidik memang memahamkan. Bukan sekadar menyampaikan sejelas-jelasnya sehingga anak mengingat dengan baik dan mampu menyampaikan kembali secara gamblang. Pendidik perlu secara serius merangsang kemampuan berpikir anak sehingga mereka memahami dengan baik apa yang diterangkan.

Yang perlu kita catat, pemahaman tidak berpengaruh terhadap perilaku. Pemahaman baru akan bermanfaat menuntun dan mengarahkan perilaku anak-anak kita, jika mereka telah menghayati nilai-nilai agama ini dengan baik. Sangat berbeda, menghayati dengan memahami.

Itu pula yang menerangkan mengapa anak yang telah memahami baik-buruknya sesuatu, tidak berubah perilakunya. Kecerdasan mempengaruhi kemampuan mengingat, mencerna dan memahami sesuatu. Sedangkan keyakinan mendorong orang untuk menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya, meskipun bertentangan dengan pemahamannya.

Kembali pada jenjang-jenjang kemampuan kognitif. Setingkat di atas pemahaman adalah penerapan (aplikasi), yakni kemampuan menggunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata. Ini bukan berurusan dengan keyakinan. Ini erat kaitannya dengan kecakapan untuk menerapkan apa yang telah ia ketahui. Shalat misalnya. Anak bisa melakukan shalat dengan sangat baik bukan karena yakin dan suka, tetapi karena ia memahami betul tata-cara shalat yang baik.

Jenjang kemampuan berikutnya adalah analisis. Berbekal pemahaman yang baik dan mendalam atas berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan sekaligus (pernah) ia praktikkan, seseorang bisa mencapai kemampuan analisis. Ia mampu menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Jika kemampuan ini berkembang lebih lanjut, ia akan sampai pada taraf kognitif yang lebih tinggi, yakni sintesis. Ini merupakan kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti. Ia mampu menemukan benang merah berbagai pengetahuan yang berserak menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.

Tingkat tertinggi kemampuan kognitif adalah penilaian. Bukan menilai orang dari apa yang tampak, melainkan kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan yang ditetapkan terlebih dahulu, baik bersifat internal maupun eksternal. Di tingkat inilah seseorang mencapai tingkat pemahaman yang mendalam. Kemampuan ini barangkali lebih dekat dengan makna faqih. Bukan sekadar faham. Dan amat sedikit orang yang mencapai kemampuan ini.

Cerdas & Terampil Belum Mencukupi
Apakah anak-anak sudah cukup berharga jika mereka mencapai kemampuan kognitif yang tinggi? Cerdas saja tidak cukup. Alangkah banyak anak-anak yang cerdas tetapi miskin keterampilan. Lalu, apakah cerdas dan terampil telah cukup untuk membekali mereka meraih sukses? Jangankan untuk akhirat. Sukses dunia pun tak cukup hanya berbekal cerdas dan terampil. Bahkan kejeniusan pun tak menolong mereka.

Mari kita ingat sejenak salah satu jenius besar yang pernah lahir di muka bumi. Namanya William James Sidis. Bapaknya –seorang profesor—adalah pengagum besar William James, tokoh psikologis behaviorisme yang yakin betul bahwa pembiasaan merupakan kunci terpenting pendidikan.

Sejak usia 6 bulan, ayahnya telah mengajarkan kepadanya huruf-¬huruf sesuai urutan abjad. Sesudah itu, ayahnya mengajarkan ilmu bumi, ilmu ukur, ilmu tubuh manusia, dan bahasa Yunani berdasarkan buku ajar yang dipakai di sekolah. Hasilnya, usia lima tahun William James Sidis telah mampu menyusun karya ilmiah tentang anatomi. Kejeniusannya berkembang sehingga pada usia 11 tahun ia telah menjadi mahasiswa di Harvard University dan usia 14 tahun telah mampu memberi kuliah.

Tetapi kecerdasan tanpa kemampuan mengelola diri, tak cukup untuk membuatnya bahagia. Ia kemudian melarikan diri dari lingkungan yang mengelu-elukannya. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran karena kecerdasan tak bisa membuatnya bahagia.

Sesungguhnya ada tiga potensi manusia yang berbeda-beda tingkat kemudahannya membentuk. Yang paling sulit adalah karakter, sesudah itu motivasi dan yang paling mudah adalah kemampuan kognitif serta keterampilan. Jika seseorang memiliki karakter yang kuat, mudah baginya untuk memperoleh kemampuan kognitif maupun keterampilan yang tinggi. Dan inilah yang harus kita perhatikan saat mereka belia. Inilah yang menjadi perhatian di berbagai belahan bumi yang menghargai betul arti sumber daya insani.
Bagaimana dengan Anda? 

Sumber : SUARA HIDAYATULLAH, JUNI 2010

 

Senin, 14 November 2011

Belajar Membuat Telor Asin

Membuat telor asin

Menurut Wikipedia Indonesia istilah telor asin adalah  adalah istilah umum untuk masakan berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak). Kebanyakan telur yang diasinkan adalah telur itik, meski tidak menutup kemungkinan untuk telur-telur yang lain. Telur asin baik dikonsumsi dalam waktu satu bulan (30 hari).

Hari ini anak-anakku berkesempatan mempelajari cara pembuatan telor asin. Kebetulan Bapaknya anak-anak mempunyai teman yang pernah berprofesi sebagai pembuat / penjual telor asin. Rasanya cukup enak. Dan menurut anak-anakku yang sudah mengikuti praktek pembuatan telor asin, caranya adalah sebagai berikut. Cuci bersih telor bebek dengan sikat halus atau amplas. Siapkan batu bata yang telah dihaluskan, kemudian tambahkan air dan garam, hingga adonan mengental. Celupkan telor bebek satu persatu. Diamkan selama kurang lebih duapuluh hari. Setelah itu cuci kembali telor bebek, rebus hingga matang. Untuk mendapatkan rasa yang enak, rebus selama empat jam.
Selain   rasanya yang enak telor asin juga menhandung zat gizi yang diperlukan oleh tubuh, diantaranya protein, kalsium, karbohidrat, vitamin A, B dan lain-lain




Technorati Tags: ,,

Senin, 24 Oktober 2011

Nabila Belajar Photoshop

LOGO PHOTOSHOP  Anak-anak memang cepet bosan terhadap sesuatu.Setelah minggu-minggu kemarin lagi seneng bikin komik online, sekarang udah agak bosen, Sekarang lagi seneng-senengnya edit-mengedit photo.Awalnya sih nyobain-edit-edit photo pake GIMP. Tiap hari rajin Googling cari-cari video tutorial edit photo di Youtube, meskipun  koneksi enternet  kurang mendukung. Dari hasil browsing sana sini,secara nggak sengaja, malah nyasar, ketemunya sama tutorial Photoshop. Ahirnya mulai coba-coba edit photo pake photoshop.
Memang sih masih sederhana sekali, karena memang baru belajar. Sebenarnya sih maunya dibeliin buku tutorialnya juga. Namun karena waktu ( dan dana juga ) yang belum sempat, ahirnya hanya coba klik sana klik sini. Dan inilah hasil otak atik pake photoshop dari Nabila ( 11 th ) yang sudah aku edit ( gabung ) lagi pake photoscape. Rambutnya berubah warna jadi kecoklatan, bibir kemerahan, dan bola mata agak kecoklatan. Memang sih belum bisa banyak macem-macem. Namun seperti apapun hasilnya, bagiku adalah suatu kemajuan. Semoga esok kan lebih baik lagi Smile
oase

Jumat, 21 Oktober 2011

Indahnya Homeschooling

Belajar bareng
Keputusan mengHSkan anak-anak bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Selalu ada orang yang tak mendukung, .bahkan lebih  banyak yang tidak setuju dibandingkan dengan yang setuju.Kadang aku bingung bagaimana aku harus bersikap, karena  pihak yang kurang mendukung kebanyakan adalah keluarga, maupun saudara yang selama ini justru sangat dekat dengan kami. Semoga saja mereka mengerti, meskipun kami tetep kekeh pada keputusan kami bukan berarti kami tak menghargai mereka.
  Di sisi lain ada hal-hal positif yang aku rasakan setelah menjalani HS. Begitupun dengan anak-anak kami. Setelah HS, hubungan kami dan anak-anak semakin dekat, komunikasi pun terjalin dengan indah. Pada saat sebelum HS , kuakui aku lebih gampang marah dan dengan mudahnya memberikan label “nakal” apabila mereka membuat masalah.Kata-kata “jangan” pun tak pernah absen aku ucapkan setiap hari.  Setelah HS sedikit demi sedikit mulai belajar bersabar menghadapi anak-anak.Semangat mempelajari apa sajapun tiba-tiba datang, baik mempelajari masalah-masalah psikologi anak maupun ilmu apa saja. HS telah membangkitkan semangat belajarku, semangat yang tak pernah kurasakan pada masa-masa aku sekolah dulu. Jika pada saat sekolah dulu , belajar hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, maka sekarang aku belajar karena aku benar-benar ingin mengetahui banyak hal. Semakin banyak belajar membuat aku merasa, ternyata begitu banyak hal yang tidak aku ketahui. HS pula yang membuat aku jadi sedikit lebih melek teknologi, karena tadinya benar-benar gaptek ( sekarangpun masih gaptek, cuma lebih mendingan ). Yang membuat aku lega semua anakkupun sudah benar benar enjoy, Aku dan suamiku berusaha untuk menjadikan momen sekecil apapun sebagai proses pembelajaran.

Minggu, 02 Oktober 2011

Homeschooling Tentang Membuat Komik Secara Online

gambar fatih dan bilaHari ini anak-anakku tampak begitu semangat di depan laptop. Mereka kelihatan begitu akur dan asyik tengah mengerjakan sesuatu. Hmm..rupanya mereka bertiga sedang mencoba-coba membuat komik secara online. Sebenarnya ada beberapa situs pembuatan komik secara online yang kami dapatkan di internet, diantaranya stripgenerator.com, bitstrips.com, dan pixton.com .Namun setelah kami coba-coba membuka semuanya, anakku lebih memilih menggunakan situs Bitstrips.com.
Situs ini cukup menarik, karena sudah tersedia beraneka ragam tokoh, gambar, efek dan komponen pelengkap lain untuk membuat serangkaian komik. Karena semua sudah tersedia secara instan, kemampuan menggambar tidak begitu diperlukan, hal ini cocok dengan anakku yang pertama, yang kurang begitu suka dengan menggambar. Yang diperlukan hanyalah sambungan internet, dan  bagaimana membuat ide-ide cerita yang menarik , membuat dialog-dialog yang kreatif sehingga komik menjadi hidup. Meskipun sudah tersedia banyak fitur, ternyata membuat komik secara online butuh ketelatenan juga. Dan inilah hasil karya mereka bertiga…Semoga bermanfaat Smile
komik nabila

Sabtu, 17 September 2011

Rasa Ingin Tahu Anak

Manusia mempunyai sifat serba  ingin tahu sejak awal kehidupannya. Rasa ingin tahulah yang membuat anak bertambah pengetahuannya. Papatah mengatakan awal dari limu pengetahuan adalah pertanyaan. Tak hanya pengetahuan yang bertambah, dengan bertanya juga mengantarkan manusia sampai kepada kebenaran. Nabi Ibrahim bertanya siapakah Sang Pencipta, apakah bintang, bulan ataukah matahari ? Pencarian jawaban tersebut mengantarkannya pada kebenaran sejati.

Para ahlibpendidikan mengatakan , salah satu ciri anak cerdas adalah memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Anak yang cerdas akan bertanya bertanya banyak hal, kerena dia memang ingin tahu jawabannya. Biasanya jika anak tersebut bertanya , dia nakan mengejar jawaban orangtuanya dengan pertanyaan lanjutan , sampai kadang orang tua merasa kewalahan dalam menjawabnya.

Anak 2-3 tahun sering bertanya apa ini dan apa itu.Pada usia tersebut anak masih menambah perbendaharaan kata akan nama-nama benda. Semakin orang tua menjawab, maka  anak semakin  mengenal benda . Menginjak usia antara 3-4 tahun , anak mulai bertanya mengapa bigini dan mengapa begitu. Anak mulai belajar sebab akibat. Dengan memberi penjelasan yang akurat, kemampuan anak akan terbangun. Saat anak bertnya dia sedang membuka pintu otaknyaagar dapat memasukkan pengetahuan ke dalamnya.

Pada awalnya anak memuaskan rasa ingin tahunya dengan bertannya pada orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Jika orang tua menjawab dengan benar sertas bersemangat

dan menyenagkan saat menjawab maka ia akan menjadikan  orsng tua sebagai rujukan utamanya. Sebaliknya jika orang tua tidak menanggapi , atau bahkan mentertawakan pertanyaan anak , maka lama-lama anak tidak berminat untuk bertanya pada orangtuanya.

Jika hal itu terjadi maka akan sangat berbahaya . Belakangan ini tehnologi informasi berkembang sangat pesat. Mau bertanya apa saja tersedia mesin opencari informasi semacam  "Google "yang siap menjawab apa saja , menampakkan gambar apapun, atau menayangkan berbagai cuplikan video , tanpa pandang bulu anak berapa tahun  yang bertanya.

Banyak kasus  meski anak tidak berniat mencari nformasi yang negatif , namutn yang keluar adalah tayangan informasi yang tidak sesuai dengan usianya. Boleh saja anak diperkenalkan dengan tehnologi informasi dalam memuaskan rasa ingin tahunya, namun jangan lupa orang tua harus senantiasa mendampingi dan memberikan pengawasan agar anak tidak terpengaruh efek negatif dari internet. Smile

 

( diambil dari Suara Hidayatullah )

Minggu, 11 September 2011

Sabtu, 10 September 2011

“Ujian” Homeschooling

“ Pada nyebelin lho!”, kata anakku , Nabila saat pulang bermain. “ Memangnya kenapa, siapa yang nyebelin ?”, tanyaku. “Males banget kalau main mesti pada nanyain, Oh kamu yang nggak sekolah ya ?  Di rumah ngapain ?”, jawab anakku. “Terus kamu jawab gimana ?” tanyaku lagi. “Aku sekolah kok, tapi di rumah. Aku Homeschooling!’ Bisa di tebak, kalau di jawab demikian pertanyaan selanjutnya adalah , “ Apa sih Homeschooling, terus ijazahnya gimana, gurunya siapa…dst.

Kadang aku merasa heran kenapa banyak orang masih menganggap Homeschooling sebagai sesuatu yang aneh, sehingga tak ada habisnya di pertanyakan. Bukan saja oleh orang-orang di luar keluarga kami, bahkan keluarga dekat kami. Tak jarang mereka membujuk anak kami untuk kembali belajar di sekolah formal. Yah, mungkin karena mereka terlalu perhatian dan peduli kepada kami.Perhatian yang justru membuat ketidaknyamanan pada kami. . Owh..tidak nyaman ? Kenapa mesti tak nyaman...

 

Jumat, 09 September 2011

HOMESCHOOLING

Pada masa-masa awal keluarga kami menerapkan homeschooling pada anak-anak kami, beberapa pertanyaan  mengenai homeschooling sering kami terima, diantaranya ada yang menanyakan “ Apa sih homeschooling, siapa gurunya, gimana ijazahnya dan masih banyak lagi pertanyaan pertanyaan lain. Mudah-mudahan artikel ini akan memberikan sedikit gambaran mengenai homeschooling. Tulisan ini kami ambil dari milis sekolah rumah.

Pengertian Homeschooling
Homeschooling (HS) adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah "home education", atau "home-based learning" yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama.
Dalam bahasa Indonesia, ada yang menggunakan istilah "sekolah rumah" atau "sekolah mandiri". Disebut apapun, yang penting adalah esensinya.
Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah.
Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.
Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya.
Legalitas
Dalam sistem pendidikan di Indonesia, homeschooling (diterjemahkan sebagai Sekolah Rumah) merupakan jalur pendidikan informal.
Keberadaan homeschooling telah diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (1):
Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri

Pemerintah tidak mengatur standar isi dan proses pelayanan informal kecuali standar penilaian apabila akan disetarakan dengan pendidikan jalur formal dan nonformal sebagaimana yang dinyatakan pada UU No. 20/23, pasal 27 ayat (2).
Sekolah rumah pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
  1. Sekolah rumah tunggal merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua/wali terhadap seorang anak atau lebih terutama di rumahnya sendiri atau di tempat-tempat lain yang menyenangkan bagi peserta didik.
  2. Sekolah rumah majemuk merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh para orang tua/wali terhadap anak-anak dari suatu lingkungan yang tidak selalu bertalian dalam keluarga, yang diselenggarakan di beberapa rumah atau di tempat/fasilitas pendidikan yang ditentukan oleh suatu komunitas pendidikan yang dibentuk atau dikelola secara lebih teratur dan terstruktur.

(Sumber: "Pendidikan Kesetaraan Mencerahkan Anak Bangsa", Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)

Kamis, 18 Agustus 2011

Nggak Ada Judul

Ya Tuhan..jadikanlah aku orang yang selalu bersyukur atas nikmatmu..
.............

Sabtu, 13 Agustus 2011

Penularan Emosi



Seorang ibu baru saja pulang dari tempat kerjanya dalam keadaan lelah. Urusan dan pekerjaan kantor yang menumpuk masih menggelayuti pikirannya. Perjalanan dari tempat kerja yang cukup jauh dan macet membuat tubuhnya kian terasa lelah.
Dengan lunglai ia membuka pintu rumahnya. Terpampanglah ruang tamunya yang berantakan . Baru selangkah kakinya masuk ke ruangan , kedua anaknya berhamburan menyambut dan seakan berlomba berbicara minta ini dan itu.

Si ibu makin merasa pening, ahirnya masuk kamar dan mengunci diri di kamar . Ia benar-benar lelah , dan iapun merebahkan tubuhnya. Didengarnya anaknya yang paling kecil teriak-teriak sambil memukul-mukul pintu kamar. Pembantunya membujuk dan menghiburnya. Si ibu sebenarnya merasa iba mendengar tangis anaknya, dalam hatinya berkata , “ Maafkan ibu, Nak ! Ibu perlu istirahat sebentar agar bisa bernain lagi dengan kalian.”
Mungkin banyak ibu pekerja yang mengalami pengalaman serupa. Karena lelah si ihu kurang peduli dengan anaknya yang seharian di tinggalnya. Ia berharap anak-anaknya dapat mengerti kondisinya.
Namun, ibu tersebut lupa bahwa sikapnya itu akan meninggalkan jejak di otaknya hingga dewasa nanti. Jika ibu dalam keadaan capek, bermuka masam, sibuk dengan diri sendiri, dan tak peduli pada sekitar , maka tanpa disadari otak anak tersebut akan mencatatnya, “ Oh, kalau sedang capek tidak boleh peduli pada orang lain,  “ Apalagi jika ibu sampai terpancing sehingga ia berkata , “ Sudah ! Bisa diam tidak, ibu lagi capek !”
Jika hal itu sering dilakukan ibu , suatu saat ketika anak sudah dewasa, kemudian sedang capek, dan banyak pekerjaan, lalu ibu bertanya maka sang anak bisa berkata , “ Ibu bisa diam tidak, saya lagi capek !’ Mungkin si ibu sakit hati pada anaknya, padahal dulu ibulah yang menanamkan sikap tersebut pada anaknya.
Akan tetapi , jika ibu dsalam keadaan capek , tapi masih ada sisa tenaga untuk berjalan dan berbicara dengan kalian . Capek bisa hilang kalau kita istirahat ,makan dan minum.” Ataupun perkataan lain yang bisa membuat anak-anak memahaminya, maka anakpun akan meniru sikap seperti itu.
Saat lelah penting bagin ibu untuk mengelola diri agar jangan sampai terpancing emosi. Sebab emosi bisa menular. Daniel Goleman dalam bukunya Sosial Intelligence menyatakan bahwa di dalam otak terdapat banyak syaraf cermin ( mirror neuron ) yang dapat memantulkan aktifitas sel otak orang lain. Sehingga tanpa disadari manusia akan saling menyalin ekspresi wajah, pola nafas, dan gerakan tubuh orang lain.
Jika ibu dalam keadaan lelah dan marah berhadapan dengan anak, maka perasaan tersebutaakan menjalar pada anak, sehingga ia bisa balik mengekspresikan kemarahannya pada sanag ibu. Akibatnya ibu tentu akan merasa tidak senang atau tidak nyaman.
Karena itu jika ibu dalam keadaan lelah masih bisa tersenyum dan bersikap ramah , maka anakpun akan tetap merasa nyaman . Pancaran kebahagiaan di wajah ibu juga akan menular pada sang anak . Sehingga anak akan memiliki konsep di pikirannya bahwa ibu adalah sosok yang menyenangkan dalam situasi apapun. Hubungan ibu dan anak pun akan terjalin indah.

( sumber : Ida S. Widayati, Suara Hidayatullah )

Minggu, 31 Juli 2011

Belajar matematika di IXL Math

IXL - Certificate of Achievement
Keterbatasan waktu bersama anak-anak merupakan tantangan yang cukup besar bagi kami dalam menjalankan homeschooling. Apalagi dalam masa-masa awal homeschooling kami, dimana anak-anak belum sepenuhnya mampu menjadi pembelajar mandiri. Untunglah pada zaman sekarang kemajuan teknologi sudah berkembang sedemikian pesat, terutama tehnologi internet yang bisa kami manfaatkan sebagai sarana untuk belajar.  Kebetulan anak kami yang pertama, Annisa Nabeela ( 10 th ) sudah kami perkenalkan dengan dunia internet. Idealnya memang kamilah yang harus selalu mendampingi proses belajar anak-anak .
Namun karena kondisi yang belum memungkinkan, mau tak mau ada saat dimana anak-anak harus belajar sendiri tanpa pendampingan orang tua. Salah satu cara yang kami lakukan adalah dengan mendaftarkan anak kami untuk belajar di IXL Math .Sebelumnya kami sudah tanyakan pada anak kami, Nabeela apakah tertarik dan mau mengikuti. Setelah mencoba-coba mengikuti  ternyata iapun tertarik dan bersedia .Kamipun memutuskan untuk mengikutkannya dalam les mathematika online di IXL Math yang diselenggarakan oleh rumahinspirasi.com.  Menurut kami program-program IXL Math cukup menarik. Ada ribuan soal yang bisa dikerjakan dari tingkat pra sekolah sampai SMP, soal-soalnyapun cukup beragam dan sudah diklasifikasi sedemikian rupa. Selain bisa belajar matematika, karena pengantarnya menggunakan bahasa Inggris,jadi secara tidak langsung anakpun  bertambah perbendaharaan kosa-kata bahasa Inggrisnya. Saat ini , anak kami baru menyelesaikan lebih dari 100 soal yang ia kerjakan pada saat aku bekerja. Bila menemui kesulitan, biasanya anakku akan bertanya padaku melalui SMS. Secara periodik orangtuapun akan menerima laporan perkembangan belajar anak , jadi kami pun bisa mengontrol apakah anak sudah belajar atau belum.

Senin, 25 Juli 2011

Menulis Lagi..

DSC00800
Hampir dua bulan aku tak posting di blog ini. Ada beberapa hal yang menyebabkan aku akhirnya nggak bisa konsisten menulis secara teratur. Disamping gairah menulis yang ahir-ahir ini sempat anjlog, kesibukan offline yang cukup banyak juga benar-benar menyita waktu.
Separuh hari aku habiskan untuk bekerja di kantor, sementara sepulang kerja dengan dibantu suami aku harus melayani kebutuhan anak – anakku ( yang jumlahnya empat anak ) . Belum lagi mengurus urusan rumah tangga yang lain. Terkadang ide menulis sudah ada, tapi badan dan mata ini nggak mau kompromi alias ngantuk berat..Posting ini sengaja kutulis untuk membangkitkan kembali gairah menulisku..

Selasa, 31 Mei 2011

Ungkapan Positif

Picture0001
“Terima kasih sudah hadir di keluarga kami. Kami sangat berbahagia, Adek adalah bayi yang sangat cocok untuk ibu,”ujar ibu sambil mendekap bayinya.
“ Jika aku sakit, terus lihat bayi, sakitku jadi hilang” Ucap sang kakak pada adeknya.
Ungkapan-ungkapan di atas dinyatakan oleh keluarga yang sangat berbahagia karena kehadiran sang bayi. Kebahagiaan itu kerap diungkapkan dalam berbagai ekspresi atau ungkapan positif. Mereka seolah berlomba menyatakan perasaan masing-masing pada sang bayi.
Bagi orang-orang yang jarang mengungkapkan  perasaanya mungkin ucapan-ucapan seperti itu kedengarannya berlebihan . Namun sesungguhnya banyak manfaat dari sikap seperti itu. Jika sekeluarga senantiasa menyatakan perasaan positif seperti rasa bahagia, kasih sayang, dan ungkapan syukur, maka hal ini akan mempererat ikatan emosional dan keakraban diantara anggota keluarga tersebut.
Ungkapan ini biasanya berupa verbal, yang disertai pelukan atau ciuman  yang semuanya menyatakan kasih sayang dan perhatian. Ungkapan ini membuat anak merasa dicintai dan dihargai sekaligus bisa mengatasi perasaan takut dan kekhawatiran dalam diri anak.
Anak yang dibesarkan di lingkungan seperti ini akan cenderung mampu mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Hal ini akan membuat orang yang berkomunikasi dengan dia bisa memahami apa keinginan maupun kebutuhannya sehingga dapat memberikan respon sesuai keinginan itu. Sebaliknya anak yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya , maka akan sulit bersosialisasi dan cenderung tidak memiliki kepercayaan diri serta pasif dalam menanggapi sesuatu.
Pada dasarnya setiap anak balita cenderung mampu menyatakan isi hatinya, baik rasa gembira , kecewa, sedih, atau rasa takut yang . Kecenderungan ini perlu mendapat dukungan secara positif. Rasa sedih, rasa takut yang biasanya diungkapkan dengan tangisan , rengekan, omelan atau pukulan itu bisa dialihkan dengan bentuk ungkapan positif.
Anak bisa dilatih dengan mengungkapkan rasa tidak senangnya dengan bahasa yang jelas sehingga limgkungan bisa memahaminya dengan lebih mudah dan konflik bisa dihindari. Jika kemampuan ini terus dibangun, maka anak akan terampil mengatasi persoalan dirinya yang berpotensi menimbulkan rasa kesedihan  maupun kemarahan.
Untuk mampu bersikap ekspresif secara positif, orang tua perlu menstimulasi sejak bayi. Insya Allah anak mampu mengekspresikan persaannya secara positif akan menjadi anak yang bahagia, sekaligus menyenangkan.( Suara Hidayatullah, Agt 2008 )
Tag Technorati: {grup-tag},,

Rabu, 11 Mei 2011

Aku dan “Semangat Homeschoolingku”

Dua bulan sudah anakku berhenti dari sekolah formal .Dua bulan kulalui bukan berarti aku benar-benar mantap mejalankan homeschooling pada anak-anakku. Karena jujur bahwa keinginan untuk menerapkan homeschooling awalnya datang dari suamiku.Terkadang terbersit keraguan dihatiku. Dalam hati aku bertanya pada diriku sendiri ,Apakah ini keputusan yang terbaik untuk anak-anakku. Mampukah aku menghantarkan anak-anakku menuju kebahagiaan.
Terkadang aku takut gagal, aku takut aku tidak mampu, dan akhirnya akan disalahkan anak-anakku jika mereka dewasa..Itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul pada masa masa awal homeschooling.dan jika aku sedang mengalami hal demikian, yang aku lakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Homescholing, dan salah satu blog yang begitu menginsprasiku adalah “Homeschooling-Indonesia.com. Tulisan-tulisan mbak Andini Rizky benar-benar memotivasi diriku. Alhamdulillah sedikit demi sedikit aku kembali bersemangat..sampai-sampai aku merasa kalau waktu kebersamaan dengan anak-anakku begitu kurang. Andai aku punya lebih banyak waktu mendampingi anak-anakku?..
Tag Technorati: {grup-tag}

Kamis, 05 Mei 2011

Menyelesaikan Konflik Pada Anak-anak

Banyak orang tua merasa stress melihat anak-anaknya yang bertengkar. Seorang ibu bahkan merasa gagal menjadi seorang orang tua  merasa gagal ketika  melihat anak-anaknya berkelahi. Terlintas dibenaknya untuk memisahkan anak-anaknya itu agar pertengkaran diantara mereka tidak terjadi. Bagaimana tidak stress, tidak ada makanan, anak-anak bertengkar, sudah ada makanan anak-anak berebut, tidak ada mainan mereka berantem, dibelikan mainan justru menjadi sebab pertengkaran.
Bagaimanakah sebaiknya mengatasai pertengkaran ? Banyak orang tua yang tidak tahan tatkala anak-anaknya berselisih. Namun dengarlah penuturan seorang ahli , “ Every conflict offers an opportunity to teach” Demikian disampaikan oleh Becky A Bayley Ph.D dalam bukunya “ Easy to Love, Difficult to Discipline”. Sehingga ketika konflik terjadi kita bisa berkata pada diri sendiri .” Inilah kesempatan kita memdidik dan membuat mereka belajar”.
Bayley mengatakan bahwa pada saat konflik terjadi, kita sebagai orang tua bisa memilih : menganggapnya sebagai peluang untuk mendidik anak atau kesempatan untuk menyalahkan dan menguhukum mereka. Jika orang tua men”cap” anaknya sebagai “anak nakal” hal itu akan menghancurkan kepercayaan diri mereka.
Bila kita dapat memanfaatkan momen bertengkar anak-anak sebagai peluang untuk mendidik mereka maka kita dapat meningkatkan kemampuan anak dalam banyak hal, diantaranya : memahami hak dan kewajiban, membedakan salah dan benar, memupuk rasa empati, menghargai orang lain, dan membangun kemampuan dalam memecahkan persoalan.Pada mulanya anak-anak tidak mengerti arti bertengkar, justru orangtualah yang memberi label bertengkar. Misalnya ketika anak berebut mainan, seringkali oreng tua berkata “ Sudahlan jangan bertengkar..!!
Dalam situasi seperti itu orang tua bisa dengan tenang mengatakan, “ Ada dua orang menginginkan mainan yang sama, bagaimana caranya ya ?'” Dengan pernyataan seperti itu anak diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya.
Pada dasarnya anak tidak menyukai terjadinya konflik. Namun ketidakmampuannya untuk mengelola emosi menyebabkan pertengkaran tak bisa dihindari. Banyak orang tua ingin masalah anak-anaknya cepat selesai dengan menyuruh salah seorang anaknya untuk mengalah atau meminta maaf . Hal tersebut sebenarnya kurang mendidik , karena mereka tidak diajak untuk mengurai permasalahan. permintaan maaf sebaiknya dilakukan oleh orang yang melakukan kesalahan dan dilakaukan atas kesadaran deri dalam diri anak. Oleh karena itu sangat penting kesabaran orang tua untuk berada pada situasi konflik, dan memberikan pengertian agar mereka mmenyelesaikan masalahnya hingga tuntas.
Hidup di dunia tidak akan terhindar dari masalah dan perselisihan. Ketrampilan menyelesaikan konflik akan menjadi bekal hidup yang berharga bagi masa depan anak-anak.
( sumber: Suara Hidayatullah, oktober 2009 )
Tag Technorati: {grup-tag},,

Sabtu, 30 April 2011

Homeschooling Tentang Berkreasi dengan Kain Flanel


Picture0014
Bermula dari acara jalan-jalan ke toko buku bareng abiku, nggak sengaja kami liat buku ketrampilan tentang “ Kreasi  Apik dari Kain Flanel”. Setelah kami baca  sedikiat,  kami rasa  buku ini lumayan cocok buat anak-anakku yang hobinya jahit-menjahit .Aku rasa buku ini memang pas banget deh… buat diparktekin sama anak-anak, selain bahan-bahannya mudah didapat dan kelihatannya hargnya juga lumayan terjangkau
.Mulailah acara gunting-menggunting,,jahit-menjahit,dan tempel-menempel dan yang nggak ketinggalan diselingi dengan pertengkaran-pertengkaran kecil, maklumlah..tiga anak lumayan ramai juga..Setelah liat-liat bukunya akhirnya anakku, Nabila ( 10th )  coba bikin dompet Hp, Fatih ( 7,5th )bikin tempat pensil, and Jauza ( 4,5 th )cuma gunting menggunting bentuk saja..
Namanya juga baru belajar, hasilnya memang belum begitu rapi, mungkin memang perlu proses untuk dikatakan sempurna. Dari ketiga anakku, yang bisa menyelesaikan cuma Nabila, itupun nggak begitu rapi. Fatih cuma menyelesaikan 50 % aja, hasilnyapun masih jauh dari sempurna, sedangkan Jauza berhasil menggunting bentuk bunga, daun, bintang .Yang penting bagiku adalah kebersamaan dan anak-anakku tetap belajar,  karena saat ini kami memang masih mencari-cari, sebenarnya apa sih keinginan anak kami, apa sih minat anak kami.
Tag Technorati: {grup-tag},,

Kamis, 28 April 2011

Melatih Kecerdasan Bahasa ( linguistik )

Secara umum, kecerdasan bahasa menggambarkan kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekpresikan gagasan. Anak yang mempunyai kecerdasan bahasa biasanya senang dengan membaca, menulis karangan, membuat puisi, membuat kata-kata mutiara, dan sebagainya.Mereka biasanya mempunyai daya ingat yang kuat terhadap istilah-istilah baru maupun hal-hal yang sifatnya detail. Selain itu mereka juga cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi.

Sebagai orang tua kita tentu ingin anak kita memiliki kecerdasan bahasa, dan tentunya kecerdasan tersebut bisa di bentuk, sebagaimana di akui oleh Howard Gardner. Howard menjelaskan bahwa potensi kecerdasan anak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. oleh karena itu kecerdasan yang dimiliki anak pada masa-masa awal pertumbuhannya sampai usia sekolah tidak bisa dibiarkan berkembang sendiri, tanpa di bantu oleh orang terdekatnya, khususnya orang tua. Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan orang tua untuk meningkatkan kecerdasan bahasa anak, antara lain sbb :
1. Orang tua harus memberikan stimulus untuk mempengaruhi kemampuan otak si anak yang pada akhirnya akan bermuara pada ketrampilan anak dalam mengolah kata-kata dan berbicara. Anak yang jarang bicara akan mengurangi kemampuan berbahasanya. Biasanya kelemahan berbahasa anak akan ketahuan setelah anak berusia sekitar 5-6 tahun, saat anak memasuki bangku sekolah. sebab saat itu anak di tuntut untuk bersosialisasi dengan kawan-kawan lain.
2. Mengajari anak mencintai buku. Caranya mengajak anak ke perpustakaan, toko buku, pemeran dan lain-lain. Doronglah anak-anak untuk membeli buku sendiri yang ia sukai. Setelah itu lakukan diskusi kecil untuk membahas isi buku yang telah ia beli. Dengan demikian selain kosa kata bertambah, lewat buku juga kemampuan kognitif anak akan terasah.
3. Meminta anak menceritakan pengalamannya, baik bercerita langsung maupun mengemukakan dalam buku harian
4. Meminta anak untuk membuat puisi, cerita dll.
5. Jika anak memang terlihat berbakat, jangan ragu untuk memasukkan anak ke dalam kegiatan yang sesuai bakatnya, seperti kelompok drama, belajar menulis dan lain-lain.

Sabtu, 23 April 2011

Menembus Keterbatasan

Seorang gadis kecil tak bisa melihat maupun mendengar . Baginya dunia begitu sunyi dan tanpa warna. Kedua indra yang sangat penting bagi kehidupan itu lenyap di usia balitanya oleh sebuah penyakit. Walaupun mulutnya mampu mengeluarkan suara tapi ia tak  mampu bicara . Isyarat yang ia gunakan seringkali tak memadai, sehingga orang sekitar sulit memahami keinginannya. Kegagalan mengkomunikasikan keinginannya sering kali ledakan kemarahan dan amukan.
Orang tuanya sangat sedih karena mereka tak dapat berbuat apa-apa karena rumah merekapun jauh dari sekolah tunna rungu dan tunanetra. Ahirnya seorang guru tiba membimbing dan menuntunnya. Awalnya tak mudah Suatu kali ia merasa kesulitan untuk mempelajari kata “water” . Ia lalu membanting bonekanya . Tak ada rasa menyesal, ia bahkan puas karena telah melampiaskan rasa tidak nyamannya.
Apa yang dilakukan sang guru ? Ia megajaknya jalan-jalan keluar menikmati cahaya matahari. Mereka menyusuru jalan setapak menuju sumur sebuah rumah. Gurunya meletakkan tangan di bawah saluran air. Saat ia merasakan sejuknya semburan air ia mengeja kata “water”..barulah ia mengetahui bahwa sesuatu yang sejuk dan mengalir ditangannya adalah “water:. Ia baru menyadari baha segala sesuatu mempunyai nama dan akan melahirkan gagasan. Ian merasa dunianya mulai bercahaya meski harus melalui perjuangan dan kerja keras untuk terus belajar dan terus belajar.
Dialah “ Hellen Keller”penyandang tunanetra dan tunarungu pertama yang meraih gelar sarjana. Selain bahasa Inggris, ia menguasai bahasa Jerman, Perancis dan Latin . Kata-kata mutiaranya tersebar dan hingga saat ini masih sering di kutip banyak orang. Ia juga pejuang yang menentang penjajahan dan peperangan hingga usia senja
Sang guru yang mengajar adalah “Anne Sulllivan “Menurut Heelen, “ Awalnya aku hanyalah butiran-butiran kemungkinan . gurukulah yang membuka dan mengembangkan kemungkinan itu. Saat ia datang segala yang kumiliki menghembuskan cinta dan kebahagiaan sehingga menjadi penuh makna. sejak saat itu ia tak pernah melewatkan peluang untuk menunjukkan keindahan dan segala hal ataupun berhenti berusaha. ..dalam pikiran , tindakan dan teladan untuk membuat hidupku idah dan berguna.”
Menurut Hellen setiap guru bisa membawa seorang anak ke ruang kelas, tetapi tidak semua guru bisa membuat muridnya belajar.
Kisah di atas memberikan gambaran , betapa pentingnya peran seorang “guru” bagi perkembangan jiwa maupun kemampuan akademis anaknya. Saat akan memasukkan anknya ke sekolah, seringkali orang tua hanya melihat hal-hal yang nampak di luar, seperti gedung dan sarana lainnya. Seorang ahli pendidikan mengatakan  “ Meski di gedung yang mewah, tanpa guru berkualitas, proses pendidikan berkualitas tidak akan berjalan, Namun dengan guru berkualitas, di bawah sebatang pohonpun proses pendidikan berkualitas akan berlangsung.(Suara Hidayatullah, Juli 2010 )

Selasa, 12 April 2011

Kecerdasan Majemuk ( Multiple Intellegences )

Menurut Howard Gardner, ada delapan macam kecerdasan yang biasa disebut Multiple Intellegence, atau kecerdasan Majemuk. Berikut ini penjelasan tentang kedelapan jenis kecerdasan tersebut
Kecerdasan Linguistik
Adalah kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa atau struktur bahasa, fonologi ( bunyi bahasa ) semantik ( makna bahasa ) dimensi pragmatik ( penggunaan praktis bahasa ). Penggunaan bahasa mencakup aspek retorika ( penggunaan bahasa untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan tindakan tertentu ), Mnemonik ( penggunaaan bahasa untuk mengingat informasi ), eksplanasi ( penggunaan bahasa untuk member informasi ), dan metabahasa ( penggunaan bahasa untuk membahas bahasa itu sendiri ). Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh pendongeng orator, politisi, pembawa acara, pembicara publik, penceramah, sastrawan, wartawan, editor, penulis scenario dan sebagainya.
Kecerdasan Matematis-Logis
Kemampuan menggunakan angka dengan baik, dan melakukan penalaran yang benar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap pola dan hubungan logis, pernyataan dan dalil, fungsi logis dan abstraksi-abstraksi lain. Proses yang digunakan dalam kecerdasan matematis logis antara lain  : klasifikasi, pengambilan kesimpulan , generalisasi, penghitungan, dan pengujian hipotesis. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh ahli matematika, insinyur, pekerja keuangan, ahli statistik, programmer, perencana dan sebagainya.
Kecerdasan Spasial
Adalah kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akuran dan mentransformasikan persepsi dunia spasial visual tersebut. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang dan hubungan antar unsur tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual dan spasial,. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh arsitek, decorator, seniman, inventor, designer, pelukis, fotografer, sutradara film, dan sebagainya.
Kecerdasan Kinestetis Jasmani
Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekpresikan ide dan perasaan dan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu. Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik, sepserti koordinasi keseimbangan , ketrampilan, kelenturan, dan ketepatan maupun kemampuan menerima rangsangan dan hal-hal yang berkaitan dengan sentuhan. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh mekanik, dokter bedah, atlet, actor, penari dan sebagainya.
Kecerdasan Musikal
Adalah kemampuan menangani bentuk-bentuk musical dengan cara mempersepsi, membedakan, menggubah, dan mengekpresikan. Kecerdasan ini meiputi kepekaan pada irama, pola titi nada, warna atau warni suati lagu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh pemain music, penyanyi, composer, penari dansebagainya.
Kecerdasan Interpersonal
Adalah kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati. Maksud, motivasi serta perasaan orang lain. Kecerdasan I I meliputi kepekaan pada ekspresi wajah, suara, gerak isyarat, kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal dan kemampuan menanggapi secara efektif tanda tersebut dengan tindakan pragmatis tertentu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh   politisi, marketer, pekerja social, psikolog, anak gaul, dan sebagainya.
Kecerdasan Intrapersonal
Adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri yang akurat ( kekuatan dan keterbatasan diri ); kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh penulis, spiritualis, psikolog, ilmuwan dan sebagainya.
Kecerdasan Naturalis 
Adalah kemampuan seorang anak untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam terbuka seperti cagar alam, gunung, pantai, dan hutan. Mereka cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, flora dan fauna, bahkan benda-benda di ruang angkasa. Saat dewasa mereka dapat menjadi pecinta alam, pecinta lingkungan, ahli geologi, ahli astronomi, penyayang binatang, dan aktivitas-aktivitas lain yang berhubungan dengan alam dan lingkungan. Kecerdasan  ini biasanya dimiliki oleh ahli biologi, peneliti dan sebagainya.
Dengan konsep Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk ), yang dikemukakan Howard Gardner ingin mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan, bahwa seolah-olah kecerdasan hanya terbatas pada hasil tes intelegensi yang sempit saja, atau hanya sekadar dilihat dari prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Pada dasarnya tidak ada anak yang bodoh, tiap anak mempunyai kemampuan dan  jenis kecerdasan yang berbeda. Tugas orang tua dan guru untuk menggali kecerdasan dan menggunakan metode yang tepat terhadap anak atau anak didiknya.



Kamis, 07 April 2011

Otak-atik Foto Pake “PHOTO SCAPE”


Sesuai motto Homeschooling, belajar apa aja, dimana aja, dan kapan aja, hari ini anak-anakku iseng iseng buka laptop. Walaupun nggak pernah sepi dari yang namanya rebutan , bertengkar ,berantem, tapi kali ini mereka keliatan kompak dan akur. Bahkan sesekali terdengar gelak tawa mereka bertiga. Aku penasaran juga, neh anak-anak lagi pada ngapain, keliatannya asik banget. Kirain lagi main game lucu, nggak tahunya lagi buka-buka foto di laptop. Tapi ada yang aneh dengan foto-foto keluarga kami..Ternyata dan di modif pake Photo Scape..
Alhasil, wajah abi yang tadinya mirip Baim Wong di sulap jadi Arie Untung..Nggak percaya..??? Neh dia gambarnya..






Menghargai “Jalan Fikiran Anak ”





Suatu hari , karena ribut di dalam kelas, murid-murid sebuah sekolah mendapat hukuman dari guru. Agar hukuman itu mendidik, sang guru menugaskan kepada muridnya untuk menjumlahkan angka dari 1 sampai 100. Ketika murid-murid lain sedang sibuk menghitung, tidak sampai satu menit seorang anak berjalan kearah guru dan menyerahkan hasil hitungannya.
Ternyata jawaban anak itu benar, yaitu ; 5050. Tentu saja sang guru heran, lalu bertanya bagaimana ia bisa menjumlah dengan secepat itu. Anak itu menjawab,” Mudah saja, 1 ditambah 100 sama dengan 101, 2 ditambah 99 sama dengan 101, 3 ditambah 98 samadengan 101. Ada 50 pasangan angka yang seperti itu. Saya kalikan 101 dengan 50, maka hasilnya 5050.
Anak tersebut kemudian tumbuh menjadi seorang yang sangat pandai dalam memecahkan persoalan matematika.
Dunia kemudian mengenalnya dengan Karl Friedich Gauss ( 1777-1855 ), ahli matematika dan ilmuwan dari Jerman. Ia banyak memberi sumbangan pikiran di bidang Analisis, Geometri, relatiitas dan energy atom.
Cara yang dilakukan Gauss dalam memecahkan soal matematika tentu saja bukan cara yang diajarkan oleh gurunya. Ia menemukan pemecahan matematika itu sendiri. Anak-anak dengan jalan fikirannya ternyata mampu menciptakan pemecahan soal yang sebelumnya tak terfikirkan oleh orang dewasa.
Barangkali muncul pertanyaan di benak kita, bagaimana mungkin anak kecil bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan orang dewasa. John Holt dalam bukunya “ How Children Fail “ memaparkan hasil pengamatannya sebagai seorang guru di AS selama bertahun-tahun terhadap anak didiknya. Dengan rinci John Holt memperlihatkan bagaimana anak-anak berfikir dan menciptakan jalannya sendiri dalam memecahkan berbagai persoalan.
Selama ini kadang anak dianggap bodoh atau salah karena cara menyelesaikan masalahnya berbeda dengan hasil pikiran orang dewasa. Tak jarang anak pulang dalam keadaan sedih karena hasil pekerjaanya , walaupun jawabannya benar dianggap salah karena  cara yang ditempuh anak tidak sama dengan yang diajarkan oleh guru.
Andaikan Gauss kecil kemudian disalahkan karena tidak menghitung urut sebagaimana biasanya, mungkin ia takkan digelari “Pangeran ahli Matematika”, Boleh jadi ia menjadi anak yang tidak “pede’ karena cara berfikirnya dipandang nyeleneh, dan menentang guru, dan ia tumbuh menjadi orang dewasa biasa yang tidak memberi kontribusi terhadap masyarakat dan dunia.
Anak-anak ibarat benih pohon, meskipun bagus dan berkualitas, ia tidak akan tumbuh sempurna jika ditanam di lahan yang tandus. Sejenius apapun Gauss jika tidak didukung oleh orang tua, guru dan lingkungannya, maka ia tidak akan menjadi orang yang hebat.
Untuk menjadi orang dewasa yang berkualitas, ia membutuhkan lingkungan yang mendukung, yaitu orang tua , guru dan lingkungan yang meghargai cara berfikirnya, yang membuat ia kreatif mengeluarkan ide, dan gagasannya.
Biarlah anak-anak pelajari sendiri diri dan dunia ini dengan cara pandang mereka sendiri.( Suara Hidayatullah, Januari 2010 )

Minggu, 03 April 2011

BELAJAR MENAKAR TINDAKAN

Ada saatnya diam merupakan kebaikan. kita berdiam diri karena memberi kesempatan untuk berfikir dan menyadari kekeliruannya.Kita diam bukan kaena tidak bertindak, tetapi justru diam itulah tindakan yang kita ambil agar anak dapat mengembangkan diriya.Tetapi ada kalanya diam justru tercela.Kita menahan diri dari bicara, padahal saat itu kita seharusnya angkat bicara  agar anak tidak terjatuh pada keburukan yang lebih besar.Diam pada saat seharusnya kita bicara merupakan tanda kelemahan, sebaliknya terlalu banyak meributkan anak merupakan pertanda ketidakmampuan kita menahan diri.

Ada saat kita harus tegas dan ada saat kita harus memberi kelonggaran pada anak.Ada hal-hal yang menghauruskan kita menunjukkan kemarahan pada anak, meskipun kita tidak sedang emosi, tetapi ada saatnya pula kita harus menahan diri meskipun emosi kita sedang meledak-ledak.Ini semua terkait dengan apa yang dilakukan anak sekaligus menimbang maslahat dan madharat dari setiap tindakan kita.Adapun terhadap tindakan yang muncul dari lemahnya kendali emosi, secara jujur kita perlu menyadari kekeliruan kita, mengakuinya sebgai kesalahan meski belum mampu mengungkapka secara terbuka terhadap anak, dan bersedia meminta maaf kepada anak atas salah dan keliru kita.
Harus Punya Kendali
Kembali pada soal kelonggaran. Anak yang dibesarkan dengan toleransi , memang akan belajar mengendalikan diri. Sebaliknya anak yang dibesarkan dengan kekerasan juga belajar menggunakan kekuatannya untuk mmaksakan keinginannya.Tetapi ada hal yang harus kita ingat, bahwa diluar apa yang kita lakukan, anak sedang berkembang.mereaka secara terus menerus belajar, termasuk belajar memegang kendali  sehingga orang tuapun bahkan bisa tak berdaya. Orang tua melakukan apapun yang diinginkan anak , meskipun tampaknya ia melakukan itu agar anaknya melakukan  apa yang diinginkan orang tua, misalnya ketika orangtua membelikan mainan, agar anak mau mandi.Kecenderungan anak memaksa orang tua menuruti kemauan orang tua sabagai imbalan atas kesediannya melakukan perintah orangtua , terutama mudah terjadi ketika orangtua memberlakukan cara pengasuhan yang tidak konsisten.Apalagi jika cara mengasuh antara kedua orangtua tidak selaras. Lebih parah lagi jika salah satu pihak cenderung lebih dominan dan mudah menyalahkan di depan anak. Artinya ada salah satu pihak yang sering disalahkan didepan anak sehingga otoritasnya sebagai orang tua melemah, dengan demikian perintahnya menjadi kurang efektif.Jika hal ini terjadi anak berusaha meningkatkan pengaruh dan daya paksanya sehingga orang tua benar-benar di bawah kendalinya. Tak ada jalan lain orang tua harus menghentikan situasi yang tidak sehat ini. Namun orang tua juga harus menyadari bahwa kebiasaan memaksakan keinginan tak timbul dengan tiba-tiba, namun karena anak belajar sedikit demi sedikit. Anak memiliki pengalaman panjang sehingga bisa memaksakan kehendak pada orangtuanya..
Sebaliknya anak yang tidak memiliki kendali atas diri dan lingkungannya karena terbiasa dipaksa oleh orang tua, akan berangsur menjadi pribadi yang tidak mandiri. Ia sulit mengambil keputusan, sekalipun hanya untuk mengambil pilihan dan perkara sederhana. Ia takut menghadapi resiko yang sangat kecil sekalipun. Ketakutan menghadapi resiko tersebut bukan hanya terjadi pada maasa kanak-kanak, namun bisa berlanjut sapai mereka dewasa. Serupa dengan takut menghadapi resiko adalah peragu. Ia sulit mengambil keputusan , bukan karena takut resiko, tetapi sulit memilih. Ini mudah terjadi pada anak yang dibesarkan dengan pemanjaan.Mereka serba dituruti, sehingga tidak memperoleh kesempatan belajar untuk menahan diri.Mereka juga sulit belajar berempati, merekapaun tidak ada kesempatan untuk belajar  menimbang, mengambil keputusan dan menentukan prioritas.. Boleh jadi sulit baginya untuk membedakan mana yang penting dan tidak,  karena ia miskin pengalaman untuk memilah antara keinginan dan kebutuhan.
Apa yang menyebabkan anak anak mengalami kesulitan dimasa dewasanya ? Bukan sulitnya kehidupan, bukan pula kecilnya pendapatan. Bisa jadi kekeliruan orang tua dalam mengasuh mereka. Bisa karena  berlebihan dalam membantu anak menghadapi masalah, bisa juga karena membiasakan anak hidup mudah sehingga anak kehilangan tantangan. Mereka sibuk mengurusi apa yang seharusnya diatasi sendiri oleh anak., sehingga anak kehilangan inisiatif produktif. Ini semua tidak ada hubungannnya dengan dengan kekayaan dan fasilitas hidup, Ini terkait dengan sikap kita sebagai orang tua , termasuk kemampuan menakar setiap tindakan. ( sumber  Suara Hidayatullah Edisi 09/XXIII/Jan 2011 )